The Beast Beauty

The Beast Beauty
BAB 43. Rahasia Yang Terungkap


__ADS_3

Setelah sekumpulan orang itu berlalu, Arumeey kembali melanjutkan perjalanannya. Arumeey sangat berharap orang orang tersebut tidak kembali ke atas bukit.


Sesampainya di kota, Arumeey membeli beberapa pakaian pria, dia hanya mengukur ngukur ukuran tubuh yang mulia raja dengan tingginya yang hanya sebahu yang mulia raja.


Dengan topengnya itu, Arumeey merasa sangat leluasa berada di tengah tengah keramaian, meskipun beberapa orang memandangnya dengan ekspresi penuh kengerian.


Arumeey menguping beberapa orang yang berbincang bincang sambil memilih milih pakaian.


"Aku ingin mengenakan pakaian yang bagus untuk pesta penobatan pangeran Zhumma sebagai raja ke sepuluh, tolong bantu aku memilih pakaian" ucap salah seorang pria


"Ya, tentu saja kita harus tampil sempurna. Raja yang diinginkan oleh semua orang akan segera memimpin Hwangguna" jawab pria lainnya.


"Maaf tuan, apakah benar yang baru saja kau katakan?" tanya Arumeey tidak bisa menahan rasa penasarannya.


"Tentu saja nona. Kau datang dari mana? Hingga tidak tahu berita besar itu?" jawab pria itu.


"A-aku tinggal di hutan. Jadi aku tidak tahu berita berita baru. Boleh aku tahu kapan hari penobatan itu?" tanya Arumeey.


"Penobatannya akan dilaksanakan minggu depan nona. Kesehatan ibu suri juga memburuk setelah kematian raja Shaka" jawab pria itu


"Begitu? Terimakasih informasinya tuan" jawab Arumeey seraya membayar pakaian yang ia beli.


Setelah mengambil bungkusannya, Arumeey keluar dari toko itu dan pergi ke perguruan tinggi Hwangguna. Setibanya di sana, Arumeey langsung meminta izin untuk menemui guru besar Hongdang.


Guru besar Hongdang tampak heran dengan tamu yang datang menemuinya hari ini. Dia merasa tidak pernah bertemu dengan orang itu.


"Guru" ucap Arumeey.


"Duduklah nona" perintah guru besar Hongdang.


Arumeey duduk di kursi tamu, sementara guru besar menuangkan secangkir teh penambah stamina.


"Guru, ini aku, Arumeey!" ucap Arumeey yang membuat guru besar Hongdang terkejut dan menghentikan kegiatannya.

__ADS_1


"Apa yang----" guru besar Hongdang menghentikan bibirnya tatkala melihat Arumeey melepaskan topengnya.


"Arumeey! Apa yang terjadi?" tanya guru besar Hongdang khawatir


"Bagaimana bisa kau melakukan itu pada raja Shaka?" lanjutnya penuh keingintahuan.


"Guru, aku difitnah. Aku juga belum bisa memastikan siapa orang orang yang telah merencanakan itu. Tapi aku benar benar tidak melakukan apapun terhadap raja Shaka. Percayalah padaku guru!" ucap Arumeey.


"Aku percaya padamu Arumeey. Bagaimana keadaanmu? Apakah kau punya tempat tinggal?" tanya guru besar Hongdang


"Jangan menghawatirkan aku guru. Aku baik baik saja. Hanya saja, aku harus tampil seperti ini setiap hari." jawab Arumeey.


"Arumeey aku sangat menghawatirkan mu. Orang orang dari istana terus menanyai keberadaanmu padaku. Berhati hatilah Arumeey!" guru besar Hongdang memegangi tangan Arumeey.


"Guru, sebenarnya, ada yang sangat ingin kutanyakan padamu'' ucap Arumeey.


"Tanyakan saja Arumeey"


"Aku tidak mengerti ini tentang apa Arumeey!" guru besar Hongdang sebenarnya mulai tahu arah pertanyaan Arumeey.


"Guru. Aku menemukan pohon kwasoh di belakang jurang rumah nenek. Tanaman itu tidak tumbuh dengan sendirinya di sana guru. Katakanlah padaku, apa yang mungkin disembunyikan nenek dariku?" Arumeey mencoba mengorek informasi.


Guru besar Hongdang bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah jendela, dia menatap lurus ke arah pepohonan yang bergoyang di luar.


Pandangannya tidak fokus, dia menarik nafas panjang dan melepaskannya kembali.


"Bukan hanya darimu. Dia menutupinya dari semua orang bahkan ayahmu!" ucap guru besar Hongdang.


Arumeey semakin berdebar ketika mendengar jawaban guru besar Hongdang, dia benar benar tidak tahu, rahasia apa yang disimpan rapi oleh neneknya bahkan hingga ajal menjemputnya.


"Maepong adalah putri dari jenderal pertahanan kerajaan Sasamarata, dia dibesarkan dengan sangat keras, di usianya yang masih belasan tahun, dia sudah pernah membunuh musuh musuh ayahnya"


Arummey terbelalak mendengar penuturan guru besar Hongdang. Dia benar benar tidak menyangka bahwa ia memiliki garis hubungan dengan kerajaan Sasamarata, kerajaan yang telah ratusan tahun bersitegang dengan Hwangguna.

__ADS_1


"Saat usianya memasuki angka enam belas, Maepong diperintahkan untuk menjadi mata mata di istana Hwangguna, ia dipaksa untuk berpura pura menjadi pelayan istana. Di situlah pertemuan pertamaku dengannya. Setelah dua tahun berada di istana, hal yang tidak terduga terjadi pada dirinya dan putra mahkota"


Arumeey menyimak dengan seksama setiap kata yang keluar dari mulut guru besar Hongdang.


"Mereka saling jatuh cinta dan berhubungan secara diam diam. Namun semua orang akhirnya dapat mencium aroma yang disembunyikan oleh kedua insan itu. Hubungan itu tentu saja sangat ditentang. Hubungan mereka juga diketahui oleh kerajaan Sasamarata. Mereka menganggap Maepong pengkhianat dan tidak berguna lagi."


"Raja Sasamarata memerintahkan orangnya untuk memburu dan membunuh Maepong. Setelah itu, orang orang di Hwangguna juga mengetahui identitas Maepong. Sehingga sudah tidak ada jalan baginya untuk kabur. Namun cinta putra mahkota yang sangat tulus tidak berubah sedikitpun. Ia membawa pergi Maepong dan menyembunyikannya"


Arumeey tidak kuasa menahan air matanya, mendengar kisah hidup nenek Maepong yang ternyata juga sangat tidak mudah.


"Bertahun tahun Maepong tidak keluar dari tempat persembunyiannya hingga orang orang lupa padanya, namun hingga putra mahkota menduduki tahtanya, dia tetap masih sangat mencintai Maepong. Disaat dia harus menikah, dia memutuskan untuk memberikan benih bunga kwasoh kepada Maepong, agar dia bisa hidup bebas tanpa mengharapkannya lagi"


Guru besar Hongdang mendekati Arumeey.


"Arumeey, itulah sebabnya nenek mu sangat khawatir jika kau dekat dengan orang orang dari istana. Hal yang dialaminya dan juga orang tuamu sungguh meninggalkan luka di hatinya" ucap guru besar Hongdang.


"Aku mengerti sekarang guru" jawab Arumeey.


"Apapun yang kau lakukan, berhati hatilah Arumeey"


"Baik guru. Hanya itu yang ingin aku ketahui guru."


Arumeey memasang kembali topeng di wajahnya lalu bangkit meninggalkan ruangan guru besar Hongdang. Wajah nenek Maepong kembali terngiang di ingatannya. Arumeey tidak percaya di balik wajah teguh neneknya ternyata ia menyimpan begitu banyak luka.


Arumeey terus berjalan melewati pasar dengan pikiran melamun. Dia tidak memperhatikan langkahnya.


"Bugh" Arumeey terkejut saat tubuhnya bertubrukan dengan seseorang.


"Kau tidak apa apa nona?" sebuah suara yang tidak asing di telinga Arumeey. Arumeey segera menatap pria yang ditabraknya itu, yang tak lain adalah pangeran Zhumma, mantan kekasihnya. Arumeey mematung beberapa detik, dia hanya menatap kosong wajah pria yang ada di depannya itu.


Dulu dia begitu mencintai pria itu, namun kini rasa itu berubah menjadi rasa sedih dan benci. Air matanya tiba tiba menitik, tatkala dia mengingat bahwa di tempat itu dia pernah memeluknya, pernah sangat merindukan pria itu.


"Nona. Kau terluka?" tanya pangeran Zhumma yang melihat air mata menitik di pipi Arumeey.

__ADS_1


__ADS_2