
"Arumeey, Arumeey"
Seorang gadis penghuni asrama anggrek putih tergopoh gopoh berlari ke dalam asrama.
"Kenapa kau berlari dan berteriak seperti itu Nonoka, Kau seperti orang kesurupan yang menakuti seisi asrama" jawab Arumeey.
"Lihat lah, Aku membawa ini untukmu!" jawabnya ngos ngosan
"Apa ini? Sebuah surat?" jawab Arumeey sambil mengambil surat itu.
Surat itu disampul dengan kertas berwarna kuning emas.
"Siapa yang memberikan ini padamu?" tanya Arumeey.
"Kepala asrama Byung yang memberikan ini untuk diserahkan padamu!" jawab gadis itu.
Kanayan dan beberapa orang gadis yang penasaran datang mendekati mereka.
"Surat ini?, surat ini datang dari istana, hanya orang dari dalam istana yang mengirim surat bersampul kertas berwarna emas!" sahut gadis lain yang ingin tahu.
"Baiklah, terimakasih kau telah mengantarkan ini padaku" jawab Arumeey sambil berjalan menuju tempat tidurnya.
Beberapa orang teman, mengekor di belakang nya.
"Hey, ayolah, ini bersifat pribadi, kalian tidak boleh begitu" ucap Arumeey yang menyadari bahwa dia sedang diekori.
"Ayolah Arumeey, kami sangat ingin tahu, siapa yang mengirimkan surat ini pada mu" ucap seorang gadis.
Disambut anggukan gadis gadis yang lain.
"Apakah putra mahkota?, atau mungkin pangeran?, terakhir kali...., kami melihat pangeran menemui mu di taman. Apa kau benar benar memiliki hubungan dengan pangeran?" tanya Kanayan penuh rasa ingin tahu.
"Benarkah itu?? Kau beruntung sekali Arumeey, Aku iri sekali padamu" sahut gadis yang lainnya.
"Kalian!!!! Sudahlah, ini tidak seperti yang kalian fikirkan. Aku dan pangeran tidak mungkin memiliki hubungan!" bantah Arumeey yang ingin segera dibebaskan oleh teman temannya.
"Benar, mana mungkin pangeran memilih wanita dari kalangan bawah" jawab seorang gadis yang dipenuhi rasa iri.
"Huwoiriyah, jaga ucapan mu, kau ini kasar sekali !!!" ucap Kanayan geram dengan ucapan Huwoiriyah.
"Apa yang dikatakannya memang benar kanayan, Aku memang dari kalangan bawah" jawab Arumeey seraya keluar meninggalkan teman temannya.
........
Arumeey memilih pergi ke bawah sebuah pohon besar yang ada di samping asrama anggrek putih.
Sebenarnya dia juga sangat penasaran siapa yang telah mengirim surat ini padanya.
Cuaca di luar asrama sangat dingin, musim gugur telah berada pada puncaknya, angin bertiup menjatuhkan satu persatu daun pohon kayee. Arumeey menarik benang berwarna emas yang mengikat gulungan surat tersebut.
__ADS_1
Arumeey segera membaca isi surat tersebut.
~×~×~
Arumeey....
Aku ingin mengajakmu ke gunung bareesan, Aku ingin menghabiskan waktuku bersamamu melihat keindahan daun pohon maliwa yang berguguran,
Jika kau bersedia, temui aku pagi buta besok hari di perbatasan kota taraka.
Maaf aku tidak bisa mengajakmu secara langsung, karena ada urusan yang harus aku selesaikan hari ini agar besok aku bisa pergi ke gunung bareesan bersamamu.
Pangeran zhumma
~×~×~
Daun pohon kayee berjatuhan menimpa rambut dan surat yang dipegang Arumeey.
Arumeey tertegun setelah membaca surat yang ternyata dikirimkan oleh pangeran ke dua Hwangguna.
Ada rasa bahagia yang mengalir menghangatkan tubuhnya yang di selimuti oleh hawa dingin musim gugur.
Selama ini Arumeey belum pernah berhubungan dengan siapapun, bahkan dia tidak pernah menyukai siapapun.
Dia merasa apa yang terjadi hari ini sangat lah aneh.
Dia kembali mengingat peringatan dari adik sepupu pangeran ke dua, yang tak lain adalah nona Onnara, dan juga beberapa kata kata hinaan dari beberapa orang temannya. Namun Arumeey bukan lah wanita lemah yang akan mundur hanya dengan sebuah ancaman.
Bagi dirinya, Memperjuangkan apa yang pantas untuk dirinya adalah suatu keharusan. Selama ini Arumeey merasa tidak ada yang salah pada dirinya. Orang tuanya juga orang terhormat yang masih disembunyikan identitasnya sampai saat ini.
Arumeey kembali menggulung surat itu dan memasukkan ke sakunya.
.........
Sore harinya Arumeey pergi ke pasar yang ada di kota taraka.
Dia berjalan seorang diri menyusuri gang demi gang. Dia ingin membeli beberapa buah buku dan juga bahan praktek ilmu obat asam lambung.
Di tengah perjalanan menuju toko buku, Arumeey melihat sebuah baju berwarna merah muda yang dikombinasikan dengan warna hijau toska.
"Indah sekali" gumamnya.
Dia memasuki toko tersebut dan membeli baju yg sangat cantik itu.
Dia akan memakainya besok, pikirnya.
Arumeey melanjutkan perjalanan nya untuk membeli beberapa buku, saat dirinya melewati sebuah rumah minuman, dia melihat ada kerumunan di depan rumah minuman itu, ada beberapa wanita tertawa terbahak bahak sambil sesekali melontarkan rayuan maut terhadap seorang pria yang ada di tengah tengah mereka.
Di samping mereka ada beberapa pria yang tampak memakai seragam pengawal istana.
__ADS_1
Arumeey mendengar beberapa wanita memanggil laki laki tersebut dengan sebutan Putra mahkota. Beberapa detik kemudian wajah pria itu terlihat jelas oleh Arumeey, wajah yang sangat tampan. Benar benar tampan dan gagah.
"Menjijikkan" gumam Arumeey.
Arumeey berjalan melewati kerumunan itu.
"Dasar pria kotor, orang sepertimu tidak pantas menjadi penerus kerajaan" gerutu Arumeey dalam hatinya.
............
!
Keesokan harinya di asrama anggrek putih.
Pagi pagi sekali Arumeey sudah terbangun, dia segera membersihkan dirinya. Dia mengambil baju yang kemarin ia beli dan mengenakan nya. Arumeey terlihat sangat anggun, warna baju itu sangat sesuai dengan kulitnya yang bersih.
Arumeey melangkah keluar sambil berusaha agar tidak bersuara.
"Kau mau kemana?" sebuah suara mengejutkan Arumeey.
Arumeey menoleh, ternyata Kanayan sudah terbangun
"A-ku akan pergi mengunjungi nenekku" jawab Arumeey terkejut.
"Kau akan pergi sepagi ini?" jawab Kanayan curiga
"Ssst..... Iya. Aku pergi dulu, sampai jumpa nanti" jawab Arumeey sambil cepat cepat meninggalkan kanayan yang terus menatapnya heran.
Arumeey mengendap ngendap mencari tahu apakah nyonya kepala asrama ada di tempatnya, setelah memastikan semua aman, Arumeey segera berjalan meninggalkan asrama.
Pagi itu langit masih sedikit gelap, Arumeey merasakan dingin yang merayap di wajahnya.
Arumeey berjalan pelan melewati pintu gerbang dan seorang penjaga yang masih menguap di tempatnya. Dia langsung pergi tanpa menoleh pada penjaga yang menyapanya.
Arumeey berjalan cepat membelah lautan orang yang tengah riuh memadati pasar kota taraka. Perbatasan kota taraka tidak seberapa jauh dari sebelah timur istana.
Arumeey berhenti sejenak ketika dia berada di depan rumah tua yang dulu pernah dipenuhi oleh kebahagian saat ibu dan ayahnya masih hidup. Dia menelan pahit pahit kenangan indah itu dan meneruskan perjalanannya.
Sesampainya di perbatasan kota, Arumeey tidak melihat satu orangpun ada di sana, Arumeey berfikir apakah dia sudah terlambat.
"Apakah pangeran sudah pergi?" tanya Arumeey dalam hatinya.
Ada sedikit gurat kekecewaan yang tergambar di wajah cantiknya.
Arumeey berjalan pelan mengamati tempat itu. tidak ada tanda tanda kehadiran pangeran ke dua.
Arumeey tidak ingin berpikiran buruk, dia memilih duduk dan menunggu kedatangan pangeran.
tbc.....
__ADS_1