The Beast Beauty

The Beast Beauty
BAB 21 Ada Apa Denganmu?


__ADS_3

Pangeran ke dua berjalan melewati Arumeey seakan ia tidak ada di sana.


"Pangeran" panggil Arumeey.


Pangeran berhenti tanpa melihat Arumeey.


"Ada apa Nona?" tanya seorang pelayan yang datang membawa perlengkapan pangeran ke dua.


"Aku ingin berbicara sebentar dengan pangeran" ucap Arumeey.


Pelayan itu mendekati pangeran.


"Katakan padanya aku tidak punya waktu" ucap Pangeran yang tentu saja terdengar oleh Arumeey.


Kemudian ia segera berlalu dari hadapan Arumeey. Arumeey sangat terkejut dengan sikap yang ditunjukkan oleh pangeran kedua. Dia berdiri mematung menatapi punggung Kekasih nya menjauh dari tempat itu.


Salju berjatuhan menutupi rambutnya yang tergerai panjang.


Arumeey masih terkejut dengan apa yang baru saja ia lihat. Pangeran ke dua terasa menjadi orang asing hanya dalam sekejap.


.................


Malam harinya. Arumeey duduk termenung memeluk lututnya.


"Ada apa denganmu?" batin Arumeey.


Air mata nya mengiringi kegundahan hatinya. Arumeey ingin bertemu dengan Pangeran dan menanyakan apa sebenarnya yang terjadi.


"Arumeey. Ada apa denganmu?. Seharian kau hanya termenung di tempat tidur mu?" tanya Kanayan.


Arumeey mengusap matanya namun tidak menoleh pada Kanayan.


"Aku baik baik saja Kanayan. Aku hanya sedikit lemas" jawab Arumeey singkat.


"Kau ini. Jangan menutupi jika ada masalah"


"Aku baik baik saja"


"Kau tahu Arumeey. Hari ini para petinggi istana sedang mengadakan rapat umum?"


"Rapat umum? Apakah itu mengenai kesehatan raja?" tanya Arumeey.


"Ya. Para petinggi meminta raja segera menobatkan putra mahkota sebagai raja ke sembilan. Namun beberapa pejabat lainnya menilai pangeran ke dua lebih baik dibandingkan dengan putra mahkota''


"Pangeran ke dua. Bagaimana reaksi pangeran ke dua?" tanya Arumeey penasaran.


"Tentu saja pangeran ke dua menolaknya. Dia bukan orang yang serakah" jawab Kanayan memuji pangeran ke dua.


Arumeey terdiam.


..............

__ADS_1


Di istana.


Suara gaduh para petinggi dan beberapa pejabat istana lainnya terdengar hingga ke taman bunga kwasoh.


Raja yang sudah sangat lemah seakan tidak ada harganya lagi.


"CUKUP" teriak kasim Dang. Kasim yang paling setia kepada raja.


"Keputusan raja tidak dapat di ganggu gugat. Penobatan Putra mahkota sebagai raja ke sembilan akan di laksanakan pada pertengahan musim semi"


Para pejabat istana mulai riuh berbisik bisik. Namun kali ini tidak ada yang menentang.


Kepala tabib istana hanya terdiam di tempat duduknya. Dia mengepalkan tangannya dengan wajah tetap menampilkan ekspresi datar.


Setelah rapat umum mendapatkan hasilnya. Orang orang mulai meninggalkan ruangan pertemuan itu. Hanya kepala tabib istana yang masih duduk dengan wajah kecewa bercampur kesal.


...................


Musim dingin mulai meninggalkan kerajaan Hwangguna. Pohon pohon mulai menampakkan pucuk pucuk kecil dedaunan. Arumeey yang cantik kian bersinar di usianya yang ke sembilan belas tahun.


Hari ini adalah hari ulang tahunnya. Sejak kejadian itu Arumeey belum pernah sekalipun bertemu dengan Pangeran ke dua. Kerinduan dan kesepian mulai memuncak di hatinya. Dia mengingat kembali bagaiman tahun lalu menjadi hari ulang tahun terindah dalam hidupnya.


Namun hari ini dia merasa sangat kesepian. Kanayan dan beberapa orang temannya mengucapkan selamat kepada Arumeey. Namun kesedihannya semakin menjadi jadi. Dia sangat rindu dengan kekasih hatinya.


...................


Hari ini Putra Mahkota mengikuti ujian kemandirian dan kebijaksanaan. Itu adalah ujian terakhir untuk keturunan raja dan para bangsawan.


Ketika melewati taman utama perguruan tinggi Hwangguna, para murid wanita dibuat histeris dengan ketampanan Putra mahkota. Semua berlarian mencari perhatian Putra mahkota.


Setelah pelajaran selesai Arumeey pergi menemui guru besar Hongdang. Dia meminta izin untuk menemui Nenek Maepong.


Arumeey menunggangi kudanya menunju rumah di atas bukit. Rumput sinaga masih belum berbunga. Hanya hamparan berwarna hijau yang menyelimuti bumi.


Sesampainya di depan rumah. Arumeey mengetuk pintu yang tertutup. Tidak ada jawaban dari dalam. Arumeey mencoba membuka pintu. Namun pintu itu terkunci.


"Nenek... Nenek.. Ini aku" panggil Arumeey lagi.


Arumeey berjalan mengitari rumah tua itu. Sekeliling rumah terlihat penuh dengan rumput.


Arumeey mencoba masuk dari dapur. Namun pintu itu juga terkunci.


"Nenek.... Nenek" panggilnya lagi.


Arumeey mulai gelisah. Nenek Maepong tidak mungkin pergi. Karena kuda banuna ada di kandangnya, pikir Arumeey.


"Nenek. Ini aku. " teriaknya lagi.


Krieeett....


Pintu tua itu terbuka perlahan. Seorang wanita tua muncul di balik pintu. Nenek Maepong terlihat sangat pucat.

__ADS_1


"Nenek." Arumeey menghambur memeluk Neneknya.


"Kenapa tidak menjawab. Aku sangat khawatir." ucap Arumeey.


"Nenek sedang tidak sehat Arumeey" ucap nenek Maepong lirih.


"Nenek. Kau terlihat sangat pucat. Aku akan memeriksa mu" ucap Arumeey seraya melangkah masuk.


Arumeey dan nenek maepong duduk di kursi panjang ruang tamu.


"Aku tidak apa apa Arumeey. Aku hanya lemas karena kelelahan. Bagaimana kabar mu?" tanya Nenek Maepong.


"Aku baik baik saja nek. Beberapa hari lagi aku akan mengikuti ujian akhir. Aku akan menjadi seorang tabib nek" ucap Arumeey dengan sebuah senyum yang sudah lama tidak terlihat di bibirnya.


"Syukurlah. Kau harus giat belajar Arumeey. Kau harus menjadi seorang tabib yang bisa menolong semua orang" ucap nenek Maepong sambil mengelus tangan Arumeey.


...............


Malam harinya Arumeey tertidur lelap karena kelelahan berkuda.


"Uhuk uhuk bhuahak"


Tiba tiba Arumeey terjaga saat mendengar sura batuk dari kamar nenek Maepong. Arumeey berlari menuju kamar sang nenek.


Nenek Maepong terduduk lemas di samping tempat tidur nya.


"Nenek. Minumlah" Arumeey meminum kan segelas air pada neneknya.


"Nenek. Sudah berapa lama nenek sakit begini"


"Entah lah Arumeey. Kesehatan nenek kian menurun. Ini mungkin karena usia nenek sudah sangat tua"


"Nenek. Aku akan berada di sini untuk menjaga nenek"


"Tidak Arumeey. Kau harus kembali ke taraka besok. Kau harus belajar untu ujian terakhir mu!" perintah nenek Maepong pada cucunya.


"Nenek. Aku tidak bisa meninggalkan mu seperti ini" ucap Arumeey.


"Aku akan sangat marah dan bertambah sakit jika kau melawanku Arumeey. Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku. Aku baik baik saja"


Arumeey hanya terdiam tidak tahu harus menjawab apa. Ia membantu nenek maepong tidur kembali di kasurnya.


................


Keesokan harinya.


Arumeey menyiapkan sarapan dan beberapa obat untuk nenek Maepong.


"Nenek. Kau harus makan dengan baik dan jangan lupa untuk minum obat. Aku akan mengambil darah mu untuk di teliti di ruang racik"


"Jangan terlalu memikirkan kan ku Arumeey. Kau harus keluar dari perguruan tinggi Hwangguna sebagi seorang tabib. Berjanjilah padaku"

__ADS_1


"Aku berjanji nenek"


Ada kesedihan di hati ke dua insan itu. Arumeey sangat menyayangi neneknya. Begitu juga nenek Maepong. Dia seakan sadar bahwa dia akan segera meninggalkan cucunya.


__ADS_2