
Pagi pagi sekali Arumeey sudah bersiap siap. Dia mengambil dua botol kecil yang ditinggalkan oleh orang tuanya, lalu memasukkannya ke dalam sakunya.
"Kau mau kemana Arumeey. Bukankah pagi ini tidak ada pelajaran untuk kita" ucap Kanayan yang melihat Arumeey hendak meninggalkan asrama anggrek putih.
"Buku ku tertinggal di ruang racik. Aku harus segera mengambil nya sebelum kelas sebelah menggunakan ruang itu" jawab Arumeey spontan.
"Aku akan menemani----"
"Tidak... Tidak usah kanayan, kau belum bersiap. Aku takut jika menunggumu bersiap, murid kelas lain sudah mulai belajar" jawab Arumeey buru buru.
"Baiklah. Kau terlihat sangat buru buru" ucap kanayan menyipitkan matanya.
Arumeey segera meninggalkan asrama anggrek putih dan berjalan secepatnya menuju ruang racik.
Sesampainya di ruang racik, Arumeey mencoba membuka pintu, namun pintu ruangan itu masih terkunci.
Arumeey menghela nafas panjang.
"Kau ingin masuk ke dalam?"
Arumeey terkejut dan menoleh ke belakang. Guru Ang mendekat. Dia memasukkan kunci ke lubangnya dan membukakan pintu.
Pintu besar itu terbuka secara perlahan.
"Boleh aku masuk?" tanya Arumeey ragu ragu
"Tentu saja boleh. Masih ada satu jam sebelum ruangan ini di pakai oleh kelas penyakit kulit" jawab guru Ang dengan sebuah senyuman.
"Terimakasih guru'' Arumeey menganggukkan kepalanya dan segera masuk ke dalam.
Arumeey mencari cari alat itu dengan konsentrasi tingkat awan.
Guru Ang yang memperhatikan gelagat Arumeey datang mendekatinya.
"Apa ada yang ingin kau teliti Nona?" tanya guru Ang.
"A--iya Guru. Ada ramuan yang ingin Aku teliti kandungannya" jawab Arumeey tidak menoleh pada guru Ang.
"Mungkin kau butuh alat ini" ucap guru Ang sambil mengangkat alat yang dibutuhkan oleh Arumeey.
Mata Arumeey berbinar ketika melihat alat itu.
"Kau benar Guru. Aku membutuhkan ini'' jawab Arumeey.
Arumeey berjalan mendekat dan mengambil alat itu.
"Boleh aku membantumu?" pinta guru Ang
__ADS_1
Arumeey terdiam sebentar sebelum akhirnya memberi jawaban.
"Tentu saja guru. Aku juga belum sepenuhnya bisa menggunakan alat ini" ucap Arumeey pelan.
Arumeey mengeluarkan botol kaca yang berisi cairan berwarna ungu. Dia meneteskan nya di atas kaca yang dilapisi dengan lapisan batu permata. Kemudian guru Ang mengarahkan benda yang terlihat seperti kacamata besar yang tertempel pada batang titanium ke arah cairan itu. Dia memutar pegangan yang menempel pada gagang alat itu secara perlahan.
"Cairan ini terbentuk oleh enam bahan yang di campur dengan sempurna" ucapnya pada Arumeey sambil mempersilakan Arumeey untuk melihat.
Arumeey mendekat dan mengamati secara seksama.
Dia mengamati kristal kristal yang terbentuk pada cairan itu. Ada enam kristal yang berbeda.
"Aku hanya bisa mengindentifikasi empat kristal. Dua kristal lagi belum pernah ku lihat" ucap guru Ang.
"Kristal won terbentuk dari larutan garam hitam. Kristal qei terbentuk dari cairan getah pohon kayee. Kristal foi terbentuk dari keringat kerbau hitam. Kristal xin terbentuk dari minyak bunga sinaga" ucap Arumeey.
Guru Ang sangat kagum dengan gadis muda berbakat yang ada dihadapannya itu.
Arumeey masih mengamati kristal kristal itu dengan penuh fokus.
"Kristal ke lima adalah kristal jing. Kristal ini terbentuk dari larutan bunga kwasoh" ucap Arumeey dengan wajah serius.
"Wah. Kau benar benar membuatku kagum. Pantas saja kau mampu melewati ujian pengobatan luka secara instan." ucap Guru Ang dengan mata yang berbinar.
"Terimakasih guru. Namun kristal terakhir, aku belum pernah melihatnya di buku mana pun" ucap Arumeey.
Arumeey menggambar bentuk kristal itu pada sebuah buku catatan. Kemudian ia memasukkan botol itu ke dalam sakunya.
"Baiklah Arumeey. Mungkin kau bisa kembali lagi nanti malam" ucap guru Ang berharap bisa menghabiskan waktu lebih lama lagi bersama Arumeey.
"Terimakasih guru." ucap Arumeey sambil bangkit dari tempat duduknya.
Arumeey meninggalkan ruang racik dan kembali ke kamarnya.
..................
Di kediaman kepala tabib istana.
"Bagaimana?. Apakah kau berhasil menjalankan perintah ku?" tanya Kepala tabib istana pada seorang laki laki yang memakai topi hitam hampir menutupi seluruh wajahnya.
Laki laki itu menganggukkan kepalanya.
"Sudah nyonya. Anda hanya perlu menunggu hasilnya. Aku melakukan sesuai perintah anda." jawab laki laki itu.
"Ambil ini" Kepala tabib istana memberikan sekantung uang koin kepada laki laki itu.
"Sisanya Akan kuberikan setelah Aku mendapatkan hasil yang ku inginkan" lanjut Kepala tabib istana.
__ADS_1
"Baik nyonya" jawab pria itu sambil membungkuk.
Pria itu keluar dari kediaman Kepala tabib istana. Di ujung lorong dia berpapasan dengan Pangeran ke dua Hwangguna.
Pangeran ke dua melihat laki laki asing itu sekilas. Laki laki itu membungkukkan badannya memberi hormat. Kemudian pergi meninggalkan istana.
Pangeran ke dua tiba di depan ruang tamu Kepala tabib istana.
"Selamat datang yang mulia. Silakan duduk. Saya akan memanggil Nyonya Kepala" ucap dayang Chucha kepada pangeran.
Dayang Chucha menemui kepala tabib istana yang baru saja masuk ke dalam kamarnya.
"Nyonya" panggil dayang Chucha.
"Ada apa? Aku sangat lelah dan ingin beristirahat" jawab Kepala tabib istana kesal.
"Maaf nyonya. Pangeran ke dua menunggu anda di ruang tamu"
"Pangeran ke dua?" tanya nyonya Kepala tabib istana dengan mata berbinar.
Dia memakai kembali pakaian luar yang baru saja ia buka.
Nyonya kepala tabib istana menemui Pangeran ke dua dengan suka cita.
"Pangeran, Anda datang" ucapnya begitu sampai di ruang tamu.
"Bibi, maaf mengganggu istirahat anda" ucap pangeran dengan sopan.
"Aku sangat senang anda datang menemui ku. Apa ada yang ingin anda bicarakan?" ucapnya dengan senyuman yang jarang ia perlihatkan.
Dayang Chucha masuk dengan membawakan teh. Dia meletakkan di atas meja kecil yang ada di hadapan Kepala tabib istana dan pangeran ke dua.
''Silakan minum teh anda yang mulia" ucap Kepala tabib istana seraya menyeruput teh miliknya.
"Bibi. Apa kau tidak curiga dengan penyakit langka yang tersebar" tanya Pangeran ke dua.
Nyonya Kepala tabib istana seketika menurunkan gelasnya.
"Apa maksud anda yang mulia?" tanyanya.
"Apakah bibi tidak merasa bahwa penyakit langka itu ada yang menciptakan dan menyebarkannya?" tanya Pangeran lagi.
"Aku tidak mengerti yang Mulia. Kenapa ada orang yang ingin menciptakan penyakit" jawab Kepala tabib istana seraya kembali mengambil cangkir teh nya.
"Apakah bibi tidak mencurigai orang orang yang bekerja di klinik istana?" lanjut Pangeran.
"Kecurigaan anda tidak berdasar yang mulia. Aku sudah bertahun tahun bekerja di klinik istana. Tidak ada satupun pekerja di sana yang terlihat mencurigakan ataupun berniat jahat" ucap Kepala tabib istana menenangkan Pangeran kedua.
__ADS_1
Pangeran ke dua terdiam sejenak kemudian dia mengambil dan meminum tehnya.
"Baiklah bibi. Aku rasa aku akan menyelidikinya sendiri. Jika ada yang mencurigakan, tolong beritahu saya." ucap pangeran kedua sebelum meninggalkan kediaman Kepala tabib istana.