
Arumeey mengambil botol botol itu dan mulai mengamati satu persatu. Botol berwarna kuning kusam adalah botol yang berisi minyak kulit ayam bakar. Setelah merasa yakin, dia meletakkan kembali botol tersebut.
Arumeey mengambil botol ke dua, cairan berwarna hijau tua cair adalah minyak dari otak ular besar brasimis, Arumeey mengenali dari aromanya yang sangat amis.
Botol ke tiga merupakan botol yang berisi cairan sari bunga seblak wangi. Arumeey sudah pernah mempelajari tentang itu di tingkat ke empat.
Selanjutnya Arumeey mengambil kedua botol yang berwarna merah pekat. Dua duanya memiliki tingkat kekentalan yang hampir sama. Arumeey mengerutkan alisnya.
"Ini sangat sulit dibedakan" batin Arumeey.
"Aku yakin salah satu cairan ini adalah darah burung jazhuri, namun aku tidak yakin yang mana itu" batin Arumeey yang mulai bingung dengan ke dua botol yang hampir mirip itu.
"Apakah kau sudah selesai mengamatinya'' ucap guru besar Hongdang.
Arumeey mengangguk sambil melepaskan tangannya dari botol botol itu.
"Baiklah Arumeey, assisten Dhoe akan memberi pertanyaan tentang botol botol yang baru saja kau amati itu" lanjutnya.
Asisten Dhoe mengambil kertas yang berisi pertanyaan pertanyaan yang telah di tulis oleh guru besar Hongdang, kemudian dia mulai menatap Arumeey sambil membacakan pertanyaan tersebut.
"Apa kegunaan dari cairan yang berwarna kuning itu?" pertanyaan pertama mulai diberikan.
"Cairan itu merupakan minyak dari kulit ayam yang dibakar, cairan itu sangat berguna untuk menghilangkan bekas luka" jawab Arumeey yakin.
Guru besar Hongdang melirik asisten Dhoe dan menganggukkan kepalanya.
Asisten Dhoe melanjutkan pertanyaan berikutnya.
"Bagaimana cara mendapatkan cairan pada botol ke dua?"
Arumeey terdiam sebentar, dia mengingat kembali kisah ayahnya yang pernah memotong kepala ular brasimis untuk mengambil otaknya.
"Ular brasimis hanya bisa ditemui di dasar sungai amazin, ular itu akan dipancing dengan melemparkan kepala kambing hitam ke dalam sungai, jika beruntung, ular itu akan muncul ke permukaan" ucap Arumeey sambil terus mengingat cerita dari ayahnya.
"Ular brasimis sangat mematikan. Butuh keahlian khusus untuk menangkapnya. Jika sudah berhasil membunuhnya, selanjutnya kepalanya akan di gantung di bawah sinar matahari selama tujuh hari. Minyak yang turun ditampung kedalam sebuah wadah dan selanjutnya akan dikemas ke dalam botol" lanjut Arumeey.
Guru Hongdang tersenyum puas dengan jawaban Arumeey.
Asisten Dhoe melanjutkan pertanyaan berikutnya.
__ADS_1
"Berapa banyak bunga seblak yang digunakan untuk mendapatkan sebotol minyak seblak wangi?"
Arumeey menghela nafas, dia mulai menimbang nimbang berapa banyak bunga yang dibutuhkan untuk sebotol minyak seblak wangi.
"Sepuluh tong besar bunga menghasilkan satu botol minyak seblak wangi, oleh karna itu minyak ini sangat mahal" ucap Arumeey setelah berhasil mengingat kembali ketika dia pernah menemani nenek Maepong memetik bunga seblak wangi untuk dijual.
"Bagus sekali Arumeey" ucap guru Hongdang kagum dengan kepintaran Arumeey, cucu dari sahabat lamanya.
Kepala tabib istana tidak memberi reaksi apa pun. Dia hanya memberikan tatapan tidak suka pada Arumeey.
"Baiklah, sekarang pertanyaan terakhir" ucap asisten Dhoe.
"Ambillah kedua botol berwarna merah itu" pinta asisten dhoe sambil melihat ke arah kotak tersebut.
Arumeey mengambil ke dua botol itu dan mengamatinya.
"Lihatlah kedua botol itu, salah satu dari botol itu berisi darah burung jazhuri, sedangkan yang lainnya adalah darah unta kuning, berikan pada ku botol yang berisi darah burung jazhuri" ucap asisten Dhoe.
"Sudah kuduga, ini akan sangat sulit" batin Arumeey sambil kembali mengamati ke dua botol itu.
Ke dua darah itu hampir tidak bisa dibedakan, namun Arumeey tidak menyerah. Dia terus mengamati botol botol itu. Setelah beberapa saat Arumeey akhirnya menemukan sebuah perbedaan. Salah satu darah memiliki bintik bintik kecil berwarna hitam. Bintik bintik itu hampir tidak terlihat, sangat halus.
Setelah sangat yakin, Arumeey menyerahkan botol itu pada asisten Dhoe. Asisten Dhoe menyerahkan botol itu pada guru besar Hongdang.
Guru besar Hongdang mengambil kaca pembesar dan melihat isi botol tersebut.
"Kau sangat teliti, selamat Arumeey. Kau berhasil lulus ujian ke dua" ucap guru Hongdang.
"Tunggu dulu"
Tiba tiba kepala tabib istana mengaduk suasana ruangan.
"Aku ingin memastikannya" ucap kepala tabib istana.
Kepala tabib istana mengambil botol dan kaca pembesar itu. Dia mengamati botol itu dengan seksama. Beberapa detik kemudian dia mengernyitkan dahinya. Kemudian dia menyerahkan botol itu pada asisten Dhoe.
"Baiklah, sepertinya kau memang sangat beruntung kali ini" ucapnya.
"Selanjutnya adalah ujian terakhir mu" ucap kepala tabib istana.
__ADS_1
"Ujian ini, aku persiapkan sendiri. Aku benar benar ingin menguji kelayakan murid murid tingkat enam untuk naik ke tingkat tujuh" lanjutnya.
"Asisten Dhoe, persiapkan bahan untuk ujian ke tiga" perintahnya.
"Baik nyonya"
Asisten Dhoe berjalan menuju sebuah lemari kayu berukuran kecil yang terletak di sudut ruangan. Dia mengambil sebuah kotak berwarna hitam dan membawanya ke hadapan Arumeey.
"Buka lah!" perintah kepala tabib istana kepada Arumeey.
Arumeey meraih kotak itu dan membukanya.
Isi kotak tersebut membuat Arumeey sedikit terkejut. Dia seakan tahu apa yang akan dihadapinya.
Di dalam kotak itu ada sebuah pisau bedah kecil, alat pemantik api, dua buah botol cairan obat, kain kasa, sebuah mangkuk pengaduk dan satu tangkai bunga kwasoh.
Guru besar Hongdang juga terlihat sangat terkejut ketika melihat isi kotak tersebut.
"Maaf nyonya. Ujian ini sudah lama ditiadakan, sebaiknya kita membuta ujian yang lain" ucap guru besar Hongdang.
"Ujian ini harus kembali dilaksanakan. Anda lihat sendiri kan, tabib tabib sekarang ini sangat lemah dan penakut. Itu karena mereka tidak pernah melalui ujian ini" ucap nyonya kepala tabib istana dengan expressi datar.
"Tapi nyonya--- "
"Aku sudah berbicara kepada Kepala perguruan tinggi Hwangguna, anda tidak perlu cemas. Kepala perguruan tinggi juga sangat setuju" Potong kepala tabib istana.
Guru besar Hongdang tidak bisa melakukan apa apa lagi.
"Aku rasa kau tahu apa yang harus kau lakukan, bukankah ini adalah pelajaran terakhir di tingkat enam, tentu kau masih mengingatnya, jika kau cukup pintar" ucap kepala tabib istana kepada Arumeey.
Arumeey menarik nafas panjang dan mengambil pemantik api, kemudian dia menyalakan sebuah tungku kecil yang telah disediakan oleh asisten Dhoe.
Ujian yang akan dilaksanakan oleh Arumeey adalah ujian tentang teknik pengobatan luka secara instan.
Ujian itu sudah lama dihapus karena teknik pengobatan ini dinilai sangatlah menyakitkan.
"Jika kau tidak mencampur obat dengan benar, akau akan lebih menderita" ucap kepala tabib istana.
"Aku akan menganggap kau lulus jika lukamu sembuh dengan sempurna" lanjutnya dengan senyum licik.
__ADS_1
tbc.....