
Setelah pintu terbuka, Arumeey segera menghambur ke dalam ruangan. Memeluk tubuh yang sangat ia rindukan.
"Nenek. Kau ada di sini? Bagaimana keadaan mu, nenek?" tanya Arumeey.
"Aku merasa lebih baik setelah minum obat yang keu berikan. Arumeey. Bagaimana keadaanmu?" tanya nenek Maepong.
"Nenek aku baik baik saja. Besok aku akan mengikuti upacara kelulusan"
"Aku sudah mendengarnya. Guru besar Hongdang telah memberitahukan aku"
"Tapi. Kenapa nenek berada di sini?"
"Duduklah Arumeey. Aku akan ke luar sebentar" ucap guru besar Hongdang.
"Terimakasih guru besar".
Arumeey mengambil duduk setelah guru besar Hongdang keluar dari ruangan itu.
"Nenek. Aku sangat mengkhawatirkan keadaan mu!" ucap Arumeey seraya mengelus tangan keriput neneknya.
"Nenek. Kau jangan khawatir, aku akan berusaha menemukan obat untuk menyembuhkan mu". Lanjutnya.
"Tidak Arumeey. Kau jangan melakukan apapun. Kau fokuslah untuk menjadi tabib." nenek Maepong seakan sadar dengan bahaya yang akan ditemui oleh Arumeey.
"Untuk apa aku menjadi tabib jika tidak bisa menyembuhkan orang yang aku sayangi. Aku akan melakukan apapun untuk kesembuhan mu" Arumeey bersikeras untuk mendapatkan obat penyakit langka yang diderita oleh neneknya.
"Arumeey. Aku sudah mengetahui penyakit apa yang sedang ku hadapi. Ku mohon kau jangan bertindak gegabah. Aku tidak ingin kau berakhir seperti orang tua mu"
Arumeey tertegun dengan dafa yang mulai terasa panas. Dia terdiam beberapa detik.
"Nenek. Bagaimana kau mengetahui nya?" tanya Arumeey dengan mata yang mulai basah.
"Aku telah pergi ke beberapa tabib. Namun tidak ada seorangpun yang bisa menolong ku. Hingga akhirnya aku menemui Hongdang. Dan aku mengetahui apa yang sedang ku derita"
"Arumeey. Waktu ku mungkin tidak akan lama lagi. Kau harus berhati hati. Jangan bertindak gegabah. Untuk mengalahkan musuh mu kau harus lebih pintar daripada mereka" nenek Maepong memberikan nasihat kepada cucu satu satunya yang ia miliki.
"Arumeey. Jika suatu hari nanti kau masuk ke istana. Kau akan mendapatkan jawaban dari beberapa pertanyaan mu. Namun kau tidak boleh terburu buru. Jawaban yang kau cari ada dibawah sinar bulan di dalam istana" ucap nenek Maepong membuat Arumeey semakin bingung.
"Nenek. Aku tidak mengerti"
__ADS_1
"Kau tidak perlu mengerti sekarang. Kau butuh kekuatan dan dukungan untuk mengalahkan musuh mu. Oleh sebab itu kau tidak perlu mengerti sekarang." ucapan nenek maepong seakan telah dipersiapkan sejak lama.
"Arumeey. Aku akan kembali ke rumah kita. Jika sudah lulus sebagai seorang tabib muda. Pulang lah sebentar".
"Nenek. Aku semakin tidak tenang. Aku takut. Aku takut menghadapi ini sendirian."
Pintu ruangan terbuka, guru besar Hongdang masuk ke dalam.
"Kau sebaiknya pulang ke rumahku" ucap guru besar Hongdang pada nenek Maepong.
"Aku sudah banyak merepotkan mu Hongdang. Aku tidak ingin di hari tua pun masih merepotkan mu. Kau sudah sangat banyak membantu aku dan keluarga ku"
"Jangan katakan itu Maepong. Berkat mu juga aku punya kedudukan di perguruan tinggi ini"
"Sudah lah. Jangan membahas masa lalu sekarang. Aku lebih baik menghabiskan waktuku di rumah ku. Rumah yang penuh kenangan" nenek Maepong tersenyum ketika mengingat masa lalunya yang tidak diketahui oleh Arumeey.
"Nenek. Aku akan mengantar mu"
"Tidak perlu. Aku sudah memanggil kereta kuda. Kau bersiap siap lah untuk acara besok"
" baiklah nenek. Jaga dirimu." Arumeey memeluk tubuh yang tak lagi kuat itu.
Nenek Maepong meninggalkan Arumeey dengan hati yang terluka. Ada banyak hal yang mungkin tidak bisa lagi ia sampaikan lagi pada cucunya.
"Silakan Arumeey"
"Guru. Apa kau mengetahui bahwa ada yang sengaja menciptakan penyakit langka?" tanya Arumeey.
"Aku tidak tahu secara pasti. Namun orang tuamu mengetahui tentang itu. Apa yang kau ketahui Arumeey?" tanya guru besar Hongdang.
"Sebenarnya aku mendengar ada seorang tabib yang bisa membuat obat penyakit itu. Tapi dia meminta gadis muda sebagi bayarannya." ucap Arumeey.
"Aku pernah mendengarnya juga. Tapi sebagian orang mengatakan dia hanyalah tabib palsu. Pangeran ke dua pernah mencari keberadaannya. Namun dia sangat pintar menyamar"
"Menyamar?"
"Ya, Arumeey. Begitu yang disampaikan oleh pangeran ke dua. Nenek maepong mengatakan kau menjalin hubungan dengan pangeran ke dua, apakah itu benar?"
"Maaf guru. Saat ini hubungan kami sedang tidak baik"
__ADS_1
"Berhati hatilah Arumeey. Kau sebaiknya menjauhkan dirimu dari pangeran ke dua. Ada satu hal yang tidak bisa ku katakan pada siapapun tentang pangeran ke dua. Namun kau sebaiknya menjauhinya".
Arumeey terdiam tidak mengatakan apa apa lagi. Dia meninggalkan ruangan itu dengan perasaan yang tak menentu.
.................
Upacara kelulusan akan segera dilaksanakan. Semua orang tua murid hadir di tempat itu. Hanya Arumeey yang tidak mendapatkan kunjungan dari siapapun.
Gelar tabib muda di sematkan pada Arumeey dan beberapa murid dari lainnya. Arumeey menerima penghargaan sebagai murid yang berprestasi.
"Pangeran ke dua akan memberikan kalung kehormatan untuk murid berprestasi. Di harapkan kepada Arumeey Kinanzha. Chauh Ceng dan Patrian Wong untuk menaiki panggung" ucap pembawa acara kelulusan.
Ketiga orang yang dipanggil menaiki panggung acara.
Arumeey berdiri di barisan terakhir. Dia tidak menyangka akan menghadapi suasana canggung dengan pangeran.
Pangeran kedua naik ke panggung diikuti seorang guru yang membawa kalung penghargaan.
Penghargaan pertama dan ke dua dikalungkan tanpa kendala.
Saat tiba di hadapan Arumeey pangeran ke dua sempat terdiam beberapa saat. Arumeey tidak menatap pangeran. Dia hanya menundukkan pandangannya.
Pangeran ke dua tersadar bahwa semua orang sedang menatapnya. Dia segera mengalungkan kalung kehormatan kepada Arumeey. Tangannya dengan sengaja menyentuh rambut Arumeey. Rambut yang sangat ia rindukan. Ingin rasanya ia memeluk gadis itu.
Kepala tabib istana menatap dengan geram dan mengepalkan tangannya.
"Terimakasih kepada pangeran ke dua yang sudah bersedia hadir di upacara kelulusan perguruan tinggi Hwangguna" ucapan pembawa acara mengejutkan pangeran kedua.
Pangeran kedua segera turun dari panggung. Ingin sekali dia memberi ucapan selamat pada gadis yang sangat ia cintai.
Acara itu berlangsung sangat meriah. Semua orang bergembira. Hanya Arumeey yang terdiam di tempat duduknya. Di sisi lain, Kepala tabib istana memandangnya dengan penuh kebencian.
Malam harinya Arumeey berdiam diri di tempat tidurnya.
"Arumeey. Kau benar benar sangat suka melamun. Apa yang kau pikirkan. Cepat ganti pakaianmu. Pesta besar sedang menanti kita" ucap Kanayan.
"Aku tidak ingin pergi. Aku ingin istirahat saja"
"Kau ini. Ini malam terakhir kita Arumeey. Ayolah. Semua orang harus menikmati malam terakhir ini" ucap Kanayan merayu sahabatnya.
__ADS_1
"Baiklah. Karena malam ini malam terakhir, Aku akan menurutmu"
Arumeey turun dari tempat tidurnya dan segera berganti pakaian.