
"Nenek, sebenarnya aku sedang menjalin hubungan dengan pangeran ke dua Hwangguna" ucap Arumeey sambil menyeruput kuah sup bawang putih.
"APA????" nenek Maepong terbelalak mendengar apa yang dikatakan oleh cucunya.
"Apa yang baru saja kau katakan Arumeey?" tanya Nenek Maepong seakan tak percaya dengan ucapan yang baru ia dengar dari cucunya.
"Kenapa nek, kenapa kau begitu terkejut??" tanya Arumeey heran.
Nenek Maepong menghela nafas panjang. Dia juga tidak tahu harus mengatakan apa pada Arumeey.
"Nenek, kau baik baik saja?" tanya Arumeey yang melihat raut wajah tak biasa pada nenek nya.
"Aku hanya khawatir Arumeey, istana bukan tempat yang bagus untuk kita, nenek takut kau akan mendapatkan banyak masalah" ucap nenek Maepong lirih.
"Nenek, kau tidak perlu terlalu khawatir, aku bisa menjaga diri" ucap Arumeey me minggir kan mangkuk sup yang sudah kosong.
Nenek Maepong terdiam, ada pancaran kesedihan yang terpancar dari bola matanya. Nenek maepong mengambil mangkuk yang sudah kosong dan membawanya ke tempat pencucian.
Arumeey heran dengan reaksi dari neneknya yang seolah ingin menghindari tatapan Arumeey. Entah apa yang ada di pikiran nya saat itu, Arumeey sama sekali tidak mengerti.
..............
Sore harinya Arumeey berjalan jalan mengelilingi taman rumahnya. Dia pergi ke kandang kudanya. Dia merasa sangat rindu pada kudanya yang di beri nama Banuna.
"Kau kelihatan sehat saat aku tinggalkan, apakah kau tidak merindukan ku?" tanya Arumeey sambil membelai kuda kesayangannya.
"Ki~i~k" kuda itu hanya meringkik saat di elus oleh Arumeey.
Arumeey melangkah masuk ke dalam kandang kudanya, dia berjalan perlahan ke sudut kandang, ada sebuah kotak yang memanjang tertutup rapi di bawah sebuah kursi panjang. Arumeey membuka kotak itu dan tersenyum melihat isinya.
Arumeey mengeluarkan sebuah panah berwarna hitam legam dengan pegangan yang terbuat dari kayu maharani berkualitas tinggi. Ada ukiran burung elang di atas pegangan nya.
Arumeey menatap lekat pada panah tersebut kemudian dia mengambil kantung panjang yang berisi beberapa anak panah dan menggantungkan di pundaknya.
Arumeey mendekati kuda kesayangannya dan segera menunggangi nya.
Cekuduk ..... cekuduk
Suara sepatu kuda menuruni bukit menuju padang rumput sinaga.
Arumeey mengambil panahnya dan bersiap memanah burung kanala yang tengah terbang ke sana ke mari mematuk serangga yang hinggap di atas bunga kuning rumput sinaga.
Cusss
Sebuah anak panah melesat tajam membuat burung itu terbang menghindar. Arumeey kembali mengambil anak panahnya, dia kembali fokus pada burung kanala yang kembali turun.
__ADS_1
Cusss
Klepek klepek
Seekor burung kanala terkapar terkena anak panah.
Arumeey memacu kudanya mendekati tempat itu. Dia memungut burung kanala yang malang itu. Arumeey terdiam sejenak.
Suatu hari nanti Arumeey berharap bisa menembus jantung para pasukan elang merah dengan panahnya tersebut.
.................
Setelah menginap beberapa malam di rumah nenek Maepong, Arumeey bersiap siap untuk segera kembali ke perguruan tinggi Hwangguna. Arumeey memasukkan barang barang bawaannya ke dalam tas nya.
Nenek maepong muncul di pintu kamarnya. Arumeey menghentikan kegiatannya dan menghampiri neneknya.
"Nenek, aku akan kembali ke taraka hari ini" ucapnya lirih
Ada gurat kesedihan yang tergambar di wajah sang nenek.
"Baiklah cucuku, kau harus giat belajar. Jaga dirimu di sana" ucap nenek Maepong lirih.
"Nenek, aku akan baik baik saja. Kau jangan khawatir, lukaku juga sudah kering, ini semua berkat nenek yang hebat" ucap Arumeey mencoba menghilangkan kesedihan dan kekhawatiran sang nenek.
Nenek maepong tersenyum seraya memegang tangan cucunya.
"Baiklah nek, aku akan menyampaikan nya" ucap Arumeey lalu memeluk tubuh kurus sang nenek.
Setelah berpamitan Arumeey segera menunggang kuda berwarna hitam yang ia sewa pada penyewa kuda di kota taraka. Dia menuruni bukit dan melewati padang rumput sinaga, setelah memasuki hutan, Arumeey tiba tiba berhenti. Dia melihat ada beberapa jejak kaki kuda yang mengarah ke rumah nenek maepong.
Arumeey mengerenyitkan dahinya.
Dia turun dari kudanya dan menyentuh jejak kaki itu.
"Jejak ini bukan jejak baru, jejak ini telah ada sejak beberapa hari" ucap Arumeey.
"Tapi kenapa aku tidak melihat ada siapapun yang mengunjungi nenek beberapa hari ini?" tanya Arumeey pada dirinya.
"Hmmmm. Ini sedikit aneh" gumam Arumeey.
Dia kembali menunggangi kudanya seraya memalingkan pandangannya ke atas bukit yang ada di belakangnya.
.................
Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, akhirnya Arumeey sampai di pusat kota. Dia berjalan menuju tempat penyewaan kuda. Arumeey menyerahkan kuda tersebut dan mengambil kembali lencana nya.
__ADS_1
Arumeey berjalan menyusuri pasar kota taraka, Arumeey menyadari bahwa dirinya sedang diawasi. Arumeey meneruskan perjalanannya menuju perguruan tinggi Hwangguna.
Di tengah jalan Arumeey sangat terkejut saat seseorang menarik tangannya dari arah sampingnya di tengah keramaian pasar.
Tangan itu terus menariknya Ke samping sebuah toko kue untuk menghindari keramaian.
"Kau siapa?" tanya Arumeey menarik tangannya.
Arumeey mencoba menarik tangannya namun tidak dapat terlepas. Tangan tersebut selanjutnya menarik tubuh Arumeey dan memeluknya dengan erat.
"KAU, berani beraninya. Lepaskan aku.." teriak Arumeey pada lelaki yang memakai pakaian serba hitam dan menutup wajahnya dengan masker berwarna hitam.
Tiba tiba lelaki itu membisikkan sesuatu di telinga Arumeey.
"Aku merindukan mu, kau kemana saja?" bisik nya.
Arumeey terkejut dan melepaskan pelukannya. Dia menarik masker yang menutupi wajah pria itu.
Setelah masker hitam itu terbuka, secara spontan Arumeey memeluk kembali tubuh itu seraya tersenyum bahagia.
"Kenapa kau berpakaian seperti ini pangeran?" tanya Arumeey pada lelaki itu yang tak lain adalah kekasihnya.
"Jangan mengalihkan pembicaraan, kau tahu, kau sudah membuat ku hampir mati karena merindukan dirimu" ucapnya mengelus lembut rambut pirang Arumeey.
"Maafkan aku yang mulia, Aku tidak sempat memberi tahu mu" ucap Arumeey sambil melepaskan pelukannya.
"Aku mengunjungi nenekku, awalnya aku tidak berniat menginap, namun karena satu hal, aku terpaksa menginap beberapa hari" ucapnya sambil menatap mata sang pangeran.
"Aku juga merindukan mu" lanjutnya.
Pangeran ke dua Hwangguna tersenyum bahagia mendengar ucapan Arumeey.
"Lalu, kenapa yang mulia berpakaian seperti ninja di tengah hari buta?" tanya Arumeey diliputi rasa penasaran.
"Aku sedang menyelidiki sebuah kasus yang terjadi beberapa hari ini di kota taraka" ucap pangeran
"Kasus?? Apa aku ketinggalan begitu banyak berita?" ucap Arumeey menggaruk kepalanya.
Pangeran Zhumma tersenyum melihat tingkah polos kekasihnya itu.
"Beberapa hari ini ada banyak senjata ilegal yang di pasok ke dalam kota taraka, Aku menyelidikinya dengan beberapa prajurit istana. Aku takut itu berkaitan dengan pemberontakan" ucap pangeran Zhumma.
"Pemberontakan?" tanya Arumeey.
"Iya, ada banyak pemberontak yang mencoba masuk ke istana akhir akhir ini, ini juga berkaitan dengan penobatan putra mahkota" ucap pangeran ke dua.
__ADS_1
"Penobatan putra mahkota?" tanya Arumeey.