
Salju masih menutupi daun daun dan pepohonan. Udara begitu dingin seakan akan membekukan nafas manusia. Arumeey mengambil mantel bulunya dan memakainya. Salju memutih di sepanjang jalan menuju ruang racik. Angin berlomba lomba menambah dinginnya malam.
Arumeey terus melangkah hingga mencapai ruang racik. Guru Ang sedang sibuk meracik bubuk penghilang kantuk di tengah ruangan. Arumeey mengambil alih meja di sebelahnya.
"Perona bibir dari bunga samora akan segera siap" ucap Arumeey kegirangan.
"Kau tahu, kau tidak perlu memakai perona bibir. Bibir mu sangat merona Arumeey" ucap guru Ang.
Arumeey tersenyum di tengah ke bekuan. Wajahnya memerah karena hawa dingin malam itu.
"Aku perlu menambahkan sedikit bubuk aroma bunga kakura. Kali ini perona bibir buatan ku tidak hanya memperindah warna bibir. Namun akan memberi kesan harum yang menenangkan bagi yang memakainya" ucap Arumeey sambil terus mengaduk bahan eksperimen nya.
Guru Ang tersenyum melihat semangat gadis cantik itu.
..................
Di kediaman Pangeran ke dua Hwangguna.
Pangeran ke dua duduk bersila di depan sebuah meja kecil di sisi kamarnya. Matanya menatap lurus dengan tatapan kosong.
Pikiran nya tidak karuan. Apa yang dikatakan oleh Nona Onnara berputar putar dalam kepalanya.
Dia membunyikan otot otot jarinya hingga sudah tidak ada lagi bunyi. Dia bahkan tidak mendengar beberapa pelayan memanggilnya untuk makan malam.
"Kau hanya berusaha menjauhkan kami" ucap Pangeran ingin mengacuhkan apa yang dikatakan oleh nona Onnara.
Pangeran ke dua mengambil sebuah buku dan mencoba membacanya.
Ia mencoba untuk fokus. Semakin ia mencoba mengacuhkannya semakin ia tidak bisa berhenti memikirkannya.
Pangeran ke dua menutup bukunya dan bangkit meraih mantelnya. Ia berjalan keluar dari istana dengan menunggangi kudanya.
Udara yang sangat dingin mulai menusuk kedalam kulitnya. Pangeran memacu kudanya menuju perguruan tinggi Hwangguna.
...................
"Ini sudah siap" Arumeey menghirup aroma dari perona bibir yang baru saja selesai ia racik.
"Kau harus mencobanya" ucap guru Ang
"Tentu saja guru" jawab Arumeey.
Arumeey mengoleskan krim perona itu ke seluruh bibirnya.
Guru Ang tertawa melihat warna merah yang tidak merata pada bibir Arumeey. Guru Ang menyapu bibir Arumeey dengan jarinya. Dia memegangi wajah Arumeey dengan ke dua tangannya. Guru Ang mendekati bibir Arumeey, dia tidak dapat menahan untuk menciumnya..
__ADS_1
Pangeran ke dua yang berdiri di pintu melihat semua adegan itu dengan hati yang terbakar. Dia sangat terkejut dengan hal yang baru saja ia lihat. Dia memundurkan langkahnya dan meninggalkan ruangan itu. Pangeran ke dua menunggangi kudanya dan meninggalkan perguruan tinggi Hwangguna.
Nona Onnara tersenyum licik ketika melihat Pangeran ke dua memacu kudanya dengan wajah tak beraturan.
................
"Apa yang anda lakukan guru?" ucap Arumeey memalingkan wajahnya ketika guru Ang hendak mencium bibirnya.
"Ma-maafkan aku Arumeey. Aku hanya tidak bisa menahannya. Aku menyukaimu sejak saat pertama melihatmu" ucap guru Ang mengharap cinta Arumeey.
"Maaf guru. Aku sudah punya kekasih" ucap Arumeey seraya mengambil barang barangnya dan melangkah keluar meninggalkan guru Ang dalam kekecewaan.
Arumeey berlari menuju asrama anggrek putih. Dia tidak menyangka guru Ang mencoba kurang ajar padanya.
..............
Di sisi lain malam itu..
Pangeran ke dua berhenti ketika dia berada di atas sebuah bukit yang tidak terlalu tinggi. Dia memacu kudanya tanpa sadar hingga tiba di sana.
Matanya mengeluarkan embun yang menandakan bahwa hatinya sangat sakit.
Hatinya benar benar sakit dan terbakar. Dinginnya malam musim salju tak mampu memadamkan jiwanya yang terbakar. Dia turun dari kudanya dan berjalan ke ujung tebing. Dari situ terlihat lampu berkilauan dari arah kota taraka.
Mata pangeran ke dua memandang jauh ke arah cahaya menara perguruan tinggi Hwangguna. Gadis pertama yang mencuri hatinya telah meremas dan mencampakkan segalanya.
...............
Beberapa hari berikutnya Arumeey tidak pernah pergi ke ruang racik. Dia masih merasa kecewa dengan sikap guru Ang.
"Arumeey. Kau sudah dengar?" ucap Kanayan mengejutkan Arumeey yang tengah melamun di depan lemari nya.
"Yang mulia Raja sedang sekarat. Semua orang sedang heboh saat ini" ucap Kanayan.
"Bahkan ayah ku sudah dua hari tidak keluar dari istana" lanjutnya.
"Benarkah?" Arumeey sangat terkejut.
Dia memikirkan pangeran ke dua. Dia ingat sudah berapa lama ia dan pangeran tidak bertemu. Dia sangat rindu dan ingin menghibur pangeran ke dua.
................
Di istana.
Pangeran ke dua mengesampingkan perasaannya yang terluka karena kekecewaannya pada sang kekasih. Dia berjalan menuju kediaman Raja ke delapan Hwangguna.
__ADS_1
"Putra ku. Dimana kakakmu?" tanya yang mulia ratu ketika pangeran ke dua masuk ke kamar yang mulia Raja.
Yang mulia Ratu sangat menyayangi Putra mahkota. Sehingga ia sering lupa dengan kehadiran pangeran ke dua.
"Ibu. Aku sudah berusaha mencarinya ke seluruh rumah hiburan. Aku juga sudah mengirim beberapa prajurit untuk mencarinya. Kau jangan khawatir ibu." jawab pangeran ke dua.
"Apa dia tidak tahu Ayahnya sedang terbaring kesakitan. Kenapa dia tidak datang?" ucapnya lagi dengan wajah sedih.
"Sudahlah ibu. Kau jangan memikirkan nya. Yang mulia Raja lebih membutuhkan mu saat ini" ucap pangeran seraya masuk ke kamar utama yang Mulia Raja.
Yang mulia Raja terbaring tak berdaya di atas tempat istirahatnya. Pangeran ke dua mendekat dan duduk di samping tempat tidur yang Mulia Raja.
"Ayah" panggilnya pelan.
Yang Mulia Raja tidak bergeming sama sekali. Dia tertidur dengan mulut setengah terbuka. Nafasnya tersenggal senggal tak beraturan.
Tak berapa lama, Yang Mulia Ratu dan Kepala tabib istana masuk ke ruangan itu.
Kepala tabib istana duduk dan memeriksa Yang Mulia Raja.
"Maafkan saya yang Mulia" ucap kepala tabib istana sambil menunduk.
"Tidak ada yang bisa kulakukan untuk menolong Yang Mulia Raja" ucapnya lirih.
Pangeran ke dua hanya terdiam di tempatnya. Kepala tabib istana sekilas melirik Pangeran.
"Yang Mulia Ratu. Bahkan disaat seperti ini, Putra mahkota tidak datang.'' lanjutnya memanasmanasi yang mulia Ratu.
"Dia Akan datang. Aku tahu anakku akan datang" jawab yang mulia Ratu sambil menatap wajah pucat yang Mulia Raja.
........
Keesokan harinya Arumeey bersiap siap ingin menemui pangeran ke dua. Dia ingin membicarakan obat penawar untuk penyakit langka yang di titipkan oleh orang tuanya. Dia berniat ingin menolong Raja.
Arumeey Tahu hari ini Pangeran ada jadwal kunjungan di bangunan pertahanan kota taraka.
Dia berjalan melewati kerumunan orang yang berada di pasar kota taraka. Salju masih menutupi jalan dan toko toko.
Setelah sampai di bangunan pertahanan kota taraka Arumeey memilih duduk di taman untuk menunggu pangeran. Udara sangat sejuk kala itu. Arumeey berkali kali mengusap tangannya.
Tidak berapa lama, Pangeran keluar dari ruangan rapat. Dia keluar bersama beberapa orang.
Beberapa orang datang menghampiri pangeran ke dua kemudian berlalu pergi.
Setelah itu Pangeran berjalan di hadapan Arumeey, pangeran meliriknya sekilas dan berjalan melewatinya.
__ADS_1
"Pangeran" panggil Arumeey.