The Beast Beauty

The Beast Beauty
BAB 31. Bertemu gadis itu


__ADS_3

Guru besar Hongdang membawa kotak perhiasan milik Arumeey ke sebuah toko perhiasan.


"Selamat datang. Apa ada yang bisa saya bantu nyonya?" sambut salah satu pelayan toko


"Aku ingin bertemu dengan nyonya Huwey." jawab guru besar Hongdang.


"Baiklah nyonya. Mohon tunggu sebentar" gadis itu menunjukan kursi menunggu yang ada di tengah toko.


Tidak berapa lama, seorang pria tua dengan memakai kacamata keluar dari pintu yang ada di belakang meja pembayaran.


"Hongdang, sahabat lamaku. Sudah lama sekali kau tidak mengunjungi toko ku"ucap pria itu dengan senyuman hangat.


Guru besar hongdang bangkit dan memeluk teman lamanya.


"Aku ingin meminta bantuan mu." ucap guru besar Hongdang tanpa basa basi.


"Kau butuh bantuan ku?. Itu terdengar sedikit aneh" tuan Huwey mengernyitkan dahinya.


"Aku ingin menjual beberapa perhiasan lama"


"Perhiasan lama? Kau tidak sedang kekurangan uang kan?."


"Sebenarnya ini bukan milikku. Cucu Maepong butuh bantuan ku untuk menjualnya"


"Maepong??? Sudah sangat lama aku tidak mendengar kabar darinya. Apakah ia masih terus bersembunyi?"


"Dia sudah tiada. Penyakit itu telah merenggut nyawanya"


Pria itu menghela nafas dan terdiam beberapa saat.


"Dia sangat menderita selama hidupnya. Kini dia akan hidup bahagia bersamanya di sana" pria tua itu berduka dengan apa yang ia dengar.


Guru besar Hongdang mengeluarkan kotak perhiasan Arumeey dan menyerah kotak itu pada tuan Huwey.


Tuan Huwey mengamati perhiasan perhiasan itu menggunakan kacamata tebalnya.


"Perhiasan ini berasal dari istana" ucap tuan Huwey pelan.


"Benar. Oleh karena itu aku hanya bisa menjualnya pada mu."


"Aku tidak bisa memberi mu banyak. Perhiasan ini harus di buat ulang, aku tidak bisa menjualnya begitu saja tanpa surat kepemilikan"


"Aku mengerti. Bantu aku sebisa mu saja."


"Baiklah." Tuan Huwey melihat lihat perhiasan itu dan menghitungnya sambil berpikir.


"Enam ratus rop. Aku hanya bisa memberi enam ratus"


"Tambah sedikit lagi, hitung hitung membalas jasa Maepong" ucap guru besar Hongdang mencoba mendapatkan uang lebih tinggi lagi.


Tuan Huwey tampak berfikir sambil memegang kacamatanya.

__ADS_1


"Baiklah. Tujuh ratus rop. Hanya itu. Aku tidak bisa menambah lagi."


"Baiklah. Kau sudah sangat membantu"


Tuan Huwey mengambil lembaran uang dan menyerahkan pada guru besar Hongdang.


...............


"Apa aku noleh melihatnya?" ucap Arumeey di depan sebuah toko.


"Tentu saja nona. Kau harus melihatnya agar tidak salah pilih" pemilik toko merogoh kunci di sakunya.


Satu persatu kunci dicoba untuk membuka toko tersebut. Setelah mencoba empat buah kunci, akhirnya pintu itu terbuka.


"Silahkan nona muda. Silahkan melihat lihat"


Arumeey melangkah masuk. Bangunan itu hanya berukuran lima x lima meter saja. Seluruh ruangan terlihat kosong. Ada sebuah pintu kecil terletak di belakang ruangan.


"Toko ini baru dikembalikan sekitar satu tahun yang lalu. Anda tidak perlu cemas. Dinding, lantai dan atapnya sangat kokoh" ucap pemilik toko meyakinkan Arumeey.


Arumeey menganggukkan kepalanya seraya menatap langit langit bangunan.


"Berapa biayanya untuk satu tahun?" tanya Arumeey.


"Anda cukup membayar lima ratus rop saja nona"


"Lima ratus rop. Anda bercanda??." ucap Arumeey terkejut.


"Tuan. Kurangi sedikit lagi. Aku tidak punya uang sebesar itu. Aku juga harus membeli obat obatan." pinta Arumeey.


"Hmmmm." pemilik toko itu mengusap keningnya sambil berpikir.


"Empat ratus delapan puluh rop"


"Ayolah tuan. Aku tidak akan mengambil keuntungan dengan membuka toko ini. Aku hanya ingin membantu orang yang kesusahan"


"Hmmmmmm... Empat ratus lima puluh rop. Tidak ada tawar menawar lagi. Jika kau mau, aku akan menyerahkan kunci pada mu. Jika kau tidak mau, aku bisa mencari penyewa lain"


Arumeey menghela nafasnya.


"Aku hanya memiliki tujuh ratus rop. Tersisa dua ratus lima puluh rop untuk mengisi toko" pikir Arumeey dalam hatinya.


"Bagaimana nona?" tanya pemilik toko yang melihat Arumeey tengah berpikir.


"Baiklah. Aku tidak punya pilihan lain"


Pemilik toko itu tampak tersenyum puas. Arumeey mengeluarkan uangnya dan menyerahkan pada pemilik toko itu.


"Silahkan hitung kembali" ucap Arumeey menyerahkan segepok uang pada pemilik toko.


Pemilik toko menghitung uang tersebut dengan mata berbinar.

__ADS_1


"Baiklah nona. Ini kuncinya. Mulai sekarang kau berhak menempati toko ini untuk satu tahun" ucap pemilik toko seraya menyerahkan sebuah kunci kepada Arumeey.


Arumeey mengambil kunci itu dan mengucapkan terimakasih.


"Terimakasih tuan"


"Semoga usaha mu lancar. Aku permisi dulu"


Pemilik toko keluar meninggalkan Arumeey sendirian di dalam toko itu. Arumeey mengambil sisa uang dan menghitung nya.


"Aku akan membeli beberapa perabotan dan kemudian membeli obat obatan" ucapnya.


Arumeey keluar dan berjalan mencari beberapa alat untuk merapikan dan membersihkan toko. Saat melewati rumah minuman yang tepat berada di depan tokonya, Arumeey mendengar gelak tawa wanita wanita penghibur.


"Aku harus terbiasa mendengar ini setiap hari. Huffft" Arumeey menghela nafasnya dan berjalan melewati bangunan itu.


Arumeey memasuki sebuah toko dan membeli sapu dan beberapa kain lap.


"Aku lapar sekali. Sebaiknya aku mencari makan dulu" gumamnya.


Arumeey masuk ke sebuah toko makanan dan duduk di meja kosong yang ada di sudut ruangan.


"Nona. Kau nona Arumeey??" seorang gadis memanggilnya dari arah belakang.


Arumeey menoleh dan menatap wajah gadis yang memanggilnya.


"Kau.... Nona---"


"Benar, aku Ishika. Gadis yang kau tolong beberapa hari yang lalu" ucap gadis itu kegirangan bertemu dengan Arumeey.


"Kau sedang apa disini?, bukankah kau tinggal di desa subunan?"


"Aku mau makan. Aku sangat lelah mencari pekerjaan ke sana dan kemari. Namun hanya di rumah minuman itu yang tersedia lowongan pekerjaan. Aku harus berfikir lagi sebelum memutuskan nya."


"Duduklah. Sebaiknya kita makan bersama" Arumeey mempersilakan gadis itu duduk bersamanya.


Setelah gadis itu duduk, Arumeey memanggil pelayan dan memesan satu ekor ayam bakar dengan dua porsi nasi.


"Nona. Kau sendiri sedang apa? Bukankah kau seharusnya sedang belajar?" tanya ishika.


"Aku sudah lulus. Sekarang aku sedang membuka sebuah toko obat obatan. Aku baru saja membeli beberapa alat untuk membersihkan toko"


"Benarkah. Nona, bawa aku Sebagai pelayan mu. Aku akan bekerja dengan giat. Ku mohon" ishika terlihat kegirangan dan memohon pada Arumeey.


"Aku tidak bisa membayar mu ishika. Aku bahkan belum memulainya." jawab Arumeey.


"Ayolah nona. Kau jangan memikirkan bayaran ku. Aku hanya butuh tempat tinggal. Sebenarnya aku sudah diusir oleh ibuku karena melawan ayahku dan membuatnya terbunuh" ishika mulai terlihat sedih.


"Maafkan aku Ishika. Kau harus diusir karena ulahku" Arumeey merasa iba sekaligus bersalah karena telah membunuh ayah gadis itu.


"Tidak nona. Kau tidak perlu meminta maaf. Aku sangat bersyukur kau membunuhnya. Selama ini aku hidup penuh penderitaan." Ishika terlihat benar benar sedih.

__ADS_1


__ADS_2