The Choise

The Choise
Menjadi Teman


__ADS_3

Disinilah Eve sekarang. Setelah mengangkat telepon dari Lucio, Eve langsung pergi begitu saja hingga lupa berpamitan pada seseorang yang kini sibuk membuntutinya bersama Brian dengan raut kesal.


Apa sebegitu pentingnya pria itu hingga Eve melupakannya? Jangan harap Niel akan diam saja.


"Dia pria yang waktu itu kulihat bersama Eve." Brian seperti mendapat jackpot.


Niel dengan tatapan mematikannya terus menyorot pada dua orang yang mejanya cukup jauh dari mereka.


"Kuharap ini benar-benar hal penting," kata Eve.


Lucio menghembuskan nafas pelan dengan sikap Eve. Meski Eve tidak marah karena cemburu, tapi siapa yang mau dikhianati?


"Beberapa pertemuan kita selalu buruk, jadi aku ingin memperbaikinya."


"Hanya itu?" Tidak sebanding dengan apa yang akan dihadapinya setelah bertemu Niel nanti. Pria itu pasti menjadi menyebalkan lagi. Tentu saja ia sadar saat pergi begitu saja atau Niel akan mengekorinya dan membuat keributan dengan pria di hadapannya ini sekarang.


"Ini." Lucio memberikan sebuah map. Tanpa bertanya lagi, Eve langsung meraih dan membukanya.


"Aku ingat kau sangat menginginkannya dulu."


Eve terdiam membacanya. Benar, dirinya sangat menginginkannya dulu, tapi pemilik kedai kecil di Barcelona itu tidak pernah mau menjualnya. Sekarang Lucio sudah mendapatkannya.


"Kau tidak mengancam mereka, kan?"

__ADS_1


Lucio tertawa pelan, "tentu saja tidak. Aku selalu mendengarkanmu untuk bersikap baik."


"Thank you."


"Aku senang kau menyukainya."


"Aku tidak akan menerimanya secara gratis, Lucio. Kau bisa menjualnya padaku dua kali lipat dari harganya."


"Aku tidak berniat berbisnis. Aku melakukannya untuk wanita yang kusuka."


"Lucio," datar Eve. Pria itu tersenyum lebar.


"Aku selalu menjaga kedai itu agar terjual padaku untukmu, menurutmu aku masih bermain-main?"


"Bukankah begitu?"


"Sejak kau bersamanya, kita sudah berakhir."


Lucio mengubah raut wajahnya sedikit sendu. Rencana yang berubah menjadi kesalahan fatal.


"Aku tidak mengenal wanita itu, Eve. Aku membayarnya untuk membuatmu cemburu. Kami tidak melakukan apa-apa lagi." Ia berkata jujur.


Akhirnya setelah sekian lama, ia mendapatkan wanita ini lewat permintaan Amy yang selalu mencarikan pria untuk Eve. Dirinya sudah lama tertarik, bukan tapi tumbuh dengan mengenalnya. Sebagai sahabat Lucia, tentu ia hampir mengenalnya setiap hari saat keduanya bermain.

__ADS_1


"Lucio, tidak ada yang berubah meski kau bilang begini."


"Aku tahu! Amy pasti sudah memilihnya—"


"Dia yang memilihku," potong Eve, "dan mungkin aku akan memilihnya juga suatu hari nanti." Meski tidak yakin, Eve mengucapkannya tanpa rasa khawatir.


Lucio terkekeh miris.


"Sudah tidak ada kesempatan ya? Aku iri dengannya yang baru beberapa bulan mengenalmu."


"Bahkan jika dia pergi, aku tidak berniat mengenal siapapun lagi." Jika hal ini gagal lagi, Eve hanya akan fokus pada dirinya.


"Aku yakin kali ini berhasil," ujar Lucio, "aku sudah sering mendengarnya dari Lucia. Pria itu mengubahmu cukup banyak. Aku sudah bersyukur untuk ini." Tersenyum tulus.


Mungkin Eve memang bukan wanita yang tepat untuknya. Wanita itu telah memiliki takdirnya sendiri dan itu bukan dengan dirinya.


"Maafkan aku. Kau harus melakukan sejauh ini untuk—"


"Lupakan saja. Sebenarnya aku ingin menjadi temanmu lagi. Aku tidak mau dibenci olehmu juga. Kau tahu Lucia tidak ramah lagi padaku."


Eve tersenyum, "dia berpihak padaku."


"Aku juga tahu itu. Jadi bagaimana?" Lucio mengulurkan tangannya.

__ADS_1


Eve membalasnya dengan menjabat tangan Lucio. "Kau selalu menjadi temanku."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2