The Choise

The Choise
Wanna be Yours


__ADS_3

"Minumlah." Memberikan segelas susu hangat pada Eve yang sudah terlilit selimut di atas ranjang dalam keadaan duduk.


Gadis itu menyesap susunya sedikit demi sedikit dengan Niel yang mengeringkan rambut basahnya.


"Bagaimana kau tahu aku disana?"


"Andrew," jawabnya, "dia melihatmu berdiri di depan ruangan Felipe dan menghubungiku. Untungnya aku sudah kembali dari Valencia."


"Maaf."


"Untuk apa?"


"Kau sudah melihatku seperti ini."


"Aku akan selalu bersamamu bagaimana pun keadaanmu."


"Aku tahu," gumam Eve.


"Kau juga kehujanan seperti aku, kemarilah." Membuka selimut yang menggulungnya agar Niel bisa masuk dalam pelukannya. Pria itu tidak menolak sama sekali.


Gadis itu membungkus Niel bersamanya seraya mengelus kepala Niel yang bersandar padanya. Pria ini seharusnya sudah pergi, kan? Kenapa dia kembali?


"Niel ...."


"Hm?"


"Kau tahu kenapa aku tinggal di Barcelona saat itu?" Pria itu menggeleng, "karena aku tahu ibuku ada disana." Niel terdiam.


"Dia masih sering datang ke kedai meski tempat itu bukan miliknya lagi. Itu sebabnya aku ingin memiliki kedai kecil itu agar tidak ditutup saat terjual oleh pemilik lama. Hanya di tempat itu aku bisa bertemu dengannya dengan benar."


Rosaria tidak akan datang lagi jika tempat itu ditutup, bukan? Lalu dimana ia harus melihatnya lagi setelah itu?

__ADS_1


"Kau sangat berharap padanya?"


"Setiap anak pasti merindukan orang tuanya meski tidak pernah melihatnya sekalipun. Itu naluri alami," jelas Eve, "tapi aku sudah memutuskan untuk mengakhiri semuanya."


Niel berusaha menahan emosinya tanpa sepengetahuan Eve. Sebelah tangannya mengelus telapak tangan Eve yang sempat terluka karena kuku panjangnya itu.


Kenapa gadisnya harus mengalami ini? Kenapa tidak sejak dulu ia mengenal Eve sehingga ia bisa membantu meringankan setidaknya sedikit beban gadis ini.


"Tidak apa-apa. Aku akan mendukung dan memberikan apapun yang kau ingin dan lakukan."


"Sungguh?"


"Tentu saja."


"Apapun?"


"Apapun."


"Aku tidak ingin menikah, Niel," cicitnya, "aku juga tidak ingin memiliki anak." Keputusan ini terdengar sangat egois, bukan?


"Kau tidak ingin menikah karena tidak ingin memiliki anak?"


Eve menggeleng di dadanya.


"Aku tidak bisa menjadi istri yang baik dan tidak bisa memberimu anak."


"Bagaimana kau tahu, hm?" Niel berujar lembut.


"Aku mungkin akan menjadi ibu yang buruk kelak."


"Kau tidak seperti itu." Niel masih berucap lembut dengan tangan mengusap-usap punggung Eve.

__ADS_1


"Bagaimana jika itu terjadi?"


"Aku tetap mencintaimu."


"Aku pemarah, egois dan keras kepala—"


"Aku tetap mencintaimu, Eve ... Selama kau bersamaku, aku tidak peduli kau mau menikah atau tidak. Tetaplah sisiku seperti ini."


Eve mendongak, mengecup bibir Niel cukup lama dengan mata terpejam.


"Kau pantas mendapatkan semuanya, Niel. Pernikahan, bahagia dan anak yang mirip denganmu, tapi tak bisa kupenuhi itu," ujar Eve penuh makna.


"Aku tidak peduli," bisik Niel mengusap bibir Eve dengan ibu jarinya, "aku hanya menginginkanmu." Keduanya bertatapan cukup lama hingga Niel membiarkan bibir mereka menyatu. Saling menaut kasar dan penuh nafsu satu sama lain.


"Niel ... Aku ingin menyerahkan diriku. Kau akan menjadi satu-satunya pria yang pernah hadir dalam hidupku. Tidak ada siapapun lagi, kau yang terakhir."


Niel kembali melu*mat bibir Eve dengan kasar. Ucapan Eve semakin membangkitkan nafsu yang selama ini ia tahan. Tangannya sudah menarik piyama gadis itu hingga tubuh atasnya yang tidak mengenakan bra terlihat jelas.


"Katakan kau menginginkanku." Niel mulai menelusuri leher Eve dengan kecupan dan lidahnya. Tangannya ikut bermain di dada Eve.


"I want you— and wanna be yours."


Biarkan Niel menjadi satu-satunya. Eve tidak ingin siapapun lagi selain pria ini. Hidupnya dan cintanya. Pria sehangat matahari yang memeluknya dikala kedinginan.


Saat hujaman kenikmatan menghentak bagian terdalamnya, erangan keluar dari bibir Eve yang langsung disambar buas oleh Niel. Malam panas itu akan menjadi saksi dua orang yang saling mencintai saling memberi kenikmatan satu sama lain. Berbagi cinta dan rasa sakit.


"Kuharap kau bahagia dan memiliki keluarga kecil yang membuatmu selalu tersenyum. Aku akan selalu bersamamu, Niel."


Seperti bayangan ....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2