The Choise

The Choise
Milik Seseorang


__ADS_3

Eve baru selesai memasak bersama Adaline saat suara tangis terdengar dari ruang keluarga. Eve dan Adaline segera melepas celemeknya dan pergi ke asal suara.


Ruby yang menjadi salah satunya berlari memeluk Eve setelah kedatangan wanita itu. Ada satu anak perempuan seumuran Ruby yang juga menangis.


"Ada apa ini? Kenapa kalian menangis?" Adaline bertanya.


"Mereka berebut boneka, Bu," jelas salah satu anak laki-laki yang lebih tua.


"Berebut? Bukankah kalian sudah memiliki masing-masing?"


"Dia mengambil milikku, Eve. Tangan boneka ku jadi putus!" adu Ruby sambil menangis.


"Benar begitu, Daisy?" tanya Adaline.


"Aku tidak sengaja, Bu." Daisy menunduk, "maaf, Ruby."


"Tapi boneka ku jadi rusak!" sahut Ruby lagi


"Ruby," tegur Eve lembut. Ia menggendong gadis kecil itu dan menggandeng tangan Daisy menuju Sofa, mendudukkan keduanya di sisi kanan dan kirinya.


"Coba ceritakan apa yang terjadi?"


Daisy menautkan jarinya gugup sambil berkata, "boneka milikku hilang, Eve. Aku hanya ingin meminjam milik Ruby sebentar."


"Lalu, Ruby?" tanya Eve lagi. Kali ini pada Ruby.


"Aku masih bermain dengannya, tapi Daisy ingin merebutnya."

__ADS_1


Kali ini Eve menatap Daisy lagi. Gadis itu langsung menunduk takut, "maaf," cicitnya.


Eve menghela nafas pelan seraya merangkul keduanya.


"Daisy ... Kau tidak boleh mengambil milik orang lain tanpa izin meski kau ingin meminjamnya."


"Dan Ruby ... Daisy sudah meminta maaf, kan?"


Keduanya mengangguk.


"Maaf, Ruby. Aku tidak akan mengulanginya lagi."


"Maafkan aku juga, Daisy."


"Ya sudah, jangan bertengkar lagi. Nanti kita pergi beli boneka yang baru. Yang lain juga dapat." Anak-anak jadi bersorak senang mendengarnya.


"Jika kau punya anak suatu saat nanti, kau pasti akan jadi ibu yang baik." Merangkul Eve menuju ruang makan setelah anak-anak berlari masuk lebih dahulu.


Eve terdiam. Anak ya? Mungkin tidak buruk juga setelah memikirkannya kembali. Selama dua tahun berada disini, ia merawat anak-anak bersama Adaline. Namun sejauh ini bisa dikatakan bahwa Ruby lah yang paling dekat dengannya. Ia ingat betul betapa menggemaskannya anak perempuan yang masih berusia lima tahun saat itu. Mungkin tidak masalah jika ia berpikir seperti ini dulu.


"Aku sudah menjadi milik orang lain, Bu. Aku tidak berniat memiliki anak dengan siapapun." Meski Niel sudah memiliki orang lain bahkan anaknya sendiri, tidak akan ada yang berubah. Lagipula inilah resiko dari pilihannya sendiri.


"Aku tahu itu. Kau selalu begitu."


-


-

__ADS_1


-


"Kudengar ada yang membutuhkan mainan baru!"


Anak-anak langsung berlarian mendekat saat seseorang baru saja masuk membawa banyak paparbag besar berisi mainan dan boneka. Eve mengikuti dengan santai di belakang mereka yang mulai berebut untuk memilih mainan mereka.


"Thank you, Dad." Eve memeluknya dengan erat.


"Apapun untuk putriku." Felipe memberi kecupan di kening Eve.


Beberapa bulan lalu Felipe menemukannya. Bukan— tapi baru menemuinya. Ayahnya berkata, "siapa yang tidak tahu keberadaannya ini. Kami sengaja membiarkanmu agar tidak mengganggumu."


Eve juga tahu jika ia takkan bisa bersembunyi dari mereka yang memiliki kekuasaan itu. Namun syukurlah keluarganya mau mengerti. Ia dengan Felipe sangatlah canggung awalnya, tapi siapa sangka Felipe mencairkan sifat dinginnya lebih dulu hingga mereka sedekat sekarang. Pria itu juga berkali-kali meminta maaf bahkan menangis di depannya. Berkata bahwa ia ayah yang buruk yang membuat putrinya memiliki mimpi untuk pergi.


Meski begitu tidak pernah sekalipun Felipe menceritakan lebih jauh dari hal itu tentang mereka. Ia paham jika Eve tidak ingin mendengar berita luar termasuk soal Niel. Ini baik untuk ketenangan batinnya, bukan?


Tidak lebih mungkin hanya sekedar mengatakan bagaimana keadaan mereka. Yang terpenting mereka semua baik-baik saja. Meski sering kali Eve menahan diri agar tidak menanyakan tentang Niel pada ayahnya. Ia menjadi semakin takut untuk mendengarkannya.


"Amy kesal padaku karena tidak bisa membujukmu pulang. Padahal dia sendiri yang melarang kami untuk menjemputmu dulu."


"Dia hanya menggertak saja. Jangan pikirkan itu."


"Thank you, Mr. Lavelle. Anak-anak menyukai hadiahmu." Adaline yang datang berucap senang.


"Senang mendengarnya."


"Kalian bicara saja, biar aku mengurus anak-anak." Menyentuh pundak Eve.

__ADS_1


"Thanks, Adaline," ucap Felipe.


__ADS_2