
"Happy birthday, Eve!"
Semua orang mengejutkannya di depan pintu kamar begitu ia keluar. Eve tersenyum dengan mata berkaca-kaca karena anak-anak yang memegang masing-masing kue yang di tangan mungil mereka.
"Mereka menghias kuenya sendiri untukmu, Eve," kata Adaline tersenyum lebar.
"Buat permohonan, Eve!"
Eve duduk di lantai dengan tangan bertaut sambil memejamkan mata. Anak-anak bersiap di depannya dengan kue masing-masing yang sudah terdapat lilin.
Kumohon jagalah anak-anak ini. Biarkan mereka tumbuh dengan melihat kebahagiaan.
Membuka mata, Eve meniup semua lilin di atas kue mereka dan mencium masing-masing pemiliknya.
"Thank you ..." Eve memeluk mereka semua yang merapat padanya setelah meletakkan kue berbagai macam corak itu di atas meja dekat kamar.
"Sama-sama!"
"Lihatlah kue siapa yang paling cantik!" Ruby sangat bersemangat.
"Kue ku lebih cantik dari milik Ruby," ujar yang lain.
Eve tertawa bersama Adaline melihat anak-anak bertengkar kecil.
"Semuanya bagus! Kalian kan membuatnya dengan cinta. Sudah pasti hasilnya bagus!" kata Eve pada mereka semua.
"Kami juga punya hadiah!"
Eve pura-pura terkejut, "Really?" Anak-anak mengangguk antusias.
"Tada! Agar Eve tidak melupakan kami."
Eve terpaku di tempatnya. Kali ini air matanya benar-benar keluar karena terharu. Mereka mungkin tidak memberikan kue yang cantik dan hadiah mewah, tapi ketulusan mereka jauh lebih berharga.
Eve menerima sebuah boneka beruang berukuran orang dewasa dari anak-anak itu dan memeluknya. Boneka yang sangat besar dari ukuran tubuh mereka sendiri untuknya.
__ADS_1
"Tidak mungkin aku lupa. Kalian anak-anak yang berharga! Pokoknya kalian harus tumbuh dengan baik." Sekali lagi Eve mencium pipi mereka satu-persatu, "aku mencintai kalian semua!"
"Kami juga sayang Eve! Terima kasih sudah datang. Kau harus datang lagi nanti. Janji!" Ruby memberi jari kelingkingnya agar Eve berjanji.
Eve terkekeh gemas. Mereka berkata seolah ia akan pergi. Meski begitu Eve tetap menerima uluran kelingking Ruby.
"Janji!"
"Sudah kubilang jangan khawatir, kan? Eve kalian pasti kembali," sahut seseorang yang membuat senyum Eve menghilang digantikan dengan tubuhnya yang membeku.
"Pokoknya tidak boleh ingkar janji!" ancam Ruby cemberut pada seseorang itu, "kau juga sudah berjanji, Niel!"
Benar. Pria di hadapannya sekarang adalah Niel. Eve berdiri linglung salah tingkah tanpa sadar. Wanita itu merasa panik sekaligus takut. Ya, hanya itu yang dia rasakan seorang Eve sekarang. Kenapa pria itu ada disini? Jangan lupa senyum menyeringai yang tertuju padanya itu. Seolah sudah menyiapkan beribu balas dendam untuknya.
"Baiklah, Ruby. Jangan memarahiku lagi. Aku juga membawa hanyak hadiah untuk kalian." Menyentuh kepala gadis kecil itu.
Senyum senang anak-anak terbit. Mereka serempak berlari menuju ruang keluarga tempat Niel meletakkan hadiah mereka.
Adaline menyentuh pundak Eve karena menyadari situasi yang canggung ini.
Sedangkan Eve tidak tahu harus bersikap apa. Sejak tadi ia menghindari tatapan Niel yang terus tertuju padanya itu.
"Gugup? Atau merasa berdosa?" Niel berjalan cukup dekat, "apa dua tahun belum cukup?"
"Apa— apa maksudmu?" Eve terbata-bata.
"Kau masih ingin disini sampai aku menikah?"
Sontak Eve mengangkat kepalanya hingga pandangan mereka bertemu.
"Dia pacarmu?" tanya Eve tanpa sadar.
"Kau berharap dia pacarku?" Niel balik bertanya.
Jarak keduanya sangat dekat hingga hidung mereka sudah bersentuhan juga Niel yang sudah mengurung tubuh Eve di tembok.
__ADS_1
"Bukankah— begitu?" Eve mulai tidak fokus. Ia bisa merasakan deru nafas Niel menerpa wajahnya.
"Kau mau aku mencintai orang lain?" Menyentuh bibir Eve dengan ibu jarinya.
Iya dan Tidak. Sejujurnya ia tidak pernah rela, namun keadaan memaksanya untuk mengatakan iya.
"Jangan seperti ini, Niel—"
"Apa?"
"Menjauh dari tubuhku."
"Kenapa? Kupikir tubuhmu ini sangat nyaman," bisik Niel di telinganya. Pria itu juga menggigit pelan daun telinganya.
"Niel—"
"Yes, Baby ... Aku merindukanmu. Kau tidak merindukanku?" Bibir Niel mulai menyapu wajahnya. Eve memejamkan mata dengan nafas menderu.
"Aku merindukanmu," jawab Eve tanpa sadar.
Sangat! Aku bahkan menangisimu setiap hari.
"Ya. Itu jawaban yang ingin aku dengar. Sekarang katakan apa ini kamarmu?"
"Iya."
Tanpa aba-aba Niel menariknya masuk dan mengunci pintu. Pria itu mendorong tubuhnya ke ranjang setelah mengunci pintu.
"Kau bisa menganggapnya hadiah ulang tahun dariku."
Eve tidak bisa menolak saat bibir pria itu sudah menyantu dengan bibirnya. Melu*matnya dengan rakus dan mencium dengan penuh gairah. Niel seperti memaksanya— tidak, ini memang pemaksaan. Eve mencoba berpikir jernih, tapi gagal.
Perasaan cinta dan rindunya mengalahkan pikiran warasnya karena sekarang ia membalas ciuman penuh gairah itu. Baju mereka sudah dilepaskan sejak tadi hingga pria itu kini bermain dengan tubuhnya sesuka hati yang membuat desa*han menyusup keluar di sela bibir Eve.
Seperti itulah pagi Eve berjalan. Cinta yang membuatmu bodoh dan melupakan keadaan sesaat. Ini akan membuatnya menyesal setelah menyentuh pacar orang lain, kan? Ya. Sekarang ia mengerti mengapa ibunya menjadi gila saat dicampakkan.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...