
Evelyn PoV
Akhirnya kami tiba di tempat yang disebut rumah. Letaknya tidak terlalu jauh dari kantor Niel dan— sangat besar. Ya bisa dibilang Niel membangun mansion untuk mereka tinggali bersama.
"Aku sudah memindahkan semua barang di apartemenmu dan memindahkannya kesini." Aku tidak berniat membantah dengan perkataan itu. Meski Niel menjual apartemennya sekalipun, ia tidak peduli.
Niel telah menyiapkan sebuah kamar yang akan dipakai kami berdua. Ya, untuk jangka waktu yang tidak di tentukan karena Niel bilang kami harus bersama selamanya. Pria itu tidak berharap kami akan berpisah lagi meski hanya terpisah kamar tidur.
Aku dan Niel datang kesini setelah mendengar beberapa makian dan tangis dari Amy dan keluarga lain yang aku tinggalkan. Mungkin karena aku nyaris menghilang dari pandangan kali ini. Dan jangan lupakan aku juga harus menghibur banyak anak-anak yang ingin sekali kubawa bersama. Tapi itu tidak mungkin. Jadi aku berjanji akan berkunjung setiap tiga bulan sekali.
"Kau suka?" Niel bertanya di belakangku. Sebenarnya tidak ada alasan untukku mengatakan tidak pada pertanyaannya, sebab kamar tidur kami nyaris persis seperti kamar
tidurku di mansion Lavelle.
"Aku bahagia, Eve," bisiknya setelah memeluk dan mengecup leherku, "aku sudah menahan diri. Jadi jangan pergi lagi. Katakan semua perasaanmu padaku karena aku bersedia menjadi rumahmu, menerima keluh kesahmu, kecemburuanmu dan semua kekuranganmu. Apapun itu selama kau bersamaku."
Aku tahu jika perbuatanku telah menimbulkan banyak luka. Dulu aku selalu berpikir bagaimana cara hidup tanpa menyakiti yang lain. Itu sebabnya pergi dan menjauh menjadi terpikirkan olehku. Amy, Lewis dan Andrea, mereka memang keluarga— keluarga yang mengasihiku karena orang tuaku sendiri tidak menerimaku.
Kenyataan itu tidak akan berubah. Aku cukup tahu diri sebagai orang luar yang menjadikan mereka keluarga. Aku mencintai mereka, tapi aku tidak ingin bergantung pada mereka.
Jika sekarang— apa aku telah menemukan rumahku sendiri? Tempat dimana aku tidak perlu khawatir lagi karena akan ada seseorang yang selalu bersamaku meski aku tidak diakui diluar sana. Dia mengakuiku, bahwa diriku adalah bagian dari rangkaian hidupnya.
__ADS_1
Nathaniel. Kenapa aku menyakitinya? Padahal ia hanya mengharapkan cinta yang terbalas. Ia tidak meninggalkanku meski aku meninggalkannya. Bahkan masih memelukku dengan penuh cinta seperti ini.
"Niel— aku sudah memikirkan banyak hal selama kau tidak ada," ungkapku. Sebenarnya aku tidak ingin bilang. Tapi aku tidak mau menyembunyikan perasaanku lagi.
"Setiap hari saat bermain dengan anak-anak, aku akan mengingatmu. Jadi aku berpikir, bagaimana jika yang berlarian sambil tertawa ceria itu adalah anak-anak kita? Mereka yang mengadu padaku karena pertengkaran kecil, kemudian merengek dengan manja. Mereka pasti mirip denganmu." Karena seperti itulah Niel merengek padaku dan menjadi manja. Membayangkan anak-anak kami memiliki watak Niel yang seperti itu menimbulkan kebahagiaan tersendiri untukku.
"Maafkan aku, Niel. Aku keras kepala dan kekanakan. Aku sudah menyakitimu. Aku tidak ingin lagi seperti ini. Aku ingin bersamamu selamanya."
Nyatanya aku telah memimpikan hal yang selalu aku hindari dulu.
"Ayo menikah." Ucapan itu lolos begitu saja, "dan memiliki anak yang mirip dengan kita." Seperti pembahasan yang pernah kita buat.
Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Niel sekarang. Tapi mata elang itu tidak bisa melepaskan pandangannya dariku. Namun matanya yang mulai berkaca-kaca seperti sudah menjelaskan.
"Jangan katakan jika kau akan berubah pikiran."
Aku terkekeh pelan, "tidak akan. Aku sudah yakin kali ini."
"Kalau begitu bulan depan."
"Minggu depan juga tidak masalah," candaku.
__ADS_1
"Baik, minggu depan!" Aku tidak tahan untuk tidak tertawa. Pria itu selalu serius, kan?
"Malam ini."
Tawaku terhenti, "apa?"
"Kita buat anak-anak lucu malam ini juga," bisiknya. Tanpa membiarkanku menjawab, bibir Niel sudah membungkam bibirku. Untungnya aku sudah terbiasa dengan hal itu. Aku membalasnya sehingga malam panas yang telah dilalui beberapa kali akan kembali terulang.
-
-
-
-
"Hidup adalah tentang pilihan. Ada yang kami sesali, ada yang kami banggakan. Beberapa akan menghantui kita selamanya. Pesannya: kita adalah apa yang kita pilih." — Graham Brown —
...— Tamat —...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Akhirnyaaaa selesai gaesss!!!! Tenang, masih ada extra chapternya kok😃