The Choise

The Choise
Bad News?


__ADS_3

Tidak ada yang berubah selama dua tahun ini di sebuah gedung pencakar langit milik keluarga George. Tidak ada— kecuali seseorang di dalamnya.


Brian baru saja masuk ke sebuah ruangan dimana ekspresi dingin Niel akan menyambutnya seperti biasa. Pria yang duduk di kursi kebesaran sebagai atasan itu tidak pernah tersenyum lagi sejak kepergian wanita yang di cintainya. Nathaniel George telah kembali ke pengaturan awal.


"Ini beberapa foto yang di ambil hari ini." Sebuah amplop coklat di berikan oleh Brian untuk Niel.


Tidak ada ekspresi berlebih dari Niel kecuali senyum sinis yang langsung terlontar setelah membuka amplop itu dan melihat isinya.


"Dia sangat puas dengan senyuman itu setiap harinya," datarnya.


"Dia memang banyak berubah—" Brian tidak melanjutkan ucapannya dan mengatup bibirnya begitu tatapan dingin itu menyorotinya.


"Bagaimana persiapannya?" tanya Niel kemudian setelah melempar amplop tersebut ke sudut meja.


"Aku sudah mengatur ulang jadwalmu dan nanti makan malam mu dengan Carol."


"Hm, pergilah."


Setelah kepergian Brian, Niel menatap ke arah meja lain yang pernah di tempati seseorang sebagai asisten pribadinya itu. Sudah lama sekali ya? Ya, bagi Niel sudah sangat lama sekali. Seharusnya wanita itu sudah cukup bersenang-senang, bukan?


-


-


-


"Untuk apa kemari, Dad?" Eve mengikuti malas ayahnya yang membawanya ke toko perhiasan.


Felipe tidak menjawab, namun telah menunjuk salah satu kalung di dalam etalase khusus. Kalung dari emas putih murni dengan berlian biru laut yang di desain bulat kecil.


"Dad?" Pria itu tanpa meminta izin langsung memasangkan kalung tersebut ke lehernya.


"Hadiah ulang tahun dariku." Selama ini ia belum pernah memberikan apapun untuk Eve sebagai hadiah.


"Ulang tahunku bukan hari ini."

__ADS_1


"Iya, tapi aku ingin menjadi yang pertama."


"Pas sekali kalung itu juga dibuat oleh seseorang untuk anak perempuannya," ujar SPG yang berjaga.


"Jadi kau membuatnya sendiri?" tanya Eve pada ayahnya itu.


"Tidak!" kilah Felipe cepat.


"Begitu ..." Eve menahan senyum, tidak berniat menggoda ayahnya lebih jauh. Namun ia senang jika memang Felipe yang mendesainnya sendiri. Kalung itu jelas perhiasan yang dikeluarkan oleh perusahaan Lavelle. Jangan pikir Eve tidak tahu.


"Thank you, Dad. Aku menyukainya."


"Baguslah," katanya memalingkan wajah malu. Setelah membayar sejumlah uang, keduanya menelusuri mall sambil bergandengan tangan. Sudah lama Eve tidak melakukan ini, terlebih bersama ayah biologisnya sendiri.


"Bagaimana keadaan Andrew?" tanya Eve.


"Seperti biasanya."


"Bisa katakan lebih spesifik?" Artinya jangan bicara singkat begitu!


"Sendirian?"


"Hm. Tidak memiliki pacar."


"Sepertinya belum ada perkembangan ya," gumam Eve.


"Dad tahu temanku Lucia menyukai Andrew," ungkap Eve kemudian.


"Oh. Sekretaris itu?" datar Felipe acuh. Sebenarnya tidak begitu tertarik dengan kisah percintaan anak-anaknya termasuk Eve sendiri.


"Ya. Benar."


"Jadi yang kulihat waktu itu salah ya." Felipe bergumam pelan, namun masih terdengar oleh Eve.


"Melihat apa?"

__ADS_1


"Teman yang kau sebut itu berciuman dengan bawahan Ni— mantan pacarmu."


"SERIOUSLY?!" pekik Eve, "maksudmu Brian? Lucia dan Brian berciuman?"


"Ya. Kupikir itu kekasihnya."


"Astaga ... Aku sudah melewatkan banyak hal. Apa Lucia baik-baik saja," kata Eve sedikit khawatir.


Eve meminta maaf dalam hatinya pada Lucia yang tidak pernah terdengar kabarnya. Apa yang terjadi pada wanita itu jika benar Lucia bersama Brian. Padahal Lucia pernah begitu tergila-gila pada Andrew.


Hahh ... Eve hanya bisa menghembuskan nafas pelan. Benar juga. Sudah dua tahun ia mengasingkan diri. Pasti sudah banyak yang berubah dari semua orang.


"Bagaimana dengan—" Bibir Eve menjadi kelu untuk melanjutkan kalimatnya.


"Hm?"


"—Niel?" Pada akhirnya ia ingin mendengarkannya.


Felipe diam saja sambil menatapnya datar meski Eve tampak menunduk sambil memainkan jarinya.


"Kau benar-benar ingin tahu?"


Apa ia ingin tahu? Ya. Sudah sejak lama ia menahan diri. Apa ini akan jadi kabar buruk atau kabar baik baginya?


"Aku penasaran."


"Aku tidak terlalu peduli, tapi kudengar dia berkencan dengan seseorang." Begitu sekilas yang Felipe dengar tentang Niel. Tidak tahu bagaimana kebenarannya. Felipe tidak peduli dengan berita seperti itu.


Sedangkan Eve langsung terpaku di tempatnya. Matanya seperti memanas dan menampung cairan bening. Wah ... Apa ini? Kenapa rasanya sesakit ini?


"Eve?"


Syukurlah Eve berhasil menahan diri dan tersenyum pada ayahnya.


"Ayo pulang." Eve melangkahkan kakinya lebih dulu mendahului Felipe yang mengerjit.

__ADS_1


Diam-diam Eve menyentuh dadanya yang seperti tertikam sesuatu. Seperti luka yang menganga lebar.


__ADS_2