The Choise

The Choise
Pemenang


__ADS_3

Brian yang berkutat serius langsung teralihkan. Melihat Eve menginjakkan kaki di ruangannya adalah hal yang langka karena dirinyalah yang biasanya mendatangi Eve.


"Kau kerasukan?" Setelah melihat Eve meletakkan kopinya dengan cukup kasar di meja.


"Habiskan!"


"Apa?"


Brian menatap kopi itu dengan bingung.


"Kau menaruh racun di dalamnya, kan?" Brian memincing curiga.


"Kau punya?"


"Apa?" Pria itu lagi-lagi kebingungan.


"Racun," jawab Eve datar.


"Hah?"


Eve menatapnya malas kemudian mengambil kembali dua cup kopi itu menuju keluar. Brian tampak bodoh di tempat duduknya.


"Sepertinya dia memang sakit." Mengedikkan bahu acuh seraya melanjutkan pekerjaannya.


Eve baru saja mendekat pada pintu, tapi teriakan marah Niel sudah terdengar sangat keras karena pintu yang tidak tertutup rapat. Sontak Eve langsung menerobos masuk.


Entah apa yang terjadi karena Zarina sudah berlutut di lantai sambil menangis dengan Niel yang mengepal marah. Rahangnya mengetat disertai tatapan tajam yang menusuk.


"BERANINYA KAU MENYENTUHKU!" teriak Niel sangat marah sembari menggosok-gosok tangan serta bagian lehernya dengan kasar.


"Aku— aku tidak bermaksud—" isaknya. Niel sudah berubah. Pria itu tidak sama seperti dulu.


"DIAM KAU!"


Niel terus menggosok seolah ada sesuatu yang menempel dan menggerogoti tubuhnya.


Eve meletakkan kopinya dengan asal dan berjalan cepat mendekati Niel, melewati Zarina yang masih berlutut dengan isakan kecilnya.

__ADS_1


Setelah mengambil beberapa tisu basah, Eve membantu membersihkan bagian-bagian yang digosok Niel dengan lembut. Pria itu sudah berhenti menggosok sejak Eve menyentuhnya.


"Eve ... Aku tidak melakukan apapun." Niel khawatir Eve akan salah paham padanya.


"Kau sangat ceroboh. Mudah sekali disentuh wanita." Jika tidak salah ini ketiga kalinya, kan?


"Eve—"


"Aku memintamu menyelesaikan masalahmu secepatnya, bukan mencari masalah baru." Eve sudah berbalik menatap Zarina.


"Siapa kau?" Zarina penuh tanda tanya.


"My future wife." Niel yang menjawabnya, bukan Eve.


Zarina terdiam dengan lelehan air matanya. Ternyata sudah sangat terlambat untuk memperbaikinya. Wanita itu telah menjadi bagian dari hidup Niel.


"Seharusnya kau tidak membiarkan kami bertemu." Tapi Eve sendiri yang mengantarkannya pada Niel.


"Aku tidak ingin terjadi hal yang tidak di inginkan di masa depan, apalagi jika berkaitan dengan masa lalu. Jadi bicarakan lah dengan baik dan putuskan," pinta Eve tanpa ekspresi, kemudian berbalik menatap Niel kembali.


"Tidak ada yang perlu di bicarakan." Tak kalah datarnya dengan Eve.


Tangan Eve terulur menyentuh rahang tegas yang masih mengetat erat itu.


"Jadi bicarakanlah kali ini," bisik Eve memohon.


Keinginannya masih sama— tidak ingin bernasib seperti ibunya. Ia harus memastikan siapa yang benar-benar Niel pilih saat pilihan kedua sudah muncul seperti saat ini. Jika dirinya bukan pilihan, maka ia hanya perlu kembali seperti dulu kan? Kembali pada tujuan awalnya— tanpa siapapun dan sendirian.


"Apa yang kau lakukan?!" hardik Brian tak habis pikir. Bagaimana bisa Eve membiarkan keduannya begitu saja dan pasrah.


"Aku tahu maksudmu, tapi bukan begini caranya, Evee ..." Brian menahan diri, "sebenarnya kau mencintainya atau tidak?"


Cinta?


"Jangan bilang kau masih tidak mengerti?"


"Apa itu akan berguna?" tanya Eve menatap lurus ke arah pintu. Rosaria tetap kalah meski ia mencintai Felipe. Hal ini bukan hanya tentang cinta, tapi pada siapa seseorang akan memilih.

__ADS_1


"Kau akan mengerti betapa bergunanya hal tersebut saat pintu itu terbuka."


Belum lama setelah Brian mengatakan hal itu, pint ruangan Niel terbuka dan menampakkan sosok Zarina yang tersenyum kearahnya.


"Aku sudah tahu bahwa aku telah kalah saat melihat tatapan Niel padamu." Zarina terdiam sesaat, "dia tidak pernah menatapku sedalam itu. Aku sudah kalah bahkan sebelum kau datang."


Zarina kalah? Maka itu artinya—


"See? Jangan remehkan cinta Niel, Eve," bisik Brian.


"Terima kasih sudah memberiku kesempatan. Semoga kalian selalu bahagia." Zarina menundukkan kepalanya sedikit dengan tersenyum, kemudian meninggalkan mereka.


Eve langsung terburu-buru menuju pada Niel tanpa menghiraukan Brian yang berdecak. Di dalam sana Eve langsung memeluk Niel dengan sangat kuat.


"Aku mencintaimu." Hal itu yang pertama kali dilontarkan Niel terhadapnya.


"Aku juga mencintamu," bisik Eve dalam.


"Apa aku menang sekarang?"


"Kau sudah lama menang."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nih aku kasih visual mereka


...Zarina Mckenne...



...----------------...


...Nathaniel George...



...----------------...

__ADS_1


...Evelyn Lavelle...



__ADS_2