The Choise

The Choise
Tempat yang Sederhana


__ADS_3

Seorang wanita sedang duduk di kursi taman yang tidak terlalu luas sambil termenung. Ada jejak air mata di sekitar matanya yang sedikit membengkak.


Wanita itu mengalihkan atensinya saat merasakan sesuatu menarik bajunya. Terlihat aeseorang anak perempuan berusia tujuh tahun berdiri sambil memeluk boneka besar seukuran tubuhnya sedang menatapnya.


"Kau menangis lagi, Eve?" tanyanya.


Wanita itu adalah Eve yang dua tahun ini telah menetap di sebuah panti asuhan kecil yang tidak sengaja ia temukan di pinggiran kota London, Inggris. Awalnya tidak ada ketertarikan bagi Eve yang memiliki tujuan lain, namun rasa penasarannya membawanya masuk ke tempat ini hingga sekarang.


"Sepertinya begitu," jawab Eve sambil menyeka matanya yang basah.


"Kau merindukan Niel lagi?" Eve mengangguk.


"Kau pasti sangat sedih. Aku akan memelukmu agar kau tidak menangis lagi." Anak perempuan itu meletakkan bonekanya di sebelah Eve dan naik kepangkuan Eve untuk memeluknya.


"Thank you ... Kau semakin pintar ya, Ruby." Eve membalas pelukannya sambil terkekeh pelan.


"Ruby kan sudah besar!"


"Benar, Ruby-ku sudah besar dan semakin tinggi."

__ADS_1


Eve memejamkan matanya seraya menumpukan dagu di bahu kecil Ruby. Ia menyukai tempat sederhana ini. Memang sederhana, namun melahirkan banyak cinta tulus dari anak-anak yang kehilangan banyak cinta sedari kecil. Selama dua tahun ini ia telah memulai untuk sembuh.


"Eve, Ruby, kalian sedang apa?"


"Eve menangis lagi, Ibu," adunya pada wanita paruh baya yang muncul.


"Begitu ... Terima kasih karena sudah memeluk Eve." Adaline tersenyum sambil memberi elusan di kepala Ruby yang juga tersenyum lebar.


"Ruby sangat pintar kan, Bu?" goda Eve.


"Tentu saja, anak-anak ibu semuanya luar biasa!"


Wajah Ruby memerah malu. Gadis itu langsung menyembunyikan wajahnya di leher Eve, membuat Eve dan Adaline tertawa bersama.


"Eve, tidak boleh bersedih lagi, ya!" teriak Ruby sebelum menghilang di balik pintu. Eve hanya tersenyum. Tinggal lah Eve dan Adaline disana.


Adaline merengkuh pundak Eve kemudian menepuk-nepuk lengannya dengan lembut.


"Dua tahun yang menyiksa, bukan?" Adaline menghembuskan nafas pelan. "Saat kau pergi dengan mencintai seseorang, terkadang memang seperti itulah rasanya."

__ADS_1


Saat melihat Eve pertama kali, Adaline menyadari wanita ini datang membawa luka. Matanya yang sejuk dan kosong seperti ingin lari dari kehidupan manusia. Adaline telah melihat banyak kesedihan dan masalah sebagai ibu dari anak-anak yang terbuang.


"Seperti apapun rasanya, itulah yang harus ku terima."


"Benar, karena itulah pilihanmu."


Saat memutuskan sesuatu, sudah seharusnya kita juga memikirkan konsekuensinya.


"Kau masih ingin disini? Bagaimanapun mereka adalah keluarga yang kau punya.


"Aku pasti kembali," gumam Eve, tapi apakah ia siap untuk bertemu Niel lagi? Bukan— ia takut.


Selama ini ia menutup diri dari dunia luar dan tidak mengetahui berita apapun mengenai keluarganya atau Madrid. Mungkin karena ia takut untuk mendengar kabar Niel. Sudah tahun untuk Niel melupakannya, kan? Mungkin juga ia akan seperti Zarina yang melihat mantan kekasihnya bersama orang lain karena kesalahannya.


"Sebaiknya kita juga masuk."


Keduanya baru menutup pintu, tapi suara candaan anak-anak langsung terdengar ramai. Beberapa dari mereka berlarian saling mengejar, juga ada yang bermain di lantai. Jika dulu ia tidak suka keributan, namun sudah berbeda sekarang.


"Eve, ayo bermain dengan kami!" pekik salah satu dari mereka.

__ADS_1


"Sure!"


Di tempat ini Eve melihat banyak hal. Adaline adalah ibu yang luar biasa dan anak-anak adalah harta yang berharga. Mereka tidak sedarah, tapi mereka berhasil menjadi keluarga yang lebih baik. Bukan soal siapa dirimu, tapi bagaimana kita hidup dengan menerima keadaan. Hidup tentu tidak selalu sesuai dengan harapan, tapi dengan menerima kita bisa mengubah keadaan.


__ADS_2