
Felipe tidak melanjutkan langkahnya untuk menghampiri Eve setelah melihat seseorang yang bersamanya. Tertawa lepas Eve yang belum pernah Felipe lihat membuatnya merasa haru. Harus ia akui bahwa dirinya selalu kalah dengan sosok pria yang sudah menetap di hati putrinya.
"Dad!" pekik Eve sambil melambaikan tangannya.
Wanita itu sudah basah kuyup dengan selang air yang menyala. Begitupun dengan keadaan Niel yang memiliki kondisi sama. Keduanya saling menyerang dengan air sambil tertawa.
Felipe tersenyum mendekati putrinya yang langsung memeluknya.
"Ups! Kau jadi basah." Namun Eve tidak merasa bersalah sama sekali, justru tertawa dengan ceria.
Betapa senangnya Felipe melihat hal tersebut meski wajahnya tetap terlihat datar seperti biasa. Tangannya terulur mengelus rambut basah Eve.
"Diluar dingin."
Keberadaan Niel seperti angin baginya karena di matanya hanya ada Eve.
"Kami hanya bermain sebentar, Dad."
"Kita berhenti saja." Niel mengambil handuk kering yang diberikan Adaline sebelumnya dan membungkus Eve.
"Baiklah, Dad. Kami ganti baju dulu."
Felipe hanya mengangguk datar meski hatinya hendak memaki. Bocah itu terlalu menguasai putri kecilnya yang polos!
Niel sebenarnya menyadari tatapan tidak suka Felipe padanya, namun ia tidak peduli dengan itu. Toh tujuannya adalah Eve. Bukan sekali dua kali, tapi sudah berkali-kali setiap kali mereka berhadapan. Felipe jelas tidak menyukainya sejak pertemuan pertama dulu.
"Sepertinya ayahmu masih tidak menyukaiku. Dia pasti cemburu karena putrinya lebih menyukaiku," cibir Niel.
"Tidak perlu di pikirkan," acuh Eve.
"Aku memang tidak mau memikirkannya." Setelah itu Eve melihat senyum khas pria itu yang menandakan ada yang tidak beres. Benar saja. Tanpa sempat berpikir tubuhnya sudah terangkat.
"Niel!
__ADS_1
-
-
-
-
Brian menghentikan mobilnya setelah mencapai parkiran. Seperti biasa tujuannya adalah seorang wanita yang selalu duduk di pojok restoran setiap jam makan siang. Iya, wanita si pemilik restoran itu sendiri.
"Apalagi yang kau pikirkan?" Setelah mendudukkan bok*ong nya di kursi seberang Lucia.
"Eve," jawabnya langsung.
"Kau bilang sudah menghubungi, kan?"
"Ya, tapi dia tidak menghubungiku lagi."
"Kalau begitu kau saja yang menghubunginya lagi."
"Tidak perlu," santai Brian, "tunggu saja dia disini."
"Apa Niel sudah pergi?"
"Ya."
"Really?"
"Iya!"
"Ahh ... bahagianyaa." Lucia menggeliat senang.
"Kau sesenang itu. Bagaimana denganku?" Brian mengetuk meja dengan jari telunjuknya.
__ADS_1
Lucia seolah tidak mendengarnya karena wanita itu sudah memalingkan wajah keluar kaca.
"Cuacanya agak dingin," kata Lucia kemudian.
Brian mencibir dalam hati. Jika mengenai Eve, wanita itu cepat sekali berbicara dan bertindak, tapi hal lain? Seperti kata Eve dia pemalas!
"Padahal aku datang setiap hari. Tapi seseorang tidak menghargaiku sama sekali." Brian mendramatisir.
"Hei! Jangan membuatku seperti wanita jahat!" bentak Lucia.
"Lihat, kau mendengarnya!"
Lucia memalingkan wajah lagi, "sekarang cuacanya agak panas."
"Jangan pura-pura tidak dengar!"
Lucia masih tidak bergerak.
"Kau menyiapkan sesuatu untuk Eve. Kemarin kan ulang tahunnya—"
"Aku sudah menyiapkan sesuatu yang istimewa," jawaban cepat.
"Cih! Benar-benar. Pacaran saja dengannya sana," katanya kesal seraya beranjak dari kursinya.
"Kau mau kemana?" teriak Lucia pada Brian yang mulai menjauh.
"Bekerja! Aku bukan bos kaya seperti Andrew!"
"Kenapa membawa-bawa Andrew! Hei!"
Lucia menghela nafas kasar sambil memperhatikan Brian yang sudah hilang di balik pintu restoran itu. Kenapa pria itu jadi sangat sensitif sekarang? Namun sedetik kemudian Lucia segera menggeleng.
"Dia kan memang seperti itu sejak awal!" Lucia mengedikkan bahu acuh.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...