The Choise

The Choise
Hanya Kesal


__ADS_3

Eve yang hampir terlelap lebih dulu menjadi terusik saat seseorang masuk dalam pelukannya. Siapa lagi jika bukan Niel pelakunya. Eve tidak ambil pusing dan membiarkan pria itu tenggelam dalam dekapannya.


Aroma sampo di rambut lembab Niel tercium jelas di Indra penciumannya. Tangan Eve terulur mengelus kepala Niel di dadanya.


"Kau membicarakan apa dengan Brian?"


Eve yang terpejam mengerutkan kening. Elusan tangannya juga berhenti.


"Ada kontaknya di riwayat panggilanmu," ujarnya disertai dengan nada tak suka.


"Aku bertanya mengenai jadwal dan pekerjaanmu," datar Eve.


Niel langsung berdecak dan semakin memeluk Eve. Bibirnya sudah menempel di leher Eve.


"Sudah kubilang aku tidak akan pulang tanpamu!"


"Aku tidak menyuruhmu pulang sendiri. Kita kembali ke Madrid besok."


"Kenapa tiba-tiba? Kau bilang masih beberapa hari lagi."


"Aku bukan pengangguran lagi dan aku membawa bos mereka hingga melalaikan pekerjaannya."


Ck! Menyebalkan. Padahal disini ia punya waktu lebih banyak untuk bersama Eve.


"Jangan mencibir dalam hati. Pergilah tidur." Setelahnya Eve melepas pelukannya dan berbalik badan membelakangi Niel yang langsung memberengut tidak suka.


"Apa-apaan! Kenapa berbalik." Niel mengguncang pelan lengan Eve yang kemudian ditepis halus.


"Babyy!"

__ADS_1


"Mulai sekarang jangan memeluk atau menciumku sesuka hati lagi sampai ku izinkan. Jika berani, kau tidak akan melihatku lagi."


Whatt?!


Niel seketika menjauhkan tangannya. Pria itu turun memutari ranjang untuk menghadap Eve.


"Aku melakukan kesalahan apa?"


-


-


-


Nyatanya belum ada kejelasan pasti hingga mereka menginjak bandara. Eve rupanya serius dengan ucapannya yang melarang dirinya melakukan hal yang biasa dilakukan. Niel sudah merasa frustasi sejak bangun karena tak dapat menyentuh Eve.


"Baby, sebenarnya apa kesalahanku?" tanyanya lesu.


Jika tidak ada, tidak mungkin seperti ini!


Padahal Eve kesal saja saat Niel memeluk atau menciumnya, ia jadi membayangkan perlakuan Niel pada wanita berambut pirang itu. Ya meskipun hanya masa lalu, tapi tetap saja ia kesal.


Ternyata begini rasanya setelah memiliki perasaan. Secara alami ia bertindak bodoh dan konyol menurutnya. Padahal ia sudah mencoba menahan diri, ck!


Jika dipikirkan lagi, Niel pasti sangat mencintai mantan kekasihnya dulu sampai pria itu bisa memiliki OCD dan membenci banyak wanita. Sebegitu cintanya hingga tidak rela ada orang lain lagi dalam hidupnya. Ck! Sekali lagi Eve berdecak.


"Baby—"


"Eve!" teriakan Lucia sangat terdengar disana. Wanita itu melambai-lambaikan tangan di udara dengan wajah sumringah.

__ADS_1


"Selamat datang kembali, Sayangku," peluk Lucia, Eve membalas pelukannya.


Niel di dekat Eve seketika menampilkan raut dingin dan datarnya. Ia menatap tidak suka pada dua orang yang dianggap akan menganggu waktunya bersama Eve.


"Kenapa ada mereka berdua?"


Selain Lucia, rupanya juga ada Brian yang sekarang mengusap tengkuknya canggung. Belum lagi tatapan Niel yang semakin tajam menusuknya.


"Aku yang menyuruh mereka datang," jelas Eve. Brian menghela nafas lega karena merasa terselamatkan.


"Untuk apa?" Nada tak suka Niel begitu jelas.


"Aku pulang dengan Lucia dan kau pulanglah dengan Brian." Rumah mereka kan sudah berbeda, tidak ada alasan untuk bersama lagi, "jangan menyela! Kau tidak akan tinggal di rumahku lagi, kan?"


Lucia dan Brian saling menatap. Sepertinya ini masalah kemarin, pikir mereka sama. Sebenarnya Lucia juga sudah menduga sejak Eve meminta dijemput padahal sedang bersama Niel.


Tidak apa-apa lah, pikir Lucia. Biarkan Eve merasakan juga perasaan bercampur aduk tentang cinta. Gadis itu kan benar-benar tidak berpengalaman.


"Babyy!!"


Lucia nyaris menjerit mendengar rengekan Niel pada Eve. Ya Tuhan ini nyata, ini nyata! Berbeda dengan Brian yang memutar mata jengah. Aku sudah melihatnya setiap hari di kantor!


"Pulanglah. Istirahat yang benar dan jangan kemana-mana. Jangan bolos bekerja besok!" Meski begitu Eve masih memperhatikannya.


"Kau akan bekerja besok, kan?" Memegang tangan Eve sambil mengayunkan kecil.


"Seharusnya kita menunggu di luar saja tadi," bisik Brian pada Lucia yang tidak bisa menahan ekspresi terharunya.


"Mereka benar-benar serasi," katanya tak mendengar ucapan Brian.

__ADS_1


Terserah!


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2