The Choise

The Choise
Lakukan Lagi!


__ADS_3

"Eve!" Amy langsung memeluknya begitu pintu apartemen dibuka oleh Niel.


"Kau tidak apa-apa?!" Menyentuh bagian tubuhnya, memastikannya baik-baik saja.


"Memangnya aku habis melakukan apa hingga Mom memeriksa semuanya?"


Lewis masih berdiri di dekat pintu bersama Niel yang tersenyum tipis. Lewis menepuk punggung Niel sekilas kemudian ikut duduk bersama istri dan anaknya.


"Jangan pikirkan ucapan Rosaria. Dia pasti tidak sadar dengan ucapkannya."


Felipe sudah menceritakan semuanya saat mencari Eve yang ternyata tidak kembali ke rumah. Pada akhirnya Lewis dan Amy menjadi khawatir dan mendesak Felipe agar mengatakan apa yang terjadi. Tentu hati mereka ikut terluka mengetahui apa yang di dengar Eve dari mulut ibu biologisnya sendiri. Keduanya menjadi sangat khawatir apalagi mereka sangat mengenal Eve yang memiliki keinginan kuat untuk pergi sesuai mimpinya dulu. Mimpi yang tidak dapat mereka penuhi dan terlalu menyakitkan.


"Aku tidak apa-apa, Mom, Dad." Eve memeluk dirinya sendiri dan bersandar pada Niel yang merengkuh lengannya.


"Pantas saja Daniela sering mengeluh jika putranya jarang pulang ke rumah. Ternyata kalian berdua menatap disini," kata Lewis, tapi jika mengetahui bahwa Niel tinggal bersama Eve, Daniela mungkin tidak akan mengeluh lagi.


"Aku kan sudah bilang padamu waktu itu. Mereka selalu bersama!" hardik Amy.


"Sudah, tinggal saja disini dengan nyaman." Siapa yang tahu jika Eve akan berubah pikiran tentang pernikahan, jadi anggap saja ini latihan.


Eve tidak banyak bicara sejak tadi, hanya mendengarkan obrolan-obrolan ringan yang dilontarkan orang tua angkatnya ini. Eve memperhatikan ketiganya satu-persatu dalam diam dan tanpa emosi yang jelas.


Terkadang Eve termenung dan melamun hingga Niel harus memanggilnya berkali-kali. Bahkan sampai kedua orang tuanya pergi


"Kau banyak diam sejak tadi. Ada apa?" Mengelus pipi Eve dengan lembut.


"Aku hanya mengantuk."


Niel terkekeh mendengarnya kemudian memberi ciuman sekilas beberapa kali di wajah dan bibir Eve.


"Padahal aku ingin melakukannya lagi." Tapi karena Amy memberitahu akan datang, terpaksa ia membantu Eve membersihkan diri.


"Kau harus bekerja," peringat Eve pelan sembari menyentuh mata dan rahang tegasnya. Niel menikmati perlakukan lembut itu dengan memejamkan matanya, tapi tak bertahan lama saat tarikan di pipinya tak terhindarkan.


"Kau tidak dengar! Kubilang bekerja, Niel."

__ADS_1


Pria itu tertawa puas dan memeluk Eve cukup erat. Kecupan bertubi-tubi kembali di lakukan Niel pada bagian lehernya kemudian bergerak naik hingga menyambar bibirnya.


"Emhh ... Ni— el!"


"Kau menggemaskan, Baby." Niel tertawa seraya mengusap saliva yang tertinggal di bibir gadisnya itu.


"Lakukan sekali lagi," bujuk Niel.


"Tidak," datar Eve.


"Babyy ...."


"Milikku masih sakit!"


"Tidak akan sakit lagi, aku janji."


"Tidak."


"Sekali saja!" Pria itu memohon.


"Kali ini sungguhan."


Eve hanya menatapnya saja tanpa menjawab.


"Boleh? Ayo!" Tanpa persetujuan Eve, Niel sudah menggendongnya menuju lantai atas tempat kamar mereka berada.


"Aku belum menjawab!"


"Apa? Mandi bersama juga? Baiklah, Baby."


"Niel!"


"Aku juga mencintaimu."


-

__ADS_1


-


-


-


Niel:


"Malam ini aku harus lembur. Mau makan siang bersama di kantor?"


Me:


"Tentu, akan ku buatkan sesuatu."


Niel:


"Really?"


Me:


"Tidak percaya? Tunggu saja."


Niel:


"Baiklah, Baby. Aku akan menunggu."


Eve masih menulis beberapa kata dalam buku diary miliknya saat Niel mengiriminya pesan. Selain buku, ada beberapa lembar kertas yang sudah selesai dibuatnya. Setelahnya Eve pergi menuju dapur untuk memasak sesuatu. Ya, memasak sungguhan.


Beberapa hari ini ia sudah berlatih memasak setiap Niel pergi bekerja. Mengenai pekerjaan, Eve tidak pernah pergi bekerja lagi. Ia menjalani rutinitasnya di apartemen seperti seorang istri yang menunggu suaminya pulang. Eve tersenyum tipis saat memikirkannya.


Meski tak banyak yang bisa Eve masak, tapi ia sudah membuat sebaik yang dirinya bisa melalui aplikasi yang ia tonton.


Eve terdiam sejenak menatap beberapa hidangan yang dibuatnya. Hal ini juga akan menjadi salah satu kenangan mengenai Niel. Buliran bening di matanya menetes jatuh tanpa disadari. Eve segera menepisnya dan bersiap untuk pergi ke kantor Niel.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2