The Choise

The Choise
Menjadikan Ratu


__ADS_3

-


-


-


María dan Abel langsung terdiam setelah perkataan Niel.


"Itu benar, María, Abel. Itu sebabnya aku membawanya kesini agar kalian mengenalnya."


"Kalau begitu maafkan kami." Keduannya menyesal.


"No, tidak masalah! Kalian tidak tahu apa-apa." Eve segera menepisnya dengan mempelototi Niel.


"Iya, aku tidak menganggapnya masalah."


"Kalau begitu kami akan memasak."


Setelah dua orang itu pergi, Eve memukul lengan Niel cukup kuat dengan kekesalannya.


"What? Kau tidak suka Lucia menjadi mantanmu?"


Lihat, lihat! Pria ini sudah mengoceh lagi.


"Tidak ada yang seperti itu!" sangkal Eve.


"Mereka berdua sudah seperti orang tua bagiku. Mereka memiliki satu anak perempuan berusia sepuluh tahun yang ikut bekerja setelah pulang sekolah."


Ini masih pagi, kedai juga masih belum ada pengunjung kecuali Niel dan Eve.


Niel mengangguk, "sebenarnya kau membeli kedai untuk mereka."

__ADS_1


"Anggap saja begitu."


"Eve dan calon suaminya, ini sarapan kalian." María datang dengan antusias.


Niel langsung menaikkan dagu disebut begitu. Eve mencibir melihatnya.


"Panggil saja dia Niel, María."


"Ah, baiklah."


María tak henti tersenyum menatap keduanya dari dalam. Saat bersama Lucio, belum pernah ia melihat Eve senyaman itu bersama seseorang seperti bersama Niel hari ini. Gadis itu juga menampilkan banyak ekspresi seperti kesal, tersenyum, juga memberengut. Bukan raut datar yang sering membuat orang salah paham.


"Nathaniel itu adalah Eve versi pria." Dari awal melihat Abel sudah tahu betapa dinginnya pria itu.


"Aku juga tahu! Makanya aku terkejut dia pacar Eve."


"Ada yang bilang sifat seseorang akan berubah setelah bertemu seseorang yang memiliki sifat sama," kata Abel tersenyum.


"Mereka pasti saling menyesuaikan. Manisnya."


Eve tidak mempermasalahkannya lagi karena sudah mengerti penyebabnya. Jadi sengaja menyendok piringnya sendiri untuk menyuapi pria ini makan.


"Ini bersih, buka mulutmu." Niel menurut saja selama itu Eve.


"Kau pulanglah besok. Brian pasti kesulitan kau pergi tiba-tiba."


"Memangnya aku mengikuti siapa?"


"Bisa tidak jangan membalik ucapanku?" datar Eve.


"Aku tidak akan pulang jika kau tidak pulang!"

__ADS_1


"Aku pasti pulang!"


"Kalau begitu aku mengikutimu, toh kau juga akan pulang," santainya.


"Kalau begitu makan sendiri!"


-


-


Niel duduk tenang di mejanya dengan sabar sambil memperhatikan Eve yang berlalu lalang melayani pelanggan disana. Niel sebenarnya tidak suka gadis itu melakukannya, namun melihat wajah berseri Eve yang selalu tersenyum ia memilih diam.


Seperti perkataan Eve, kebanyakan hanya para lansia entah itu perempuan atau laki-laki.


"Bagaimana kesehatan anda? Tentu saja sangat baik. Anda jauh lebih bugar dan sehat."


Itulah kata-kata yang banyak Niel dengarkan dari mulut Eve hari ini. Pria itu tak bisa tidak tersenyum saat memperhatikan Eve yang sekarang sedang merapikan beberapa baju barunya di lemari. Niel mengajaknya berbelanja lagi setelah pulang dari kedai.


"Mereka orang-orang yang tulus, Niel. Aku selalu tidak tega melihat wajah tua mereka yang lelah."


"Kita akan seperti itu nanti." Niel memeluknya dari belakang.


"Kita? Cih! Aku tidak mau mengurus bayi besar!" ketus Eve.


"Aku yang akan mengurusmu, tenang saja. Aku akan menjadikanmu ratu yang membuat iri seluruh wanita di dunia ini."


"Aku bisa meratukan diriku sendiri."


"Tidak boleh! Karena aku disini kau harus menggunakanku!" kata Niel semakin mengeratkan pelukannya.


Terserah!

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


sedikit dulu yeee, capekk


__ADS_2