The Choise

The Choise
Tidak Ada Wanita Lain


__ADS_3

Eve menyembunyikan wajahnya di bawah selimut dan membelakangi Niel setelah pagi penuh gairah itu berakhir. Tak lama Eve merasakan pelukan Niel di perutnya bersama dengan kecupan panjang di puncak kepalanya.


"Aku tidak mengijinkanmu pergi lagi setelah ini," bisik Niel sangat jelas.


Eve tidak menjawab. Keadaan ini mengingatkannya dengan kisah orang tuanya dimana Felipe dulunya enggan melepas Rosaria meski telah bersama Cristina. Jika ia meneruskan ini, sudah jelas ia akan bernasib seperti ibunya itu.


"Aku sudah membeli rumah untuk kita berdua. Aku mendesainnya sendiri," perjelas Niel.


Kedengarannya indah jika keadaan tidak seperti ini.


"Lalu akan kau apakan wanitamu?" Suara Eve terdengar tidak ramah.


"Wanita yang mana?" Niel mengeratkan pelukannya sembari mengulum senyum. Wanita ini pasti berpikir macam-macam lagi.


"Kau benar-benar— breng*sek!" umpat Eve di bawah selimut. Ia masih enggan menatap pria itu.


"Ya, kau benar. Itu sebabnya aku disini untuk membawa paksa seseorang yang kabur."


"Jangan harap!"


"Kau sedang memperingatiku?" Memperingati pria yang tidak peduli aturan seperti ini? Kapan pria itu mendengarkan seseorang? Niel terkekeh. Wanitanya ini masih saja lucu dan menggemaskan.


"Itu sia-sia, Babe."


"Aku membiarkanmu karena ini yang terakhir," kata Eve lagi.


"Sayang sekali ini bukan yang terakhir," jawab Niel lagi.

__ADS_1


"Niel! Lepas!"


"Setelah kau mengatakan iya."


"Iya untuk apa?"


"Pulang denganku."


"Tidak!" Eve sudah bersusah payah untuk bangun, namun kaki Niel ikut mengurung tubuhnya hingga sulit bergerak. Pria itu benar-benar enggan melepasnya.


Eve hampir pasrah dibuatnya jika saja dering ponsel Niel tidak berbunyi. Pria itu langsung melepas pelukannya dan bangun dari ranjang untuk mengambil ponselnya yang diletakkan di meja rias sebelumnya. Sedangkan tatapan Eve mengikuti pergerakannya.


"Hm?" Kata pertama yang keluar dari bibir Niel.


Pria itu menjawab sambil menghadap Eve yang menatapnya penasaran.


Hanya satu nama itu cukup membuat Eve segera turun dari ranjang dengan selimut yang menutup tubuhnya. Konyol tapi Eve nyaris menangis lagi. Hal itu ditangkap oleh Niel.


"Urus urusanmu sendiri," sarkas Niel mematikan panggilan sepihak dan menyusul Eve dengan cepat. Sebelum pintu kamar mandi tertutup rapat, Niel sudah lebih dulu menahannya dan masuk.


Rupanya air mata Eve sudah berlinang dengan menatapnya tajam.


"Apa maumu!" bentak Eve. Setidaknya jangan buat ia terlihat menyedihkan. Ia tahu ini kesalahannya!


"Kenapa menangis?" tanya Niel lembut sembari mengusap air mata Eve yang jatuh, "maafkan aku."


Tangis Eve akhirnya pecah. Niel membawanya ke dalam pelukannya. Wanita itu tidak menolak meski tangannya berulangkali memukul punggung Niel.

__ADS_1


"Kau tidak boleh seperti ayahku, Niel ..." isaknya.


"Apa maksudmu, hm?" Sebenarnya ada apa? Kenapa dirinya disamakan dengan Felipe?


"Ini salah. Jangan buat wanita itu terluka."


"Sebenarnya wanita mana yang kau maksud?" Eve juga membahas wanita lain sebelumnya.


"Baji*ngan!" bentaknya, "bagaimana bisa kau berkata begitu padahal kau sudah memiliki orang lain! Kau serakah, Niel!"


Niel agak terpaku karena bingung, namun tak lama ia mulai tersadar.


"Kau membicarakan Carol?"


Ya. Belakangan ini memang banyak beredar rumor yang mengganggu. Mungkin Eve juga melihatnya. Si*alan!


"Dia sepupuku, Babe. Wajar jika tidak ada yang tahu karena dia menetap di London."


"Apa?" Eve sedikit linglung.


"Sudah kubilang tidak ada wanita lain. Meski kau pergi sepuluh atau lima belas tahun lagi, aku tidak akan memilih siapapun lagi." Meski itu tidak mungkin karena ia akan menemukan Eve.


"Wah ... Haruskah aku akhiri para penyebar berita itu. Wanitaku menangis karena ulahnya."


"Jangan gila!" Air matanya sudah berhenti dengan sendirinya sejak Niel memperkenalkan siapa wanita itu.


Apa ini? Apa dirinya sudah salah paham sejak awal. Namun hatinya lega mendengar kenyataan itu. Kenapa? Padahal dirinya tidak berniat kembali pada Niel. Cinta benar-benar membuat bodoh!

__ADS_1


__ADS_2