
Saat Eve dan Niel keluar dari lift, Brian sudah menyambutnya dengan wajah kecut. Ini dia pasangan tidak berperasaan yang menganiaya orang!
Eve maupun Nien hanya menatapnya tanpa ekspresi dan melewatinya begitu saja. Brian berbalik mengikuti dengan kesal.
"Bukankah kalian terlalu kejam?"
"Memangnya kami melakukan apa?" tanya Eve acuh. Tidak dijawab juga tidak apa-apa, batin Eve.
"Masih bertanya?" Brian sungguh tak habis pikir. Pria itu berjalan cepat melewati keduanya dan berdiri di hadapan mereka. Eve dan Niel langsung menghentikan langkahnya.
"Kalian sudah pulang tiga hari yang lalu! Kemana saja kalian? Kenapa tidak bekerja!" Setidaknya beri ia kabar agar dapat mengatur pekerjaan mereka!
Asal tahu saja Brian telah mengatur ulang jadwal Niel tiga hari yang lalu setelah tiba di Madrid, tapi lagi-lagi hal itu tidak berguna!
Meski Eve memiliki jabatan yang sama dengannya, jangan mengharapkannya karena tugas utama Eve adalah melayani Niel, Niel dan Niel.
Pada dasarnya, gelar asisten hanya alibi yang dibuat Daniela untuk membuat hubungan keduanya semakim dekat. Tapi terkadang Eve masih membantunya meski Niel melarangnya.
"Kalau begitu maafkan kami. Biar aku gantikan pekerjaanmu hari ini."
"Tidak perlu, Baby. Itu memang pekerjaannya."
Wah ... Lihat betapa kejamnya pria itu pada sahabatnya sendiri.
"Ini juga salahmu. Brian pasti kelelahan."
"Untuk apa mengkhawatirkannya!"
"Tidak ada yang mengkhawatirkannya. Jika Brian sakit, kau yang akan kerepotan."
"Cih! Kalian benar-benar!" geram Brian. Dasar pasangan kejam!
"Kau istirahat saja hari ini. Aku yang akan bekerja," kata Eve mengabaikan kemarahan Brian. Ia pergi menuju ruangan Niel dimana mejanya berada.
Niel langsung menatapnya tajam.
"Kau harus kembali besok!"
__ADS_1
"Memangnya aku mau kemana!" bentak Brian kesal, kemudian pergi begitu saja. Niel mengedikkan bahu dan pergi ke ruangannya sendiri.
Setelah masuk dan menutup pintu dengan perlahan, Niel mendapati Eve yang terdiam di mejanya dengan memegang ponsel.
Cup! Niel mengejutkan Eve yang langsung tersadar. Gadis ini melamun lagi rupanya.
"Memikirkan apa? Padahal tadi ada yang begitu bersemangat menggantikan pekerjaan seseorang."
Eve mengela nafas kecil seraya menyalakan laptopnya.
"Ini juga pekerjaanku."
Niel memperhatikan Eve yang tampak tidak tenang di tempatnya itu meski Eve mencoba menutupinya.
"Apa yang kau lihat di ponselmu?" datar Niel.
"Hanya pesan dari María."
"Memangnya apa yang dia kirim?"
Dan mencariku, batin Eve melanjutkan.
Sayangnya Niel bukan pria bodoh dan mudah tertipu yang tidak bisa membaca situasi.
"Kenapa melihatku seperti itu?" Eve sedikit ciut karena Niel menatapnya tajam dan serius.
"Masih mau berbohong?" Niel bertanya balik.
Eve memalingkan wajahnya seraya mendorong ponselnya pada Niel.
"Jangan katakan pada siapapun." Sebenarnya percuma saja ia menunjukkannya. Niel tetap tidak akan mengerti.
Niel mengerjit tak paham, namun tetap meraih ponsel Eve untuk melihatnya sendiri. Eve melirik pada Niel yang tercetak jelas kebingungan disana.
"Aku tidak serius mengatakan jika ibu biologisku meninggal."
Niel menaikkan sebelah alisnya. "Jadi dia ibumu?" Eve mengangguk.
__ADS_1
Pesan yang María kirimkan adalah jepretan seorang wanita sedang duduk di salah satu meja kosong seperti menunggu seseorang.
"Kau takut padanya?" Niel masih dengan tanpa ekspresinya.
"Untuk apa aku takut?"
"Kau terus saja gelisah."
"Apa terlihat begitu?" Niel mengangguk.
Eve menghela nafas pelan dan menegakkan duduknya.
"Aku tak nyaman, Niel. Kami pernah sepakat menjalani kehidupan masing-masing seperti orang asing."
Meski kedai kecil itu sudah dijual oleh Rosaria sejak enam tahun lalu, tapi wanita itu masih sering datang untuk berkunjung. Di sanalah keduanya bertemu dan saling memalingkan wajah awalnya.
Namun akhirnya Rosaria yang lebih dulu menyapanya dan memintanya untuk menjadi orang asing karena telah memiliki kehidupan yang lain.
"Aku mengenalimu karena kalian sangat mirip. Aku tahu kau juga mengenaliku. Siapa namamu?"
"Evelyn Lavelle."
"Syukurlah kau hidup dengan baik. Aku sudah memiliki suami dan anak. Kebenaran ini bisa membuat mereka terluka. Jadi anggaplah aku mati saat melahirkanmu."
Dirinya sudah jelas kecewa dengan ucapan Rosaria. Ia sadar bahwa dirinya hadir dari sebuah kesalahan dan juga— luka. Itu sebabnya ia tidak boleh bersikap egois.
Tapi kenapa Rosaria selalu datang ke tempat itu dan menyapanya? Lalu bagaimana ia harus bersikap dengan benar? Hal itu benar-benar tidak nyaman untuknya. Tidak tahukan ibunya itu bahwa dirinya juga terluka.
Niel menangkup wajah Eve setelah memutar kursi Eve menghadapnya.
"Kalau begitu lakukan seperti keinginannya."
Dibalik sikap lembut Niel saat ini, ada emosi yang mati-matian Niel tahan agar tidak meledak. Apa benar wanita itu yang sudah melahirkan Eve? Dimana hati nuraninya berkata seperti itu pada putrinya sendiri.
"Kau bukan kesalahan," bisik Niel membawa Eve kepelukannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1