The Choise

The Choise
Zarina Mckenna


__ADS_3

Pagi itu perusahaan George kedatangan seseorang yang terlihat mencolok menarik banyak perhatian. Wanita berambut pirang alami dengan mata birunya berhenti di depan meja resepsionis.


Kehadirannya mengundang tanda tanya sekaligus rasa takut. Pasalnya hampir seluruh karyawan yang bekerja di perusahaan telah mengenal sosok cantik tersebut.


Karyawan yang bekerja sebagai resepsionis pun sudah menegang di tempatnya, khawatir jika ia akan melakukan kesalahan sebentar lagi.


"Ada yang bisa kami bantu, Miss?"


Jika dulu hal seperti ini tidak perlu ditanyakan lagi, maka sudah berbeda sekarang.


"Aku ingin bertemu Niel," jawabnya langsung.


"Maafkan kami, Miss Mckenna. Apa anda sudah membuat janji?"


"Apa itu perlu?"


"Tentu saja, Miss." Resepsionis itu masih menunduk sopan meski wanita di hadapannya ini bisa menjadi petaka bagi mereka.


"Kalau begitu katakan pada Niel jika aku datang," katanya sedikit memaksa.


"Sir. Niel sudah berpesan agar tidak menerima siapapun yang belum membuat janji. Maafkan kami."


Cepatlah pergi! Jangan membuat masalah seperti dulu, Miss Zarina Mckenna! Begitu maksud mereka.


"Kenapa? Ini aku, bukan orang lain."


Kami hanya mengikuti perintah, Miss! Anda sudah masuk daftar hitam. Kenapa berani kembali?!


"I'm sorry, Miss." Lagi-lagi meminta maaf.


Dulu mereka mengenal Zarina Mckenna sebagai sosok yang anggun, cantik dan menawan. Setiap kali mereka melihat Zarina dan Niel berjalan berdampingan, mereka seperti melihat pasangan malaikat. Zarina juga dikenal sangat menjaga tutur katanya dengan berbicara lembut dan sering tersenyum pada semua orang.


Hal itulah yang membuat mereka sedikit tidak percaya atas masalah yang menjerat keduanya. Mereka juga tidak percaya jika wanita yang baik hati seperti Zarina akan berbuat hal kotor seperti itu. Melihat wanita ini datang lagi setelah hampir lima tahun, mereka menjadi bingung harus bersikap seperti apa.


"Aku bisa masuk sendiri!"

__ADS_1


Sontak dua orang resepsionis pria berlari keluar dari mejanya untuk menahan Zarina. Resepsionis wanita pun ikut menyusul. Bisa menjadi masalah jika tuan mereka sampai bertemu.


"Kami mohon mengertilah, Miss. Jangan membuat Sir. Niel marah!" kata salah satu pria itu tegas namun tidak kasar.


"Jika anda tetap keras kepala, kami terpaksa mengusir anda dengan kasar," peringat salah satunya lagi.


Zarina memasang wajah sendu. Dulu dirinya bisa masuk dengan bebas, tapi sekarang tidak bisa. Bahkan harus membuat janji.


"Kalau begitu beritahu Niel. Aku hanya mau bertemu sebentar."


Siapapun yang melihat pasti akan merasa kasihan. Tapi tetap saja nyawa mereka lebih berharga.


"Tidak bisa, Miss. Silahkan perg—"


"Ada apa?"


Eve yang memegang dua gelas cup kopi berdiri tak jauh dari mereka. Eve sempat mendengar keributan kecil disana.


"Apa kau sekretarisnya. Bisakah aku bertemu Niel," katanya memohon dengan mendekati Eve.


Eve memperhatikan wanita itu dalam diam. Raut wajahnya sulit dijelaskan. Tentu saja Eve langsung mengenali sosok wanita di depannya. Tak heran jika Niel bisa jatuh cinta terhadapnya. Tapi kenapa wanita itu harus datang disaat hubungannya dengan Niel mulai berjalan normal.


Resepsionis wanita segera mendekat padanya dan berbisik, "maaf, Miss Lavelle. Sir. Niel pernah memerintahkan untuk tidak memerima miss. Mckenna lagi apapun alasannya." Lebih baik beritahu lebih dulu.


"Aku yang akan bertanggungjawab," kata Eve memberi isyarat pada Zarina untuk mengikutinya. Wanita itu langsung tersenyum senang dan berjalan cepat mengejar Eve yang sudah menjauh hendak memasuki lift.


"Sudah lama aku tidak melihatnya merengkut wanita di dekatnya."


Eve hanya diam saja dengan wajah tanpa ekspresinya.


"Apa itu untuk Niel?" tanyanya setelah melihat dua cup kopi yang berada di tangan Eve.


"Hm."


"Dia tidak suka kopi," celetuk Zarina, nyaris membuat Eve berkeinginan untuk melempar coffie ini sekarang juga. Untungnya Eve menahan diri sekarang.

__ADS_1


"Kenapa dia tidak suka kopi?" tanya Eve tenang.


"Karena tidak baik di konsumsi terlalu sering."


Tapi Niel meminumnya setiap hari agar tidak mengantuk. Ah kenapa rasanya jadi kesal begini ya? Apa perlu ia habiskan kopi ini sekarang juga?


"Dia sudah menyukainya sekarang," datar Eve.


Zarina memasang wajah sendunya lagi yang dapat dilihat Eve dari lirikan matanya.


"Gara-gara aku dia jadi seperti ini," katanya menunduk sedih.


"Kau sekretaris baru pasti belum mengenaliku seperti yang lain."


Aku bahkan sudah mengenalimu dari arah belakang! batin Eve jengah. Ralat selain datar dan emosional, Eve termasuk membenci adanya drama.


"Akan ku perbaiki sedikit, aku asisten pribadinya, bukan sekretaris." Dan pacarnya! Kau sedang berbicara dengan pacarnya!


"Asisten pribadi— tidak mungkin. Posisi itu hanya dipegang oleh Brian."


Ternyata juga mengenal Brian ya. Tentu saja, bodoh! Dia pernah menjadi kekasih Niel, pasti sudah memiliki banyak kenangan bersama.


Eve menjadi kesal lagi. Sekarang ia ingin berlari dengan cepat menuju tempat Niel berada dan mencakar wajahnya hingga rusak.


"Niel tidak suka ada wanita di dekatnya. Itu sebabnya hanya Brian di sisinya."


Tapi dia bisa menciumku di hari pertama kami!


Zarina juga akan terkejut setelah melihat mejanya berada di ruangan Niel, kan? Mungkin lebih terkejut lagi saat mengetahui tugas utamanya.


"Selesaikan masalahmu dengan Niel secepatnya. Aku tidak memiliki kesabaran yang cukup."


Zarina mengerjit saat mendengar ada yang aneh dari ucapan Eve.


"Kau memanggil apa—"

__ADS_1


Sayangnya Eve sudah menjauh memasuki ruangan lain meninggalkannya sendiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2