The Choise

The Choise
Masa Lalu


__ADS_3

Di belahan lain Brian hampir menggerutu setiap saat akibat ulah pasangan yang tidak tahu kondisi itu. Bagaimana bisa seenaknya pergi meninggalkannya dengan tumpukan agenda padahal dulu Niel sangatlah perfeksionis hingga orang tuanya saja pernah ditolak untuk bertemu.


Semua harus sempurna dan terjadwal! Tapi sekarang, ck! Pria itu jadi lupa diri.


"Apa kau akan duduk saja tanpa memesan?"


Brian mendongak untuk melihat wanita yang sekarang bersedekap dada dengan angkuhnya.


"Kau lagi!" Brian tak habis pikir.


Siapa namanya? Lucia jika tidak salah, kan?


"Seharusnya aku yang bilang begitu!" ketus Lucia. Ia benci orang-orang yang pernah mengganggu Eve.


"Kenapa kau yang harus bilang begitu?" tantang Brian ikut bersedekap dada.


"Ini restoranku! Kau sudah duduk lama disana seperti orang bodoh!"


Eh? Brian langsung menatap sekelilingnya. Jadi ini restoran milik wanita ini? Sebenarnya ia sudah menyukai hidangan di tempat ini saat mengikuti Niel yang membuntuti Eve waktu itu.


Pria itu berdehem sok keren sambil melihat-lihat menu. Lucia masih menatapnya dengan sinis.


"Berikan saja menu terbaik kalian," katanya sombong.


"Cih! Dasar sombong," cibir Lucia mulai melangkah pergi.


Bersamaan dengan itu ponsel milik Brian di atas meja bergetar memperlihatkan nama Eve di layarnya. Lucia yang melihat sekilas tidak jadi pergi.


Srett, dukk! Tarikan kursi dan gerakan cepat Lucia mengejutkan Brian. Wanita itu sudah duduk disebelahnya sambil memegang ponsel Brian. What the—


"Hei—"


"Cepat angkat!" desak Lucia.


Pasalnya Eve belum pernah menghubunginya lagi sejak berangkat ke Barcelona beberapa hari lalu. Melihat Eve menghubungi pria ini membuatnya iri sekaligus penasaran.


Jahat sekali kau, Eve!


"Ck! Padahal tinggal kau angkat saja sendiri." Lagipula ponsel itu sudah ditanganmu, pikir Brian.


"Kau masih ingat aku?" Sapaan pembuka dilontarkan pria itu.


"Apa itu penting?"

__ADS_1


"Tentu saja penting! Dasar tidak berperasaan. Bisa-bisanya kau pergi meninggalkan semua pekerjaanmu padaku! Aku jadi mengerjakannya sendiri!"


"Sebelum aku datang kan kau sudah mengerjakannya sendiri. Lagipula tugas utamaku itu mengurus tuan mudamu."


Haha ... menyebalkan sekali calon nyonya ini.


"Yaya, kau memang yang paling benar. Aku akan bersujud saat kita bertemu!"


"Tidak perlu, aku mau menanyakan hal lain saja."


"Apa? Lebih baik kau tanyakan pekerjaan yang kau tinggal—"


"Apa Niel pernah menjalin hubungan sebelumnya?"


Brian jadi terdiam dengan tatapan Lucia yang langsung mengarah padanya seolah ikut bertanya. Brian mengerjap gugup saat fokusnya terbagi pada hal lain.


Sejak kapan wanita cerewet ini menjadi cantik? Atau dirinya yang baru menyadari?


Jarak keduanya sangat dekat karena Lucia ikut menempelkan telinga ke ponsel Brian.


Sampai pukulan cukup keras di lengannya membuatnya kembali sadar. Lucia melotot sambil mengarahkan dua jari ke matanya.


"Apa sulit mengatakannya?" Suara Eve terdengar lagi.


"Ternyata pernah ya."


Brian jadi kelabakan salah tingkah.


"Kenapa kau jadi berpikir begitu? Aku kan tidak bilang pernah!"


"Kalau tidak, kau seharusnya tinggal menjawab tidak. Untuk apa memintaku bertanya Niel lagi."


Lucia menepuk tangan tanpa suara tanda setuju.


"Hei, Niel hanya mencintaimu sekarang. Kau jangan berpikir yang tidak-tidak."


"Apa rambutnya pirang dengan iris mata biru?"


"Darimana kau tahu?" Brian langsung memukul mulutnya. Bodoh! Jika begitu sama saja ia membenarkan!


Lucia sendiri menggeleng agak syok. Kenapa ia bisa tidak tahu jika Niel pernah menjalin hubungan sebelumnya. Tidak ada gosip atau berita yang mengatakan itu. Hanya fakta jika Billionaire itu memiliki OCD dan membenci makhluk bernama wanita!


"Niel pasti sangat mencintainya." Terdengar gumaman kecil Eve yang membuat Brian salah tingkah. Bagaimana jika hubungan keduanya jadi bermasalah setelah ini. Bisa-bisa Niel mengamuk padanya.

__ADS_1


"Tidak seperti itu, Eve— itu hanya masa lalu. Yang terpenting kan masa sekarang," gugupnya.


Lucia tidak bisa menahan diri lagi segera merebut ponsel Brian.


"Eve, aku lihat Niel memang mencintaimu, tapi aku tidak membelanya, sungguh!"


Oh, ayolah! Eve-nya baru saja menunjukkan emosi baru pada perasaannya, masa harus mengalami patah hati lagi. Jika begini gadis itu benar-benar tidak akan mau mengenal pria lagi!


"Kau disana, Lucia?"


"Iya, ini aku! Apa Niel melakukan sesuatu?" Tidak mungkin kan Eve bertanya tiba-tiba tanpa sebab.


"Tidak ada."


"Lalu?"


"Aku hanya penasaran."


"Haha ... Penasaranmu tidak berarti, Eve. Kau tahu kebanyakan hubungan rusak karena salah paham, kan? Kau kan baik-baik saja dengan Niel. Jika ada masalah kalian bicarakan saja." Lucia menjelaskan setenang mungkin. Pasalnya Eve cukup sulit untuk di nasehati. Sangat jarang gadis itu mau mendengarkan.


"Dengarkan temanmu itu, Eve." Brian menanggapi.


"Sepertinya hubungan kalian menjadi lebih dekat."


"Tidak mungkin!" jawab keduannya bersamaan. Lucia dan Brian saling menatap, kemudian membuang muka.


"Kenapa jadi membahas kami, sih!" cerca Lucia.


"Kalau begitu sampai jumpa." Tutt.


"Apa dia mendengarkan?" tanya Brian kemudian.


"Sepertinya tidak," pasrah Lucia lesu. Eve kan memang keras kepala.


"Berhenti menatapku! Ingin kutusuk matamu itu?!"


"Siapa juga yang melihatmu," cibir Brian.


Keduanya sama-sama terdiam cukup lama.


"Hei! Dimana pesananku!" Akhirnya Brian teringat sesuatu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2