
"Sebenarnya dia kenapa? Dia masih memelukku tadi malam sebelum aku membahasmu!"
Glek! Kau ingin menyalahkanku begitu? Brian tidak menyaut di kursinya. Lebih baik fokus saja menyetir.
"Memangnya dia kenapa?" Ah bodoh! Kenapa kau bertanya!
"Dia tidak memperbolehkanku memeluknya atau menciumnya lagi. Beraninya dia melarangku!"
"Kalau begitu tidak perlu kau dengarkan." Biasanya kan juga begitu.
"Aku memang berniat begitu, tapi anehnya aku tidak berani."
Haha, kau kan sudah jadi budak cintanya Eve!
Cinta benar-benar bisa membuat orang jadi bodoh ya. Dirinya saja belum pernah jatuh cinta.
"Aku harus menemuinya lagi nanti."
"Eve kan sudah menyuruhmu istirahat dan jangan kemana-mana. Kau ingin dia bertambah marah?"
Niel terdiam dengan decakan. Brian merasa puas. Begini ya rasanya melihat Niel jadi penurut.
"Niel, sebenarnya aku ingin bertanya."
Niel melirik enggan, "apa?"
"Apa kau masih memiliki perasaan pada Zarina?"
Hening.
Brian melirik takut-takut pada kaca mobil untuk melihat reaksi Niel.
Brukk! Tiba-tiba kursinya sudah ditendang dari belakang hingga Brian harus menghentikan mobilnya mendadak karena terkejut.
__ADS_1
"KAU GILA!" teriak Brian.
"KAU INGIN MATI!" balas Niel tak mau kalah.
"KITA MEMANG HAMPIR MATI, JERK!"
"Beraninya berteriak padaku!" geram Niel.
"Aku tidak sengaja! Lagipula kau yang sudah gila."
"Kau yang bertanya hal tidak berguna!"
"Aku kan hanya tanya!"
"Sudah pernah kubilang jangan sebut namanya! Jika Eve mendengar dia bisa salah paham!" bentak Niel. Dia benar-benar tidak mau mengingat wanita itu lagi.
"Dia memang sudah salah paham!" balas Brian tanpa sadar.
Astaga, bodoh! Lagi-lagi Brian merutuki mulutnya yang tidak terkontrol.
"Kau bilang apa?" geram Niel sudah memegang kerah bajunya, "jangan bilang ini ulahmu Eve marah."
"Hei, dengarkan dulu! Jauhkan tanganmu ini!"
"katakan sekarang juga," desis Niel tajam.
"Aku juga tidak tahu, tapi Eve tiba-tiba bertanya tentang hubunganmu dan Zar— wanita itu! Mungkin saja mereka pernah bertemu tanpa kita tahu karena Eve bisa menyebut ciri-cirinya dengan benar."
"Bagaimana bisa? Dia selalu bersamaku."
"Tidak tahu!"
Kau bilang selalu bersamanya, tapi kau saja tidak tahu! batin Brian.
__ADS_1
Niel jadi memutar otak. Kapan sekiranya dengan kebetulan Eve bertemu Zarina. Tidak ada, Niel yakin tidak ada.
"Mungkin dia pernah menghubungi saat kebetulan Eve menggunakan ponselmu," asalnya. Walaupun hampir tidak mungkin ada yang menghubungi Niel secara pribadi karena Niel tidak pernah memberikan nomor pribadinya pada orang lain kecuali keluarga dan orang terdekat.
"Tidak mung—" ucapan Niel terhenti tiba-tiba.
"Apa?" tanya Brian. Kenapa kau diam!
"Ah, sial!" Niel mengeluarkan ponselnya dengan cepat.
"Apa? Kenapa?" Pria itu ikut menatap ke layar ponsel Niel.
"Astaga ... pantas saja Eve seperti itu." Brian menggeleng, "tidak ada yang terima jika pacarnya masih menyimpan foto mantan pacarnya!"
Tidak heran Eve bisa menyebut rambut pirang dan mata biru dengan yakin. Ternyata memang sudah melihatnya.
"Aku lupa menghapusnya!" Niel menjambak rambutnya sendiri.
"Wah, aku hampir lupa senyumanmu saat bersama Za— maksudku dia sudah tidak penting. Hanya Eve yang ada dimatamu sekarang," ralatnya cepat saat Niel hampir mengamuk lagi.
"Kalau begitu ... Artinya Eve cemburu padamu, kan?"
Eh? Benar juga.
"Dia cemburu padaku?"
"Iya, Bodoh! Dia cemburu, makanya bersikap begitu!" Lihat, lihat, kau tersenyum. Memang budak cinta Eve.
Sekarang hal ini tidak buruk juga. Ia jadi semakin yakin dengan perasaan Eve. Gadis itu tidak bisa mengelak lagi!
"Putar balik, kita ke mansion Lavelle!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1