The Choise

The Choise
Nasehat Amy


__ADS_3

Andrea tiba di dapur saat melihat Eve yang melamun sambil mengaduk susunya. Bahkan sampai Andrea melihatnya dari dekat pun Eve tidak bergeming. Gadis itu melambaikan tangan di depan wajah sang kakak, namun tetap saja Eve tidak bergerak.


"Eve!" Barulah sedikit gertakan dan sentuhan di pundak menyadarkan Eve.


"Kenapa?" tanya Eve biasa saja.


Andrea hanya mengerjit heran, "berapa lama kau akan mengaduk susunya?"


Tangan Eve spontan terhenti. Ia menatap sendok dan gelas susunya bergantian dengan bingung.


Andrea semakin mengerjit heran melihatnya.


"Kau bertengkar dengan Niel?" tebaknya.


"Tidak."


"Jujur saja padaku." Menyikut Eve dengan jahil.


"Jika menjalin hubungan dengan seseorang, apa mereka harus menikah?"


Eh?


"Tidak juga. Ada beberapa yang menikah, ada juga yang tidak."


"Benar, kan! Ada yang tidak menikah," sambar Eve.


Andrea semakin menatapnya menelisik, namun Eve tidak menyadarinya.


"Jika putus tentu saja tidak menikah," sambung Andrea lagi.


"Benar, jika pu— apa?!"


"Mereka tidak menikah karena putus. Memangnya apa lagi?"

__ADS_1


Eve terdiam kemudian meneguk susunya hingga tandas. Ia menarik Andrea untuk duduk bersamanya.


"Keluarga George membicarakan pernikahan," kata Eve. Andrea langsung berbinar.


"Lalu kau jawab apa?"


"Kubilang aku tidak akan menikah," datarnya.


"Ahh, bodoh!" Andrea langsung menutup mulutnya dengan tatapan tajam Eve mengarah padanya.


"Kenapa kau menolaknya!" ralatnya kemudian.


"Aku tidak menolak."


"Tapi kau bilang tidak akan menikah!"


"Memangnya itu menolak?"


"Aku tidak akan berpisah dengannya."


"Tapi kau menolaknya. Artinya kau ingin berpisah nantinya!"


"Aku tidak begitu!"


"Kau begitu!"


"Tidak!"


"Kenapa jadi bertengkar?" sahut Amy yang sudah bersedekap dada di pintu dapur. Amy sudah berdiri sejak tadi disana.


"Mom?"


Amy menghela nafas pelan dan duduk di antara keduanya.

__ADS_1


"Seharusnya kau tahu kakak perempuanmu ini sangat bodoh mengenai cinta apalagi pernikahan! Itu sebabnya nasehati dia dengan benar!" Amy berujar lembut namun penuh penekanan sembari tersenyum pada Andrea. Eve sudah menatapnya sebal karena tahu Amy sedang menyindirnya.


"Eve ... Kenapa kau tidak mau menikah? Bukannya kau sudah mencintai Niel?"


"Aku memang mencintainya."


"Lalu?"


"Aku hanya merasa jika aku tidak cocok dengan pernikahan."


"Kau masih punya waktu untuk memikirkannya."


"Itu takkan berguna."


"Kenapa kau berpikir begitu?" Amy semakin memojokkannya.


"Karena— aku— entahlah!"


"Lihat? Kau sendiri saja merasa bingung."


Eve hanya diam saja.


"Niel pasti terluka saat kau bilang tidak akan menikah. Ya, meski kau bilang akan bersamanya, tapi dengan pernikahan itu akan mengikat kalian sebagai pasangan sebenarnya. Niel memilikimu seutuhnya, begitupun denganmu yang memiliki Niel seutuhnya. Itulah yang pasangan saling mencintai lakukan, Eve."


"Aku akan meminta maaf," gumamnya menunduk.


"Minta maaf dan jelaskan padanya. Tak apa jika tidak ingin menikah sekarang. Kalian masih bisa memikirkannya lain waktu. Kami tidak akan memaksamu, ingatlah. Kau harus benar-benar siap untuk melakukannya."


Salah satu yang Amy cemaskan dari Eve adalah hal ini. Sugesti Eve pada diri sendiri sudah tertanam dalam sehingga keinginan untuk sendirian dan tidak bergantung pada siapapun masih cukup kuat.


Pernikahan artinya terikat selamanya. Kehidupan hanya akan berjalan di satu tempat mulai saat itu dimana kau mulai fokus pada keluargamu sendiri. Bukankah masih ada banyak pernikahan yang menjerat kebebasan wanita? Itu sebabnya tidak bisa memaksa Eve untuk menikah karena pernikahan bukan hanya tentang dua orang, melainkan kesiapan mental yang dimiliki untuk seumur hidup.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2