
Sejak hari itu Niel hanya menghabiskan waktunya di kamar apartemen seperti pria yang telah kehilangan gairah hidup. Botol alkohol yang berserakan di lantai, pakaian lusuh serta jambang yang tidak dicukur. Duplikat pria idaman yang memiliki ketampanan dewa sedang dalam keadaan yang memburuk.
Daniela setia menemani Niel di apartemen itu sementara Stefan menggantikan pekerjaan putranya sampai keadaan membaik. Tak banyak yang bisa keduanya lakukan sebab Amy dan Lewis bersikeras melarang agar tidak mencari tahu keberadaan Eve demi ketenangan gadis itu.
Daniela dan Stefan berharap jika ini hanya masalah waktu. Entah Eve kembali atau tidak, keduanya berharap jika Niel akan segera kembali seperti keadaan semula. Meski Niel adalah putranya, namun mereka tidak bisa egois dengan memaksa Eve. Gadis itu sudah mengalami kesulitan sejak lama dan ingin sembuh sendirian.
Beberapa kali Daniela menangis diam-diam karena mengkhawatirkan kondisi Niel yang tidak memiliki semangat lagi. Padahal saat berpisah dengan Zarina, Niel tidak seburuk sekarang. Meski begitu, ia tetap berdoa agar Eve kembali bersama Niel.
Memang benar jika luka bisa membawa teman. Artinya orang lain bisa ikut terluka hanya karena kau terluka. Eve tidak ingin hal itu terjadi pada Niel. Pada dasarnya gadis itu masih menganggap jika dirinya adalah kesalahan. Tidak ada satupun cerita yang Daniela lewatkan mengenai gadis itu saat Amy mengatakannya.
"Niel—"
"Sudah temukan dimana, Eve?" Lihat apa yang keluar dari mulut putranya pertama kali?
"Ayahmu masih mencarinya." Daniela hanya bisa bilang begitu.
"Aku akan membawanya pulang begitu menemukannya."
"Ya, lakukan saja." Untuk saat ini ia tidak bisa menentang Niel, "tapi kau harus berhenti minum untuk saat ini. Kau mau melihat Eve dengan kondisi seperti ini?"
"Biarkan saja! Agar dia tahu jika langitku tidak secerah seperti perkataannya." Langitnya memang cerah, tapi itu karena bersama Eve, namun gadis itu sudah pergi, maka hanya tersisa awan hitam yang mendung setiap hari.
"Istirahatlah, Mom. Aku ingin sendiri." Dengan pasrah Daniela hanya menurut dan menutup pintu kamar kembali.
Tak lama ponsel yang digunakan Niel untuk menghubungi Eve berkali-kali di atas meja itu pun berbunyi. Niel bergerak cepat saat melihat nama yang di harapkannya muncul.
__ADS_1
"Eve, kau dimana?! Jangan bercanda. Ini tidak lucu!" bentak Niel.
"Kau masih menangis?" tanya Eve pelan.
Benar. Eve sendiri yang menghubunginya setelah beberapa hari ini mengabaikan teleponnya.
"Jangan menangis lagi— kumohon ...."
"Kalau begitu beritahu aku kau dimana. Kau tahu aku sangat terluka? Aku menangisimu setiap hari seperti orang gila, Eve!"
"Kau akan baik-baik saja, segera. Kau juga tidak akan menangis atau terluka lagi setelah ini. Ini hanya sebentar— tapi jika aku disana, kau mungkin akan terluka lebih lama."
"KAU BICARA APA?!"
"Aku akan menemanimu, jadi kembalilah kepadaku." bujuk Niel dengan kembali di iringi air mata. Tidak, ini bukan akhir. Eve harus kembali padanya.
"Mimpiku sangat jauh."
"Aku tidak peduli."
"Aku tidak akan lama."
"Bohong! Kau ingin pergi jauh, kan? Mimpimu adalah pergi dari sini dan menjauhi kami." Suara Niel nyaris putus asa. Eve ingin berada di tempat dimana tak ada satupun orang yang mengenalnya.
Di ujung sana Eve terisak tanpa suara seraya menyentuh dadanya yang sangat sesak.
__ADS_1
"Aku tidak bisa memberikan apa yang kau inginkan, Niel. Tapi ini bukan salahmu. Aku yang tidak bisa melakukannya."
"Kumohon ... jangan pergi. Aku tidak peduli dengan mereka. Yang ku perdulikan hanya kau, Eve. Kita tidak perlu menikah jika kau takut. Aku janji hanya ada kita." Niel benar-benar hancur sekarang. Eve sudah seperti jiwa raga nya. Demi Eve, ia takkan peduli rasa sakit.
"Kau tidak pantas berada di neraka bersamaku, Niel."
"APA PEDULIKU! BAHKAN AKU BISA MENGINJAK API DEMI BERSAMAMU!"
"Thank you—"
"Jangan mengatakan apapun! Aku ingin kau pulang!"
"Aku belajar cinta darimu, Niel. Karena itu, perpisahan ini juga menyakiti kita. Temukanlah seseorang yang sama berartinya seperti diriku kemudian lupakan aku seperti kau melupakan Zarina."
"TIDAK! KATAKAN KAU DIMANA!" bentak Niel, "Aku akan menjemputmu sekarang." Pria itu mulai menangis tersedu-sedu.
"Kau juga bisa menikah—"
"AKU TIDAK AKAN MENIKAH!"
"Maafkan aku. Selamat tinggal, Niel ...," lirih Eve memutuskan panggilan sepihak.
Gadis itu terisak hebat dengan tubuhnya yang bergetar. Eve menangis dengan menyembunyikan wajahnya di atas lutut di bawah cahaya bulan yang juga tampak kesepian.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1