The Choise

The Choise
Bahagia?


__ADS_3

Isak tangis memenuhi kamar yang Eve tempati. Wanita itu terisak diatas ranjang sambil memeluk lututnya. Ada laptop di dekatnya yang menampilkan sebuah berita hangat.


"Padahal aku sendiri yang memintanya menemukan seseorang, tapi kenapa aku tidak dapat menahan diri?" isaknya tersedu-sedu.


"Sakit, sakit sekali— wanita itu cantik!" Rasanya ia ingin berteriak dan melempar sesuatu.


"Apa Niel menciumnya seperti menciumku? Apa wanita itu bisa menyentuhnya seperti aku?" Menangis lagi, "seharusnya aku tidak mencari tahu!" Meski sudah bilang begitu, tetap saja Eve menyentuh laptopnya kembali untuk mencari tahu lebih dalam.


#kekasihNathanielGeorge


#rumorkekasihbaruNathanielGeorge


#momenkencanNathanielGeorge


Dirinya terlalu naif jika berpikir Niel tidak akan melupakannya, kan? Logikanya seseorang tidak perlu mengharapkan seseorang yang sudah pergi dan tidak menginginkan kita lagi. Wajar jika Niel sudah menemukan seseorang yang baru. Ditambah dengan permintaan Eve yang saat itu meminta Niel untuk mencari seseorang yang bisa di nikahi dan memiliki keluarga kecil bersamanya.


"Padahal aku sudah mempersiapkan diri untuk ini." Eve Tersenyum getir. Nyatanya persiapan itu hanya sia-sia saja.


Tidak sampai disana saja. Eve pun mengaktifkan kembali media sosialnya. Dengan perasaan berdebar ia mencoba melihat postingan milik Niel dan wanita bernama Caroline Scott yang mengisi trending topik di dunia maya itu.


Ternyata pria itu masih sama. Eve tidak menemukan satupun postingan mengenai wanita itu, kecuali foto formal Niel sendiri dengan caption yang menulis tentang perusahaannya. Pria gila kerja itu tidak berubah dalam hal ini.


Berbeda saat melihat postingan terakhir Caroline. Wajah Niel terpampang jelas disana dengan caption. "Malam yang menyenangkan @NathanielGeorge."


"Syukurlah ... Kau baik-baik saja, Niel," gumam Eve tersenyum. Niel pantas mendapat kebahagiaannya.


Tak lama panggilan video masuk melalui akun media sosialnya. Meski ragu untuk mengangkatnya, Eve tetap melakukannya.

__ADS_1


"EVE! INI BENAR KAU, EVE?!"


"Lucia ...."


"Oh Tuhanku, akhirnya aku melihatnya!"


"Kau bergerak cepat sekali ya, Lucia."


"Iya, tentu saja! Jika lambat aku akan kehilanganmu lagi, Bit*ch!" Sebenarnya ia tidak sengaja saat bermain media sosialnya melihat akun Eve di daftar orang-orang online setelah dua tahun lamanya!


"Maaf, Lucia."


"Jangan minta maaf! Katakan saja kau dimana?!"


"London," jawab Eve langsung.


"What?! Apa yang kau lakukan di negara orang?"


"Astaga ... Dengar, Eve. Sebaiknya cepat pulang sebelum kau kehilangan pacarmu!"


"Aku memang meninggalkannya—"


"Aku tidak setuju! Dia pria yang cocok denganmu, Eve. Aku tidak rela melihatnya dengan orang lain!" bentak Lucia.


"Padahal aku yang kehilangan. Kenapa kau yang tidak rela." Eve terkekeh.


"Sulit menemukan orang yang bisa membuatmu tersenyum, Eve!" Lucia tetap keras kepala.

__ADS_1


Eve tersenyum mendengarnya. Benar. Pria itu sudah membuatnya banyak tersenyum.


"Aku bisa tersenyum kapan saja sekarang. Jangan khawatir."


"Pulanglah. Aku akan menjemputmu." Lucia melembutkan suaranya.


"Aku tidak bisa pulang sekarang."


"Kenapa?"


"Aku tidak mau mengacaukan apapun."


Lucia mengatup bibirnya di ujung sana. Jelas sekali Lucia menatapnya dalam-dalam tanpa bicara. Wanita itu menghela nafas pasrah.


"Kau bahagia, Eve?" tanya Lucia kemudian.


"Hm?"


"Kau bahagia seperti ini?" tanyanya lagi.


Eve terdiam sesaat, "aku bahagia."


"Bohong!" Lucia menyangkalnya dengan senyuman getir, "bukan bahagia namanya jika kau terluka. Kau membohongi dirimu sendiri dengan tersenyum." Padahal Eve habis menangis. Terlihat jelas di wajah wanita yang mengaku bahagia itu.


-


-

__ADS_1


-


-


__ADS_2