The Choise

The Choise
Wanita di Ponsel


__ADS_3

Eve mengekori Niel yang mendorong trolinya dengan memasukkan beberapa bahan makanan yang diperlukan untuk mengisi kulkas. Baru kali ini Eve merasa tidak berguna sama sekali karena hanya mengikuti Niel sejak tadi.


Memangnya apa yang harus dilakukan saat ia sendiri tidak tahu apa saja bahan yang digunakan untuk memasak? Hanya Niel saja yang mengerti!


"Brian menghubungi beberapa kali. Dia juga mengirimkan jadwal untukmu." Pria itu pasti sedang pusing.


"Aku sudah bilang akan menangani dari sini. Apa dia tidak dengar?"


"Kau itu presdir! Tunggu saja sampai Stefan memarahimu."


"Ck! Dia bahkan lebih parah saat bersama ibuku dulu." Memangnya darimana sifatnya ini datang jika bukan karena pria tua itu.


"Aku akan pulang dalam seminggu. Kau jangan bertingkah seolah aku tidak akan pulang!"


"Aku akan mengikutimu terus."


Oh my god! Eve berjalan gontai dan memeluk lengan Niel sambil menyandarkan kepalanya disana.


"Berapa banyak lagi yang harus dibeli? Rasanya itu sudah sangat banyak."


Niel tersenyum kemudian mencium puncak kepalanya sekilas.


"Ini baru cemilan milikmu dan buah-buahan. Bahan masakan di sebelah sana."


"Masih belum?!"


Ahh, kenapa situasi jadi terbalik begini. Dirinya dan Niel apakah jiwa yang tertukar? Seharusnya wanita yang bersemangat untuk berbelanja, sedangkan prianya dengan malas mengikuti. Tapi situasi ini? Yang benar saja! Dirinya memang payah sebagai wanita.


Eve mengikuti saja kemanapun Niel bergerak. Sesekali tangannya dengan iseng mengambil beberapa cemilan dan meletakkannya dalam troli. Niel hanya menatapnya tanpa ekspresi.


Lihat sendiri kan siapa yang membuat troli terisi penuh begini?


Niel tidak terlalu mempermasalahkannya. Dirinya sendiri hanya mengisi untuk keperluan saja. Sekiranya cukup untuk beberapa hari kedepan selama mereka di Barcelona.


"Sudah. Duduklah disana, biar aku yang mengantri."


Eve dengan senang hati menurutinya, namun sebelum pergi ia mengadahkan tangannya terlebih dahulu.


"Ponselmu."


Eve tidak mau mati kebosanan untuk menunggu Niel mengantri panjang yang padat ini sendirian diluar sana. Lagipula ia lupa membawa ponselnya sendiri.

__ADS_1


Niel memberikan ponselnya tanpa protes, tapi sebelum meletakkan ponsel itu di tangan Eve, Niel memajukan wajahnya lebih dulu.


"Cium aku dulu."


"Dasar pencari kesempatan!" Meski bibir Eve mengeluarkan protes, namun tetap saja gadis itu meninggalkan satu kecupan.


"Duduk saja, jangan kemana-mana," peringat Niel saat Eve hampir menjauh.


"Yaa!"


Eve duduk tenang di bangku yang disediakan di depan swalayan itu sambil sesekali menoleh pada Niel yang berdiri diantara antrian di dalam sana. Niel tersenyum sambil melambai kecil.


"I love you!" ucapnya tanpa suara.


Cih! Masih sempat saja pria itu, namun Eve memalingkan wajahnya yang memerah. Lebih baik ia bermain ponsel saja.


Saat menyalakan layar rupanya ponsel Niel terkunci. Entah pikiran darimana Eve dengan asal menggunakan tanggal lahirnya untuk membuka. Mungkin karena teringat Lewis yang menggunakan tanggal lahir Amy sebagai kunci.


Eve tertawa pelan dengan ulahnya itu.


"Apa yang kau pikirkan, Eve! Mana mungkin Niel menggu—"


Terbuka?


Eve sampai mencobanya sekali lagi untuk memastikan. Astaga ternyata benar! Niel benar-benar menggunakan tanggal lahirnya!


Wah, apa ini yang namanya kekuatan cinta? Eve menggeleng takjub.


Tak lama dirinya dibuat bungkam saat membuka isi galeri Niel. Pria yang sudah menjadi budak cinta Eve itu ternyata menyimpan banyak sekali foto Eve yang diambilnya secara diam-diam. Kebanyakan foto saat dirinya tidur, bahkan ada saat Niel menciumnya yang tertidur pulas itu. Astaga pria itu juga sangat mesum!


Namuan Eve tidak merasa kesal sama sekali. Ia selalu tersenyum melihat hasil jebretan Niel itu pada dirinya. Tangannya mulai menscroll dengan cepat saat banyak hal tidak penting juga ada disana.


"Apa dia tidak pernah membersihkan ponselnya!" gerutunya.


Untuk apa memotret lampu taman ini. Ada juga jalan kosong yang tersimpan disana. Benar-benar tidak penting. Kemudian Eve tersenyum lagi begitu melihat wajah pulas Niel yang tertidur.


"Dia tenang sekali seperti bayi jika tidur!" cibir Eve, tetapi senyum itu luntur begitu Eve menyadari sesuatu.


"Siapa yang memotretnya saat tidur?"


Apa mungkin Brian? Ya, memangnya siapa lagi. Eve berpikir positif.

__ADS_1


Namun hal itu langsung terjawab saat tangannya mulai menscroll lagi dan menemukan hal lain. Foto Niel bersama seorang wanita yang tersenyum lebar di depan kamera, begitupun Niel meski hanya senyuman tipis. Lalu ada lagi saat wanita yang sama memeluk Niel dengan ciuman di pipi Niel.


Siapa dia? Jantung Eve mulai berdetak kencang. Siapa wanita yang bisa menyentuh Niel seperti itu? Kenapa Niel tidak menolaknya dan ikut tersenyum?


Niel tidak memiliki adik atau kakak perempuan, bahkan sepupunya saja tidak bisa menyentuh Niel seperti perkataan Daniela.


Eve merasa dadanya seperti terhimpit. Apa ada wanita lain yang dicintai Niel sebelumnya? Atau Niel yang memiliki orang lain selain dirinya?


Apa Niel berbohong mengatakan ia satu-satunya?


Eve menahan matanya yang mulai memanas. Sedikit lagi lelehan bening pasti akan jatuh.


"Baby."


Dengan gerakan cepat Eve mengembalikan ponsel Niel seperti semula tanpa membuat Niel curiga.


"Kau baik-baik saja?" Niel melihat mata Eve yang sedikit memerah.


"Memangnya aku kenapa?" Eve berusaha menormalkan keadaannya kembali.


"Kau terlihat aneh."


"Sudah?" Eve mengabaikan perkataan Niel.


"Hm, bantu aku membuka mobil."


Eve mengangguk sambil berjalan menuju mobil. Setelah memasukkan semua belanjaan ke dalam, Niel menarik Eve menghadapnya sambil mengamati wajah cantik itu.


"Katakan jika ada yang mengganggumu."


"Tidak ada!"


Niel menghela nafas kemudian memeluk gadisnya itu. Diciumnya kepala Eve beberapa kali.


"Pokoknya jangan sembunyikan apapun, mengerti?"


Eve hanya mengangguk.


Tapi kau sendiri tidak mengatakan apapun, batin Eve sendu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2