
Eve turun dengan pakaian formalnya seperti biasa saat akan pergi ke kantor. Di bawah Niel juga sudah menunggunya seperti biasa bersama Lewis yang membaca korannya di pagi hari. Tapi sepertinya tidak ada koran pagi ini karena keduanya seperti terlibat pembicaraan serius.
"Pagi, Dad."
"Pagi, Sayang." Setelah membalas sapaan Eve, Lewis meninggalkan keduanya.
"Kupikir kau tidak akan datang pagi ini." Semalam saat mengantarnya pulang Niel terlihat menyeramkan dengan wajahnya itu, jadi Eve tidak berani untuk menegurnya.
"Kau tidak perlu ke kantor hari ini."
"Kenapa?" Niel benar-benar marah padanya? Kening Eve mengerut.
"Aku dan Brian akan pergi hari ini ke Valencia selama beberapa hari. Ada janji dengan investor perhiasan."
"Kenapa aku tidak tahu?"
"Ini memang mendadak."
"Aku ikut!" pinta Eve.
"Kami bekerja, bukan berlibur. Kita bisa pergi setelah pekerjaanku selesai jika kau ingin."
"Kau marah padaku?"
"Tidak ada yang marah padamu." Niel menyentuh kepalanya dan mengelusnya. Perlakuannya masih sama meski wajahnya datar.
Eve mengangkat wajahnya hendak mencium bibir Niel, namun pria itu tampak menghindar dengan mencium keningnya saja.
"Ganti bajumu dan istirahatlah."
Tidak ada yang keluar dari mulut Eve selanjutnya. Gadis itu tertegun untuk sementara waktu karena penolakan Niel. Apa ini pertanda? Bibirnya mencoba melengkungkan senyum tipis meski matanya mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
"Pergilah," ujar Eve pelan dengan tertunduk.
Pergi sejauh yang kau inginkan.
-
-
-
Niel menjatuhkan tubuhnya di ranjang hotel tempatnya menginap. Ia sudah tiba di Valencia satu jam yang lalu dan langsung pergi menemui investor bersama Brian.
Baru saja menutup matanya sebentar, wajah Eve sudah muncul dalam pikirannya. Dam*n! Ia merindukan Eve, padahal mereka baru saja bertemu empat jam yang lalu. Niel menyesalkan pertemuan terakhir mereka yang meninggalkan Eve dengan wajah sendunya begitu saja.
Tapi Lewis yang memintanya untuk menahan diri selama beberapa waktu untuk menyadarkan Eve.
Nyatanya Eve masih terlalu santai pada sebuah hubungan dan belum sepenuhnya mengerti arti cinta. Untuk menyadarkan gadis itu betapa berharganya sebuah hubungan adalah dengan membiarkannya merasakan kehilangan meski sesaat. Begitu kata pria yang akan menjadi ayah mertuanya itu.
"Kau serius ingin menjaga jarak?" Niel langsung menatap tajam pada Brian.
"Kau gila?" Jangan harap!
"Padahal kau sendiri yang bilang," gumam Brian tak habis pikir. Dasar pasangan penuh drama!
"Aku tidak peduli dia mau menikah atau tidak. Intinya aku takkan melepasnya!" tekan Niel.
"Lalu kenapa kau tidak membiarkannya ikut?" Niel tidak langsung menjawab.
"Sudahlah, aku tidak peduli." Brian memilih merebahkan tubuhnya di sebelah Niel dan memejamkan mata.
Niel menghela nafas kasar dan ikut memejamkan matanya.
__ADS_1
-
-
Di tempat lain Eve sedang bersama Lucia di restoran wanita itu dengan sebotol wine yang menemani mereka.
"Aku benar-benar berharap hubunganmu kali ini akan berhasil, Eve."
"Kau sudah lihat sendiri hasilnya, kan."
"Hasilnya masih belum jelas, Eve!"
"Dia menghindariku."
"Dengar, dalam sebuah hubungan, pertengkaran itu sudah sering terjadi. Itu sebabnya kita harus saling berkomunikasi agar tidak ada kesalahpahaman!"
"Aku tidak sempat bicara karena dia pergi."
"Telepon dia sekarang! Jangan seperti orang kesusahan."
Eve menurut dengan pasrah dan mengambil ponselnya. Tanpa pikir panjang ia menekan kontak Niel namun tidak ada jawaban meski sudah beberapa kali Eve menghubunginya.
Lucia sendiri sudah menutup mulutnya dan memalingkan wajah begitu Eve menatapnya seolah berkata, "kau lihat sendiri, kan?"
Sepertinya rumit, pikir Lucia.
"Mungkin dia sibuk." Lucia memaksa senyum.
"Sibuk menghindariku," sambung Eve sembari meminum winenya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1