The Choise

The Choise
Satu-satunya Pilihan


__ADS_3

"Sampai kapan kau akan bersikap dingin padanya?" tanya Cristina bersedekap dada pada suaminya yang menatap keluar jendela. Felipe memperhatikan perdebatan kecil antara Andrew, Eve dan Niel di luar sana.


"Memangnya aku harus bersikap bagaimana?" datarnya.


"Kau masih bertanya?! Jika kau ubah sedikit sikapmu pada Eve, dia tidak akan takut padamu."


"Dia takut?"


"Astaga ... Coba kau pikirkan gadis kecil mana yang berani mendekat saat seseorang menatapnya dingin? Terlebih pria itu mengaku sebagai ayahnya!" Dasar kaku!


"Kau sudah menjelaskan padanya tadi."


"Iya! Seharusnya kau yang jelaskan dengan benar! Kau ayahnya, sedangkan aku hanya ibu tiri yang belum tentu didengarkan!" bentak Cristina. Duplikat ibu lembut langsung menghilang di hadapan Felipe.


"Kau lihat bagaimana usahaku dan Andrew membujuk anak itu. Dia keras kepala seperti ayahnya!"


Karena dia anakku, batin Felipe.


-


-


-


Sedangkan perdebatan kecil tak terhindarkan Andrew dan Niel yang ingin membawa Eve untuk diri sendiri.


Niel ternyata sudah menunggunya keluar selama tiga jam di mobilnya tanpa berniat masuk, sedangkan Andrew baru mengetahui saat tanpa sengaja melihat Eve menuju keluar pintu.


"Kau kan baru sebentar disini. Ayo masuk lagi." Andrew bersikukuh membawa Eve masuk dengan menarik tangannya.


"Kau tidak dengar dia mau pulang!" kesal Niel menarik tangan Eve yang satunya lagi.


"Jangan egois! Kau hampir tiap saat bersamanya."


"Karena dia milikku!" Niel tidak mau kalah.


"AKU BUKAN MILIK SIAPAPUN!" teriak Eve menyentak kedua tangannya hingga pegangan mereka terlepas.


"Minggir!" Eve melenggang pergi menuju mobilnya sendiri yang tidak jauh dari mobil Niel.

__ADS_1


"Eve!"


"Baby!


"Berisik!" Brakk!


Aku tidak mau bersama siapapun hari ini!


Namun tidak terwujud karena Niel sudah duduk disebelahnya setelah membuka pintu. Eve hanya melirik kecil kemudian menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Niel sendiri tak banyak bicara karena tahu suasan hati Eve sedang tidak baik. Jangan sampai wanita ini menabrakkan mobilnya akibat emosi tak tertahan. Jadilah Niel hanya diam sampai Eve menghentikan mobilnya di depan gedung bertingkat.


Setelah menyerahkan kuncinya pada penjaga, Eve melenggang masuk yang diikuti oleh Niel.


Eve menghentikan langkahnya setelah melewati pintu apartemennya. Niel ikut berhenti setelah menutup kembali pintu yang dibuka Eve.


Tak lama Eve berbalik dan berjalan cepat menuju Niel. Wanita itu tanpa aba-aba langsung men*cium bibir Niel setelah mengalungkan tangannya di leher Niel. Pria itu membalas dengan terbuka hingga ciu*man keduannya menjadi panas.


Niel mengangkat tubuh Eve hingga gadis itu melingkarkan kakinya di pinggang Niel. Keduanya saling mengu*lum, meny*esap dengan liar seraya kaki Niel berjalan menuju sofa dan menjatuhkan tubuh mereka disana.


Niel melepas tautannya dan menyatukan kening mereka dengan tangan mengelus wajah Eve dengan lembut. Dengan nafas terengah, tangan Eve menyentuh dada pria itu.


"Aku juga tidak ingin melakukannya."


Niel kembali menciumnya, sedangkan tangannya mulai turun mengusap dada Eve, kemudian menyentuh kancing kemeja atasnya. Dengan lihai Niel membuka satu-persatu kancing kemejanya.


Ciuman itu berpindah ke leher membuat Eve mendongakkan kepalanya disertai dengan sentuhan dingin dari telapak tangan Niel yang mulai bermain di bagian dadanya. Ciuman itu mulai turun dengan de*sahan Eve yang tak tertahan.


"Ayahku, Felipe— dia mencintai dua wanita."


Niel mengangkat kepalanya dan menatap Eve yang menatap kosong ke langit-langit. Pria itu merapikan kembali pakaian Eve dan memberi kecupan lembut di pipi Eve.


Pria itu ikut membaringkan tubuhnya setelah membawa Eve ke rengkuhannya dengan kepala Eve berbaring di dadanya.


"Kau takut aku seperti ayahmu?"


"Aku tidak mau menjadi seperti ibuku," jawabnya.


"Tidak akan karena aku bukan Felipe."

__ADS_1


"Jika seandainya datang pilihan lain, apa kau masih memilihku?"


"Tidak akan ada pilihan lain, Eve. Saat kuputuskan mencintaimu, maka hanya kau satu-satunya pilihan."


Mata Eve berkaca-kaca dengan tangannya meremas pakaian Niel.


"Kau masih mencintainya?" Eve yakin Niel sudah mengerti maksudnya.


"Tidak."


"Bohong!" Eve memukul cukup kuat dada Niel.


"Aku hanya mencintaimu."


"Kau masih menyimpannya di ponselmu!"


"Itu tidak disengaja. Aku tidak pernah mengecek ponselku dengan detail."


"Bohong!"


"Aku sudah menghapusnya. Kau bisa lihat sendiri."


"Apa gunanya jika dia masih ada disini." Buk! Satu pukulan lagi di dada Niel.


Niel menghela nafas pelan dan memperbaiki tubuh Eve agar sejajar dengannya. Tangan Niel menaikkan dagu Eve untuk mendongak dan menciumnya sekali lagi.


"Aku tidak pernah mengatakannya karena tidak ingin kau salah paham, tapi jika begini aku akan katakan sekarang."


"Wanita itu membawa pria lain ke tempat tidurnya saat aku melalukan perjalanan bisnis. Tapi karena ada masalah pada klienku, aku tidak jadi pergi. Saat aku bermaksud menemuinya, aku malah melihat pemandangan lain yang membuatku jijik."


Niel kemudian meraih tangan Eve di dadanya. Menggenggam, kemudian mencium telapak tangannya.


"Itu sebabnya aku mulai membenci sentuhan terutama sentuhan wanita."


"Kau pasti sangat mencintainya hingga seperti ini," ketus Eve.


"Aku sangat yakin tidak sebesar aku mencintaimu." Niel tersenyum khas.


Eve mengabaikan senyuman itu dengan menyembunyikan wajahnya di pelukan Niel. Ia merasa malu pada dirinya sendiri yang mulai merasa lemah saat bersama Niel. Niel membuatnya ingin selalu bergantung padanya. Apa cinta memang seperti ini?

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2