
Hingga hari ini— aku masih bersama pria yang tidak menyerah atas diriku. Dia datang ke dalam duniaku yang rumit dan penuh kesalahan. Saat banyak yang ingin menyerah atasku, dia satu-satunya yang ingin berjuang untukku. Dia hanya menginginkan satu— yaitu, cinta.
Aku tahu aku akan menyakitinya suatu hari nanti, namun dia selalu berhasil membuatku percaya bahwa aku bisa menjadi bagian dari kebahagiaannya.
Niel ... Aku sedang membicarakan dirimu. Itu kau, pria yang merasakan kenyamanan dariku, namun aku malah meninggalkanmu. Setiap kali masalah datang padaku, kau tidak berubah sama sekali.
Aku juga tahu bahwa aku akan merindukanmu. Aku akan tersiksa dengan rasa sakitku sendiri. Aku akan selalu menyesali ini, Niel. Namun itu lebih baik daripada harus berbagi rasa sakit ini denganmu. Kau tidak pantas menerimanya. Aku sudah merusak semuanya. Jadi, jangan terluka karenaku. Tersenyum lebarlah karena duniamu sangatlah cerah.
EL
...---------...
...----------------...
...----------------...
Brakk!!
Niel melempar semua yang ada di depannya dengan marah. Pria itu menjambak rambutnya dengan kuat kemudian meninju kaca meja rias hingga pecah membuat tangan besar Niel mulai mengaliri cairan merah.
"Kau bilang akan selalu bersamaku, Eve!" desis Niel berkilat marah. Ia mengambil buku diary dan merobeknya dengan kasar.
__ADS_1
Jadi ini yang menyebabkan Eve bertingkah aneh! Gadis itu mempersiapkan diri untuk pergi. Sangat rapi hingga Niel tidak menyadari niat terselubungnya.
"EVELYN!"
Apartemen itu mulai berantakan akibat ulah Niel. Pria itu mengamuk seperti orang yang telah kehilangan akal.
Baru satu hari Niel tidak pulang karena pekerjaan, tapi gadisnya sudah berani untuk kabur dari rumah?
Beberapa kali Niel mencoba menghubungi Eve, namun tak ada satupun panggilan yang di angkat. Semua yang berhubungan dengan gadis itu di tinggalkan disini bahkan aksesoris yang dipasang pelacak pun di tinggalkan oleh Eve.
Tanpa mengganti bajunya, Niel berlari turun. Tujuan pertama yang terlintas dalam pikirannya adalah Lucia. Wanita itu pasti tahu sesuatu, namun begitu ia menemukan Lucia di restoran miliknya itu, keadaannya sama kacaunya dengan Niel.
Wanita itu menatapnya dengan pandangan kosong bersama secarik kertas di tangannya. Matanya sudah membengkak bahkan air mata masih menyisa di matanya. Adapun Lucio yang memeluk adiknya itu.
"Eve sering membicarakan mimpi. Dia bilang akan mengejar mimpinya suatu hari nanti," lirih Lucia lemah. Wanita itu mulai terisak lagi, "kau jahat meninggalkan kami, Eve— bagaimana aku bisa mengunjungimu jika kau pergi seperti ini!"
"Dia tidak akan pergi— tidak akan kubiarkan dia pergi!" Niel menggeleng kuat. Matanya mulai berkaca-kaca. Niel terlihat semakin kacau.
Saat mendatangi mansion Lavelle, pemandangan yang sama pun ia dapatkan dimana Amy menangis tersedu-sedu di lantai hingga pandangannya tertuju pada Felipe. Niel tanpa pikir panjang menarik kerah pria itu dan memukul wajahnya.
"DIMANA EVE! CEPAT CARI DIMANA EVE!" teriak Niel menggila, "INI SEMUA GARA-GARA KAU DAN WANITA ITU! EVE-KU TIDAK AKAN PERGI SEPERTI INI!" Bukk! Niel memukulnya sekali lagi hingga bibir Felipe terluka. Pria paruh baya itu tidak melawan sama sekali.
__ADS_1
"NIEL! HENTIKAN." Lewis menahan Niel yang hendak memukul Felipe lagi. Cristina ikut menangis dengan keadaan kacau ini.
Pintu utama terbuka lagi dengan Daniela yang berlari masuk memeluk Niel. Ia sudah mendengar kabar buruk ini.
"Kembalikan Eve-ku, Mom," isaknya pada sang ibu.
"Kita akan mencarinya. Ayahmu akan membantu mencarinya." Daniel ikut menangis, tak sanggup melihat keadaan Niel yang sangat kacau itu.
"Tenanglah semuanya! Kita akan menemukan Eve secepatnya," ujar Stefan. Mereka terlalu panik hingga lupa bahwa mereka bukan keluarga biasa. Mudah saja untuk mencari informasi seseorang.
"Tidak, jangan ganggu dia," ujar Amy lemah.
"Apa maksudmu, Amy? Kau membiarkannya?" cerca Daniela.
"Aku memang tidak rela, tapi kita sudah menahannya terlalu lama." Menatapnya suaminya Lewis,"Eve pasti lelah, kan?" Air mata Amy mengalir lagi.
Eve sudah terlalu lama menahan dirinya demi mereka. Gadis itu berpura-pura bahagia dan mengatakan baik-baik saja. Padahal perasaannya yang membeku telah menjadi bukti bahwa gadis itu tidak pernah baik-baik saja.
"Dia akan pulang setelah perasaannya membaik," ujar Amy yakin, "dulu juga seperti itu."
"Bagaimana jika kali ini tidak kembali?"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...