The Choise

The Choise
Sudah Membaik


__ADS_3

Niel sudah tidak tahan melihatnya segera berdiri dari tempatnya untuk memergoki keduanya. Eve cukup terkejut saat jabatan tangannya tiba-tiba dilepas dengan kasar.


"Niel, kau mengikuti ku?"


"Apa aku harus diam saja saat kau menemui mantan pacarmu?"


Melihat perhatian orang pada mereka, Eve menarik Niel untuk duduk. Brian menyusul duduk disebelahnya juga.


"Kau juga?!"


"Aku harus membantu temanku."


"Cih!" Eve benar-benar tak habis pikir.


"Kau tahu watak Niel, seharusnya jangan pergi sembarangan," bisik Brian.


"Wah, apa Eve meninggalkan pacarnya demi diriku."


"Kau ingin mati?" kata Niel dengan nada menusuk.


"Tentu tidak, aku masih ingin melihat wanitaku."


Brakk! Brian dan Eve tersentak ditempatnya akibat ulah Niel yang memukul meja dengan keras. Berbeda dengan Lucio yang menampilkan senyum puas. Rupanya rumor tentang pria terkaya di madrid ini benar.


"Eve, kau seharusnya membutuhkan pria lembut, bukan pria pemarah yang bisa memancing emosimu."


Ya, Niel memang selalu memancing emosinya. Eve membenarkan itu.


"Sebaiknya kami pergi, Lucio." Eve sudah cukup lelah hari ini. Jangan sampai Niel mengamuk disini.


"Aku ingin memberinya pelajaran dulu—"


"Jangan macam-macam, Niel," ancam Eve.


"Kau mau membelanya?!"

__ADS_1


"Memangnya dia melakukan kesalahan apa hingga kau mau memberinya pelajaran?"


Brian jadi merasa salah tempat. Lagipula untuk apa juga dirinya ikut tadi.


"Dia ingin merebutmu dariku!"


"Pfff ..." Lucio nyaris tertawa jika Eve tidak mempelototinya.


"Aku memang berniat begitu tadi, tapi dia bilang akan tetap memilihmu." Lucio bersedekap santai. Niel tetap memasang wajah dingin meski sudah kegirangan dalam hati.


Eve memilihnya! Dengar, Eve memilihnya!


"Kau dengar? Sudah kubilang aku tidak pergi, kecuali kau yang meninggalkanku."


"Tidak akan!"


"Kalau begitu bersikap baiklah."


"Untuk apa bersikap baik padanya?"


Oh Godd!


Memangnya kurang sabar apalagi dirinya!


"Kita pulang!"


"Jangan lupa hadiahmu."


Lucio! Pria ini benar-benar tidak tahu situasi ya!


"Hadiah apa?!"


See! Sudah ada yang mengamuk lagi.


"Apa surat kedai ini? Berapa harganya? Akan kubayar sekarang juga!"

__ADS_1


"Aku sudah membayarnya. Lihat ini." Eve mengirimkan pembayaran langsung dari ponselnya ke rekening Lucio di depan Niel, "bukan hadiah, tapi bisnis! Dia hanya mengerjaimu saja."


"Awas jika kau membohongiku," gerutunya saat Eve mendorongnya menjauh untuk pergi.


"Kami pergi, Lucio."


Ketiga orang itu sudah benar-benar menghilang dari pandangannya.


"Kau sudah melihatnya sendiri, kan? Aku juga terkejut dulu, tapi Sir. Niel pria baik untuk Eve. Sikapnya seperti itu memang hanya ditunjukkan untuk Eve," ucap Lucia yang duduk disebelahnya setelah keluar dari persembunyiannya. Ia harus mengawasi kakaknya yang ingin bertemu sahabatnya, kan?


"Bagaimana perasaan Eve?" tanya Lucio.


"Membaik. Aku yakin dia sudah merasakan suka."


Lucia sangat bahagia untuk itu.


"Sudah kubilang dia tidak memiliki kelainan. Keluarganya terlalu khawatir. Dia hanya menutup hatinya," kata Lucio.


-


-


-


"Memangnya untuk apa kedai kecil seperti ini. Aku bisa mencarikan yang lebih besar."


Brian hampir bosan mendengar gerutuan Niel sejak tadi. Pria itu jadi banyak bicara jika menyangkut Eve.


"Kau tidak lihat nama kedainya?" Eve menunjuk satu kata yang tertulis disana, "Rosaria coffie!"


"Kedainya hampir bangkrut, jadi dia menjualnya dan dibeli oleh pemilik yang sekarang. Aku beberapa kali ingin membelinya, tapi mereka menolak."


Benar, tempat itu satu-satunya milik ibunya. Meski Eve tidak tahu mengapa menginginkannya, tetap saja keinginan itu ada.


"Memangnya ada apa dengan kedai itu?" Brian di kursi kemudi ikut penasaran.

__ADS_1


"Bukan apa-apa. Aku hanya melihat seseorang," gumamnya di akhir.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2