
Eve menginjak dapur dengan rambut basahnya yang dililit handuk karena tidak langsung mengeringkannya. Ternyata sudah ada Niel yang duduk di meja makan dengan laptop terbuka, lalu terdengar suara lain di ujung sana. Rupanya sedang rapat ya. Ia memang harus segera mengusir pria ini.
Tapi Eve hanya ikut duduk di hadapan Niel dengan memainkan ponselnya. Mata Niel sendiri tak berhenti mengawasinya dengan mata elang itu. Tak lama Eve juga menatapnya dengan menunjukkan layar ponselnya.
"Mau makan apa?" katanya tanpa suara, namun Niel sudah memahaminya.
Eve menunggu jawaban Niel.
"Baiklah, lakukan sebaik mungkin," ujar Niel di layarnya, kemudian menutup dan menjauhkan laptopnya.
"Kemari." Menggerakkan jari telunjuknya tanda mendekat. Eve berdiri malas dari tempatnya. Sebelum duduk di sebelah Niel, pria itu sudah terlebih dahulu menariknya jatuh ke pangkuan.
Eve pasrah saja saat Niel mendusel-dusel wajah dam lehernya. Wangi sabun dan sampo Eve membuat Niel seperti lebah yang menyukai bunga.
Cup, cup! Kecup satu kali, kecup dua kali hingga Eve menjauhkan wajah.
"Seingatku kau sudah menciumku saat bangun tadi," datar Eve.
"Memangnya ada ketentuan batas?"
Eve jadi mengalungkan sebelah tangannya di leher karena Niel semakin merapatkan tubuhnya.
"Pokoknya aku akan menciumnya setiap bertemu!"
"Ya, terserah kau saja. Sekarang katakan kau ingin makan apa?" Memainkan ponselnya lagi. Niel menompangkan dagunya di pundak Eve sambil melihat jari Eve yang menscroll menu.
"Aku tidak bisa memakan makanan luar."
Jari Eve terhenti. Eh, benar juga. Ia lupa hal itu. Padahal Niel tidak pernah memakan makanan yang dibelinya diluar kecuali masakan koki rumah.
"Jadi bagaimana?" Eve jadi bingung.
"Kau saja yang memasak. Aku ingin merasakan buatanmu." Masih memeluk Eve manja.
Eh?
"Apa kau bisa memasak?" Eve bertanya.
"Itu hal mudah," jawabnya santai.
"Kalau begitu kau saja yang masak."
"Kenapa aku?" Bukannya ia yang ingin merasakan masakan Eve.
"Niel— bukannya tidak mau, tapi ...."
"Tapi?"
"Aku tidak bisa memasak," cicitnya membalik badan untuk menyembunyikan kepalanya di leher Niel.
Jangankan memasak, dirinya saja tidak tahu cara menggoreng telur!
Niel mengerjap sesaat sebelum akhirnya tertawa gemas. Satu lagi kekurangan Eve yang ia ketahui.
"Kenapa malu? Jangan bersembunyi."
Tapi kau tertawa, bodoh! umpat Eve.
__ADS_1
"Haha, lucunya. Aku jadi ingin mencium mu lagi."
Bisa berhenti tidak?
Eve semakin menyembunyikan wajahnya. Rasanya memalukan tidak dapat melakukannya. Mungkin Eve tidak akan peduli dengan orang lain, tapi di depan Niel rasanya agak— ya sulit dijelaskan.
Tiba-tiba tubuhnya terasa melayang kemudian jatuh di atas meja. Niel sudah mendudukkannya disana dengan jarak wajah mereka yang sangat dekat.
Niel merengkuhnya dengan elusan-elusan lembut yang menelusuri wajahnya.
"Aku senang sekali."
Senang? Dasar aneh!
"Aku memiliki satu hal lagi untuk membuatmu bergantung padaku." Tersenyum sumringah.
"Cih!" Eve melengos, "aku akan belajar!"
Niel tertawa lagi. "Aku tidak butuh istri yang pintar memasak. Kau cukup melayaniku saja." Mengedipkan satu matanya pada Eve.
"Kau mau ku pukul?"
"Aku juga mencintaimu." Cup! Bergerak cepat menyambar bibir Eve, lalu berlari ke dekat kompor.
"Aku harus membuat sarapan untuk ratu kesayanganku," katanya cukup keras sambil memegang sebuah teplon. Eve tersenyum di tempatnya.
Rasanya berbeda. Berbeda saat dia bersama orang lain. Niel hanya orang baru di hidupnya, tapi mengapa keberadaannya bisa membuatnya mengubah banyak hal.
Tanpa sadar Eve berjalan mendekat, memeluk punggung lebar Niel, membuat pria itu menghentikan kegiatannya.
"Baby?"
"Bagaimana jika suatu hari kau juga menganggap sentuhanku menjijikan?"
Mungkin pada hari itu Niel sudah membencinya seperti para wanita lain.
"Itu takkan terjadi."
"Bisa saja— saat perasaanmu sudah menghilang."
Memangnya siapa yang akan bertahan padanya? Lucio yang ia pikir akan menjadi yang terakhir juga sudah menyerah. Sudah tiga bulan sejak Niel mengenalnya. Perasaan ini masih baru dan akan segera hilang setelah merasa bosan. Pada saat itu titik jenuh akan mengalahkan semua perasaan yang pernah ada.
"Kau tidak mempercayaiku?" Niel membalikkan badan.
Benar, Niel tidak pernah berbohong, tapi kondisinya berbeda.
"Pernyataan cinta dan semua perlakuanku, apakah masih kurang untuk membuatmu percaya bahwa aku akan tetap di sisimu?"
"Aku percaya."
Aku percaya karena aku yang merasakannya. Aku juga mempercayai cinta dari orang tuaku dan Andrea, lalu kenapa aku harus ragu jika kau juga mencintaiku?
Dirinya selalu percaya pada cinta di sekelilingnya. Ia tidak pernah meragukan apa yang ia dapatkan dari hal bernama cinta itu. Ia juga percaya, sangat percaya jika Niel juga mencintainya. Tapi masalahnya berapa lama hal itu bertahan?
Niel ... Kau mencintaiku sekarang, tapi kau juga bisa berhenti kapan saja.
"Eve," panggil Niel lembut. Ia mencium kening dan puncak hidung Eve hingga air mata keluar dari sudut matanya.
__ADS_1
Perlakuan lembut ini— juga akan menghilang suatu saat nanti.
"Kau hanya perlu membuka hatimu dan membiarkan hatimu merasakannya. Jangan terjebak dalam ketakutan dan pemikiranmu sendiri."
Niel tahu Eve telah merasakan trauma mendalam yang membuatnya ketakutan untuk merasakan cinta. Eve mendirikan tembok yang sangat tinggi untuk melindungi hatinya sendiri. Eve mampu menerima cinta, tapi tidak mampu memberikan hal yang sama.
Tangan Niel mengarah pada wajah Eve yang mulai menangis dan menyeka air mata itu.
"Aku mencintaimu, Eve. Hatiku sudah tahu kau orangnya, itu sebabnya aku memilihmu. Aku yakin kau juga sudah merasakannya, hm."
"Aku— tidak tahu," katanya sesugukan.
Hanya saja ia mulai takut kehilangan. Ia takut pria ini pergi seperti yang lain.
"Kau ingin berjuang untukku?"
Eve mengangguk dengan di iringi air mata.
"Kau tahu apa artinya itu?"
"Tidak— aku hanya merasa takut."
"Kau takut aku pergi?" Lagi-lagi Eve mengangguk. Sial, dirinya sudah terbawa suasana.
"Tapi aku tidak akan melarangmu. Kau bisa pergi jika kau mau."
"Bodoh!" Niel langsung mengecup lama bibirnya, "artinya kau mencintaiku juga!"
Itu sudah cukup. Gadisnya yang polos tidak tahu apa-apa tentang perasaannya. Bukankah sudah jelas? Eve menolak banyak pria di hidupnya, tapi membiarkan Niel menyentuhnya. Ah Niel sudah cukup menyatakannya dengan kata cinta.
Eve mendorong dadanya pelan untuk melepas bibirnya.
"Tapi aku memiliki alasan untuk menyukaimu."
Cinta kan tidak butuh alasan!
"Kalau begitu apa alasannya?" tantang Niel.
"Karena kau bersikap manis dan baik padaku."
"Benarkah? Jika aku tidak baik dan manis lagi apa kau akan tetap menyukaiku?"
Eve sedikit berpikir. Sikap Niel kan berubah-ubah. Pria itu seperti cuaca yang terkadang gelap dan terang.
"Aku— tetap su— ka." Meski bibirnya mengatakannya dengan ragu, tapi ia sangat yakin dalam hatinya. Memangnya kenapa dia harus tidak suka? Dirinya sendiri juga tidak selalu baik dan manis. Terkadang seperti penyihir yang berteriak marah.
"Kalau begitu kau tampan!" Entah keberanian darimana ia berkata begitu, "aku menyukai wajah tampanmu."
Niel jadi tertawa.
"Aku ingat kau pernah bilang sangat membenci pria tampan sepertiku."
Eve memerah malu. Meski tidak ingat perkataannya itu, tapi ia yakin hal itu benar karena dirinya sendiri sudah membenarkan itu.
"See? Sudah tidak ada alasan! Sekarang aku mau menciummu saja."
"NIEL!"
__ADS_1
Dan jadilah Eve sebagai hidangan pembuka untuk sarapan yang tertunda.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...