
Seorang gadis cantik dengan rambut ikal berwarna lilac sedang berlarian menggenggam tangan seseorang pria. Terlihat jelas dari senyum dan tawanya gadis itu sangat bahagia. Hari yang cerah itu mereka berdua melakukan piknik di padang rumput yang hijau dengan pepohonan yang sedang gugur.
Gadis itu merebahkan kepalanya di atas paha pria tersebut, sembari memegang wajah pria itu dengan kedua tangannya.
"Lino, apa kau sangat mencintaiku?" tanya gadis tersebut. Pria itu menganggukkan kepalanya di sandingkan dengan senyum tulusnya.
Gadis tersebut tersenyum bahagia, lalu mengajak pria itu berdiri. "Apa kau tidak akan meninggalkan aku?" tanya gadis itu lagi.
"Tidak akan, walau maut menjemputku, di surga aku akan tetap mencarimu," sahut pria itu sembari menggenggam kedua tangan gadis itu dengan erat.
"Tapi Lino, aku akan pergi. Apa kau akan menungguku?" Gadis itu menangis tetapi bukan air yang keluar melainkan darah.
Tiba-tiba suasana tempat tersebut berpindah menjadi di ujung jurang, suara ombak laut yang menghempas ke batu karang, angin kencang di sertakan hujan dan petir.
Senyuman yang di sertakan air mata darah di wajah gadis itu dan satu tangan mengulur ke arah pria itu.
"Tidak!! Tidak!!" ucap pria itu berlari ingin menggenggam tangan gadis tersebut.
Perlahan gadis itu menjatuhkan dirinya ke dalam jurang hingga dirinya terjatuh ke dalam lautan.
"TIDAK!!" Pria tersebut terbangun dari mimpinya. Badannya di penuhi keringat dan napas yang tak beraturan.
"Tok... Tok... Tok...." Suara ketukan pintu. "Bos, Anda sudah bangun?" tanya Reizo.
Reizo Arley adalah Sekretaris pribadi Lino yang berjaga selama 24 jam, Reizo sudah bekerja dengan Lino selama 10 tahun. Susah-senang, titik terendah hingga tinggi hanya Reizo yang tahu hal tersebut. Lino tak pernah memperlihatkan sisi lain dari dirinya kepada orang lain kecuali, Reizo.
"Jika kau tidak menjawabku, aku akan segera masuk," tekan Reizo.
"Ahh... Aku baik-baik saja. Siapkan saja baju dan sarapanku," sahut pria itu.
Beberapa saat kemudian pria tersebut dan Sekretarisnya sampai di sebuah perusahaan yang sangat besar dan tinggi. Perusahaan tersebut adalah perusahaan terbesar di negara K, yaitu perusahaan BlueSky.
Setiap melangkahkan kakinya, pria tersebut selalu di lindungi dengan penjagaan yang sangat ketat dengan Bodyguard seperti preman.
“Selamat pagi, Direktur Lino,” sapaan karyawannya bersamaan.
“Selamat pagi, Direktur, pagi ini Anda bebas sampai jam 11.00, lalu pada pukul 12.00, Anda akan mengadakan rapat dengan Grub M, jam 13.30 baru, Anda makan siang. Anda ingin memakan sesuatu terlebih dahulu?” tanya Naila.
Naila Taleetha adalah Sekretaris kedua Lino, tetapi hanya bekerja hanya saat di perusahaan saja, terlepas dari itu semuanya tanggung jawab Reizo.
“Ahh... D-dan i-it-itu...,” ucap Naila, terhenti karena langkah Lino terhenti.
__ADS_1
“Ada apa?” sahut Reizo.
“Maafkan saya, tadi ada seorang wanita memaksa masuk. Dia bersikeras ingin masuk hingga mengancam kami semua lompat dari gedung ini. J-jadi... s-saya... ijinkan masuk,” jelas Naila, yang sangat ketakutan.
“Mengapa, kau menghentikannya? Jika dia ingin melompat, melompat saja, ahh... Siapa lagi wanita ini yang berani memasuki ruanganku?” jawab Lino, dengan nada tenang namun tatapan seperti elang mengincar mangsanya. Ucap Lino tersebut membuat Naila sangat ketakutan.
Adhlino Alvano adalah seorang Direktur yang memiliki ketampanan dan ketenarannya yang diakui oleh dunia. Tetapi, di balik wajah malaikatnya tersebut, dia memiliki tatapan sedingin es, hati seperti batu dan ucapan seperti silet. Bukan hanya seorang Direktur di perusahaan terbesar, Lino juga seorang Bos Mafia yang memiliki 70.000 anggota dan sangat di takutkan oleh beberapa geng lainnya.
Mereka sering di sebut dengan geng DarkSky, membunuh tanpa mengenal jenis kelamin maupun tingkatan. Siapa pun yang menghalangi atau tak mengikuti perintahnya akan di musnahkan hari itu juga tanpa pengecualian.
Lino dan kedua Sekretarisnya pun tiba di ruangannya.
“Apa perlu saya usir dia, Direktur?” tanya Naila.
“Tidak perlu,” sahut dingin Lino.
“Naila, kau bisa kembali ke tempatmu, biar aku yang mengambil langkah selanjutnya, oke,” sahut Reizo dengan senyuman ramah.
Wajah Naila memerah dan menjadi gugup melihat Reizo tersenyum ramah seperti itu.
“B-baiklah,” jawab Naila, gugup. Lalu segera ke tempat duduknya.
“Lino,”
Wanita tersebut berlari hendak memeluk Lino tetapi, saat wanita itu hendak mendekap Lino, Lino menyerongkan badannya hal asli wanita tersebut jatuh.
“Pfftt....” Naila menahan tawanya melihat wanita itu terjatuh.
“Siapkan, dokumen yang akan di bahas hari ini,” sahut dingin Lino, seperti tidak menyadari keberadaan wanita tersebut.
“Baik, Bos,” Naila, mengambil dokumen lalu, masuk ke ruangan, Lino.
“Reizo....”
Belum selesai, Lino berbicara Reizo, sudah mengerti dan bergegas mengeluarkan wanita tersebut dengan paksaan.
“Maaf jika, menyakiti, Anda,” ucap dingin Reizo, karena sudah menarik wanita tersebut dengan sangat kasar.
“Hah!! Aku sumpahi, Lino tidak akan memiliki kekasih selama-lamanya!” Wanita tersebut sangat geram hingga tak memperhatikan kata-katanya itu.
Penjaga pintu langsung menyeret wanita itu keluar, agar tak menambah keributan. Hari pun mulai malam, semua perkerjaan Lino pun telah selesai.
__ADS_1
Setelah, selesai kerja, Lino, tak langsung kembali ke rumahnya, melainkan menuju Bar yang dia dirikan untuk markas kecilnya.
“Bos, orang tersebut sudah tertangkap,” ucap Reizo, sembari mengangkat telepon dan menyetir mobil.
“Segera ke sana,” sahut Lino, Reizo langsung menambahkan kecepatan mobilnya.
Setengah jam kemudian, mereka sampai di Bar dan segera masuk melalu pintu rahasia. Saat memasuki ruangan, cukup waktu lama melewati lorong hingga, musik dari Bar tak terdengar.
Sesampainya, di sebuah ruangan berwarna merah dan hitam yang di penuhi alat-alat tajam maupun tumpul. Terdapat dua orang yang sedang terkapar, tak memiliki energi lagi karena seluruh tubuh mereka habis di siksa.
“Salah satunya wanita? Lepaskan rantai di leher dan kakinya,” ucap Lino, sembari memilih barang antiknya tersebut.
“Apa kau tahu? Ini wilayah siapa? Mengapa, kalian berani mengedarkan narkoba di wilayah ini?” tanya Lino, sudah mendapatkan barang antik yang akan dia gunakan untuk, wanita tersebut.
“Atas perintah siapa, kalian melakukan itu?” sambung Lino, sembari memanaskan besi sekecil lidi, lalu melangkah menghampiri wanita tersebut.
Lino, membuka baju dan celana wanita itu hingga meninggalkan pakaian dalamnya saja.
“Ahh... Kalian tidak memiliki tato gang. Akanku buatkan untukmu.”
“AAKHHH!!” teriak wanita itu, karena, Lino menempelkan besi panas tersebut di pundaknya dan mengukir huruf L.
“Haha... Teruslah, berteriak!! Haha... Tidak akan ada yang mendengarkanmu!! Haha....” Lino sangat menikmati hal tersebut.
“Lino, cukup!! Mari kita pulang. Biar aku yang mengurus sisanya.” Reizo, menghentikan, Lino, sebelum kegilaan Lino, menambah jadi.
“Bruakk!!” Lino, terjatuh pingsan karena suntikan penenang yang di berikan, Reizo.
“Aku akan kembali lagi,” ucap Reizo, sembari melemparkan pakaian ke wanita tersebut dan menggendong, Lino.
“Sampai kapan kau akan seperti ini, Lino. Ini sudah 10 tahun dan kau masih saja tak bisa melupakannya,” gumam Reizo, dalam hati.
***
"Ahhkk!! Badanku sangat sakit. Apa yang terjadi kemarin malam?" gumam Lino, terbangun karena matahari sudah menyinari tubuhnya.
"Pasti dia menyuntik diriku lagi," sambung Lino, bergegas ke luar kamar dan mencari, Reizo. Ternyata Reizo, berada di dapur menyiapkan sarapan.
"Yakk!! Reizo...."
"Malam ini, Anda, memiliki tugas yang harus di selesaikan. Segeralah, bersiap berangkat kerja," sahut Reizo, membuat Lino, tak bisa melanjutkan perkataannya.
__ADS_1
"Untung saja ada alasan untuk hari ini," gumam Reizo, dalam hati.