
Zea membuka matanya dengan perlahan, dia melihat seorang wanita sedang membuka gorden kamarnya dengan samar-samar.
"Bangunlah, Zea. Bangunlah, ini sudah pagi. Kita akan sarapan apa pagi ini?" ucap wanita itu yang tak lain Tea.
"Tea? Kau sudah bangun?" Pengelihatan Zea masih samar-samar karena sinar matahari.
"Tentu saja, bukankah aku bangun selalu pagi, bangunlah dan segera turun."
Saat Tea membuka pintu tiba-tiba saja, seseorang dari belakang menusuk Tea hingga tembus badannya.
"TEA!!!" hardik Zea, lalu terbangun dari tidurnya.
"Hanya mimpi, hah... ahh... akhh... tubuhku rasanya sakit semua," ucap Zea lirih karena merasa tubuhnya sangat kecapean.
"Kau sudah bangun? Mau aku buatkan susu atau kopi?" tanya Lino hanya mengenakan handuk yang dililit di pinggang sembari meminum secangkir teh.
"Apa yang kau lakukan di kamarku?" tanya Zea belum sadar dirinya masih tak mengenakan apa-apa.
"Apa kau melupakan yang tadi malam? Wahh... Zea ingatanmu sungguh payah," sahut Lino sembari menarik selimut untuk menutupi tubuh Zea.
Zea melihat tubuhnya yang tak mengenakan apa-apa tersebut, langsung teringat hal yang mereka lakukan tadi malam.
"Wah... aku sangat menikmatinya tadi malam. Dia sangat ahli dalam hal tersebut, wah... aku tak habis pikir!!" gumam Zea sembari menutupi mulutnya dengan tangannya karena terkejut.
Dia melihat ke dalam selimut dan ada bercak darah di atas seprainya. Dia tidak tahu harus melakukan apa, hendak keluar tetapi tubuhnya sangat kecapean.
"Apa kau baik-baik saja, Zea?" tanya Lino khawatir.
"Hmm...."
__ADS_1
"Apa kau mau mandi?"
"Hmm...."
"Aku akan menyiapkan air untukmu mandi. Apa kau mau aku mandikan? Tubuhmu pasti masih lemas."
"Hmm... emm... Tidakk!! Aku bisa mandi sendiri, tapi tolong bawakan aku ke kamar mandi."
Setelah menyiapkan air untuk Zea mandi, Lino pun membawa Zea ke kamar mandi. Zea masih menutup tubuh serta wajahnya dengan selimut, saat ini dirinya seperti kepompong.
"Keluarlah, aku baik-baik saja. Tolong gantikan seprainya."
"Baiklah, Ny. Zea."
Lino pun menggantikan seprai dan menelpon Reizo untuk membawakan bajunya ke kamar Zea. Beberapa saat kemudian Zea dan Lino pun turun ke bawah, untuk bergantian menjaga Tea.
"Apa kau ingin minum atau makan sesuatu?" tanya Lino.
"Bukankah, setelah melakukan itu kau tampak berubah, lebih lembut dan perhatian kepadaku?" sambung Zea.
"Entahlah, jadi kau menginginkan sesuatu?" jawab Lino mengalihkan pembicaraan.
"Aku ingin juz apel dan sesuatu yang masam."
"Wah... apakah itu sudah jadi dalam semalam?"
"Apa yang kau maksud sudah jadi?" Zea kebingungan.
"Tadi malam kita tak menggunakan pengaman dan aku terlalu menikmatinya hingga mengeluarkannya di dalam," sahut Lino dengan santai.
__ADS_1
"Lino aku ingin membunuhmu sekarang!!" Zea marah.
"Bukankah itu bagus, kita akan menikah dengan cepat atau menunggumu lahiran pun tidak masalah."
"Kau sudah gila, Lino. Buatkan saja apa yang aku mau tadi, kau membuatku gila!!" Zea sudah pasrah dengan kelakuan Lino.
"Pagi. Hmm... masih pagi tetapi kalian sudah ribut sekali," ucap Hea sembari menuruni tangga.
"Oh pagi. Kau sudah bangun? HEA!! kau memiliki mata panda!!" seru Zea.
"Yah... aku sudah tidak tidur beberapa malam, aku ingin istirahat tadi malam, tapi kalian terlalu ribut hingga kedengaran hingga kamarku. Apakah kau lupa kamar kita bersebelahan, Zea?" ucap Hea dengan tatapan tajam, sembari mengiris apel dan mendekati Zea.
"Hea, hentikan itu. Aku sangat lelah untuk membahas itu. Anggap saja kami akan segera menikah, dia terlalu bodoh hingga mengeluarkannya di dalam pantas saja aku merasa perutku sangat berisi tadi malam."
"Zea, apa kau betulan ingin menikah dengannya?"
"Hmm...," sahut Zea tanpa berpikir.
"Akhh...." Jari Hea teriris pisau karena terkejut mendengar perkataan Zea
"Kau tidak apa-apa, Hea?"
Tanya Zea langsung menutup jari Hea, tetapi darah Hea sempat tetes ke lantai. Zea merasakan sesuatu akan menyerah ke arahnya, dia langsung memutarkan badannya ke depan Hea, lalu mendorong Hea ke sofa hingga terduduk.
Betul saja firasat Zea, ternyata Tea bangun dan menyerang mereka berdua, tetapi sempat Zea tahan. Alhasil Zea digigit dan di cakar oleh Tea.
"Aakhhh...," teriak Zea yang kesakitan.
πππππ
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTENYA ππ