THE DEVIL PSYCHO

THE DEVIL PSYCHO
Sanderaan


__ADS_3

pukul 02.00, Zea, masih terjaga. Dia tidak bisa tertidur dengan semua gambar yang ada di ruangan tersebut. Di depan pintu, ada empat penjaga sedangkan di luar setiap lima jam sekali penjaganya berganti.


"Mau tidak mau, aku harus keluar dan kembali sebelum pria tak jelas itu bangun. Tetapi, sebelum itu aku harus mencari data itu terlebih dahulu," gumam Zea, lalu membuka jendela selebar dirinya.


"WHOOSSHH!!" Zea, melompat dari jendela kamarnya, ke balkon, Lino. Dia melihat Lino, menaruh data tersebut di dalam sebuah kotak dan di taruhnya di laci yang hanya bisa di buka dengan sidik jarinya, Lino.


Lino, menyadari seseorang sedang mengawasinya. Tetapi, dia sedikit ragu karena, tingkat keamanan rumahnya lebih tinggi daripada keamanan, Presiden.


Karena, rasa penasarannya terus saja menghantui pikirannya, dia bergegas memeriksa hal tersebut. Lino, mengambil pistol di bawah bantalnya, sembari perlahan menuju balkon kamarnya itu.


"Dasar manusia, bodoh!" ketus Zea, dengan suara kecil.


"Whoosshh...." Zea, meninggalkan kamar, Lino dan segera kembali ke kamarnya terlebih dahulu.


Pintu kamar Zea, terbuka. Salah satu penjaga kamar Zea, masuk dan memeriksa keadaan, Zea.


"Dia, sedang tidur, Bos," ucap penjaga tersebut ke ponselnya.


"Baiklah, tinggalkan dia sendiri."


"Baik, Bos." Penjaga itu pun kembali keluar.


"Dasar manusia bodoh, pikiran kalian sungguh sangat enak untuk di tebak," gumam Zea, sembari menuju ke arah jendela.


Zea, hampir saja jatuh dari jendela. Karena, saat hendak melompat dia terkejut melihat Lino, masih berada di balkonnya, sembari meminum alkohol dan mengisap sebatang rokok.


"Sialan! Kalau begini, aku tidak akan bisa pergi," gumam kesal, Zea.


Saat Zea, hendak menutup jendela dia melihat beberapa mobil datang. Dia, menunggu siapa yang akan turun dari mobil itu.


"Apakah, dia memanggil wanita bayaran?" ucap Zea, tiba-tiba.


Dari wajah yang bertanya-tanya, wajah Zea, langsung berubah menjadi tersenyum. Zea, melihat beberapa orang turun dari dalam mobil tersebut dengan rantai di leher mereka.


"Wah... Ini baru menarik. Malam ini aku akan tinggal di sini."

__ADS_1


Zea, melihat Lino, kembali ke dalam kamar. Zea, pun segera keluar kamarnya.


"Nona, Anda, mau ke mana?" tanya penjaga di depan pintu.


"Aku hanya ingin bertemu dengan, Bosmu itu," sahut Zea.


"Tapi, Anda...."


"Stt... Diamlah, jika kalian masih ingin berkerja di sini. Jika, Bosmu tahu kau sudah melarangku seperti ini, habislah riwayat perkerjaan kalian." Zea, menakut-nakuti para penjaga tersebut. Karena tak ingin kehilangan perkerjaan tersebut, mereka membolehkan Zea, menemui, Lino.


"Kalian, tak perlu mengikutiku. Aku tahu di mana kamarnya," sambung Zea.


"Sangat bodoh, hanya menggertak seperri itu saja, mereka sudah ketakutan," gumam Zea, dalam hati.


Zea, melihat Lino, keluar dari kamarnya, kemudian dia mengikuti Lino, secara diam-diam sampai dia melihat sebuah ruangan kosong.


Ruangan tersebut hanya memiliki satu lemari, ternyata lemari itu adalah pintu ke sebuah ruangan. Zea, sedikit terkejut melihat ruangan tersebut penuh dengan benda tajam mau pun tumpul.


Zea, melihat orang-orang yang keluar dari mobil tadi, hal tersebut semakin membuat Zea, tertarik. Dari beberapa orang tersebut ada seorang gadis yang masih di bawah umur.


"Apa kalian tahu, perbuatan apa yang membuat kalian sampai seperti ini?" tanya Lino, sembari mengambil sebuah pisau bedah.


Zea, berdiri di sudut yang gelap sembari memperhatikan pergerakan Lino, maupun orang yang sedang disandera.


"Srrtt...." Pisau yang di pegang Lino, tersebut mendarat di leher salah satu sanderaan. Darahnya yang muncrat kemana-mana itu, membuat orang yang berada di sampingnya menjadi panas dingin.


"Kami, tidak tahu dia ada di mana. Tugas kami hanya menjaga dari jarak jauh, saat itu dia hilang dan bukan kami lagi yang bertanggung jawab," ucap gadis di bawah umur tersebut.


"LALU DI MANA, DIA!!" hardik Lino, mulai lepas kendali. Saat Lino, hendak membunuh gadis itu, Zea, dengan sergap menahan pisau itu dengan tangannya.


Semua orang yang ada di situ terkejut, terutama sanderaan itu. Mereka membeku dan seluruh badan mereka menggetar.


"Nona Lyra," ucap gadis itu.


"Aku bukan, Nonamu," ketus Zea.

__ADS_1


"Cepat ambilkan kotak P3K," suruh Lino.


Lino, merobek baju untuk membalut tangan, Zea, agar darahnya berhenti mengalir.


"Maafkan aku. A... Aku...." Lino tak bisa berkata-kata lagi.


"LINO!!" teriak Reizo, baru saja datang karena mendengar, Lino, ada di ruangan rahasia. Langkah Reizo, terhenti saat melihat Lino, berada dalam dekapan, Zea.


"Dia tiba-tiba pingsan," sahut dingin Zea. Reizo, mengeluarkan suntikan dan obat penenang.


"Apa yang kau lakukan? Dia, Bosmu!!" sambung Zea, sembari melindungi, Lino, tanpa sadar.


"Jika tidak di suntik obat penenang dia tidak akan tidur sampai pagi dan itu akan membahayakan tubuhnya," jawab Reizo, bersiap-siap menyuntik, Lino.


"Plakk!!" Zea, menepis tangan Reizo, hingga membuat suntikkan tersebut terlempar jauh.


"Bawa dia, aku akan menjaganya malam ini."


Sebelum Zea, meninggalkan ruangan tersebut, dia melepaskan rantai yang ada di leher gadis muda tadi. Tetapi, hanya gadis itu dan hanya rantai yang ada di lehernya saja.


Sesampainya di kamar Lino, Zea, merasa dirinya sangat mengantuk. Baru kali ini dia merasa hawa tidur dari dirinya. Selama ini Zea, tidur hanya paksaan dari dirinya sendiri bukan dari tindakkan tubuhnya.


"Kau, bisa meninggalkan kami," suruh Zea. Reizo, sama sekali tidak bergerak dari tempatnya.


"Aku bilang keluar!! Aku tidak akan membunuhnya. Aku mohon keluar!!" tegas Zea, sudah tak bisa lagi menahan kantuknya tersebut.


Setelah Reizo, merebahkan Lino, dia segera keluar dan menutup pintu dengan rapat. Zea, yang sudah tak tahan dengan kantuknya itu pun terbaring di kasur yang sama dengan, Lino.


"Apa-apaan ini, mengapa aku sangat mengantuk?" gumam Zea. Zea yang masih setengah sadar tersebut melihat di sampingnya ada Lino yang tak sadarkan diri.


Tiba-tiba saja, entah dari mana Zea, mencium harum feromon yang sangat kuat. Feromon yang dia cium ini, sangat berbeda dari semua feromon yang pernah dia temui. (Feromon merupakan senyawa kimia tubuh yang dapat memengaruhi respons sosial dan seksual. Biasanya, feromon beraroma bau badan yang menurut penciumnya menggoda, seksi, atau maskulin/feminim.)


"Mengapa-mengapa tiba-tiba aku mencium feromon seseorang dan feromon ini sangat menggodaku. Ughh...." Zea, mulai mengeluarkan keringat dingin.


"Ahh... Ahh... Aku tak tahan lagi. Ahh...."

__ADS_1


******* yang di lontarkan Zea, tersebut hampir terdengar oleh para penjaga. Karena, rasa kantuknya tersebut membuat Zea, langsung tertidur pulas, seperti Lino (sering mendapatkan obat tidur atau penenang).


Zea, pun tertidur satu kamar, satu kasur dan satu bantal dengan Lino tanpa ada yang tersadar.


__ADS_2