THE DEVIL PSYCHO

THE DEVIL PSYCHO
Rumah Zea 2


__ADS_3

Lino hendak menyusul Zea tapi di hentikan oleh Milan. Milan baru saja tiba dan mendengar perbicangan Lino dan Zea. Elena langsung berlari ke lantai atas mencari Nea.


"Tenangkan dirimu, Lino," ucap Milan. Lino pun duduk di sofa.


"Biarkan dia menenangkan dirinya. Hatinya sangat hancur saat ini, biarkanlah dia dahulu untuk beberapa saat," sambung milan berjalan menuju ke arah Tea.


"Apakah dia sudah mati?" tanya Lino.


"Tidak, hanya saja ini butuh waktu. Tetapi aku tidak bisa memastikannya dia akan hidup atau tetap seperti ini tanpa membusuk."


"Apa kau tidak bisa membuatnya hidup kembali?"


"Darahnya sudah beku."


Di sisi lain Elena memasuki kamar Nea yang di jaga oleh Hea. Elena langsung memeluk Nea dan menitikkan air matanya.


"Anakku yang malang. Mengapa ini terjadi kepadamu, Sayang?"


"Mommy, istirahatlah terlebih dahulu. Kesehatan mommy lebih penting saat ini."


"Apakah aku bisa istirahat dengan melihat keadaan anak-anakku sekarang?"


"Mommy, tenanglah. Tea akan bangun, dia tidak mungkin meninggalkan kita. Dia...." Elena langsung memeluk Hea dan membuat Hea berhenti berbicara.


Tubuhnya menggetar dan sangat dingin, pelukan Elena membuat air mata yang beberapa hari ini dia tahan akhirnya keluar.


"Semoga saja," ucap Elena dengan wajah datar.


"Di mana, Lea?" sambung Elena.


"Dia sedang istirahat di kamarnya dan...."


"Aku akan melihatnya sebentar," sosor Elena membuat Hea tidak bisa melanjutkan perkataannya. Elena pun bergegas ke kamar Lea.


"Apa kau baik-baik saja? Minumlah dahulu," ucap Reizo memberikan segelas air kepada Lea.

__ADS_1


"Terimakasih."


"Apa yang kau lakukan di sini? Kak Tea, aku harus menjaga Kak Tea." Lea menjadi agresif seperti kehilangan akal sehatnya.


"Tenanglah, LEA!! Haa... tubuhmu juga perlu istirahat. Istirahatlah terlebih dahulu."


"Tapi Kak Tea...."


"Lino yang menemaninya. Istirahatlah terlebih dahulu jika kau ingin segera menemani Tea."


Ucap Reizo yang langsung memotong ucapan Lea. Lea pun menjadi sedikit tenang, dia merebahkan dirinya dan Reizo memberikannya selimut. Elena pun masuk dengan hanya mengetuk pintu sekali saja, hal tersebut membuat Reizo terkejut.


"Ahh... Ny. Elena, saya kira siapa."


"Bisakah, kau keluar sebentar, aku ingin berdua saja dengan Lea." Elena tersenyum dengan lembut.


"Tentu saja. Saya akan membawakan Anda teh."


"Terima kasih."


Reizo pun keluar.


"Baru saja. Apakah kau baik-baik saja?" tanya Elena sambil mengelus rambut Lea.


"Iya, Lea baik-baik saja mommy."


"Apakah Lea tau? Zea sebelumnya tidak pernah seperti ini. Dia tidak pernah melihat kakak-kakaknya terluka saat berkerja, karena dia yakin dengan kekuatan kakaknya."


"Mommy...."


"Lea, kau harus beristirahat. Karena jika kau sakit sekarang itu akan menambah beban kakak-kakakmu, kan?" Elena memotong ucapan Lea dan terus mengelus rambut Lea dengan senyuman anggunnya.


Elena beranjak dari tempat duduknya dan ingin keluar, tapi dia berhenti saat beberapa langkah.


"Lea, jika kau tidak mampu diamlah dan jangan membuat beban untuk kakak-kakakmu, oke?"

__ADS_1


Sebelum pergi Elena memberikan senyuman yang sangat menakutkan membuat Lea sangat terkejut dan seluruh tubuhnya menggetar. Saat keluar Elena berpapasan dengan Lino yang menuju ke arah kamar Zea dengan tatapan yang sangat tajam.


"Lino, kau mau ke mana?" tanya Elena, membuat langkah kaki Lino terhenti.


"Mengambilkan Zea handuk," sahut dingin Lino.


"Kau bisa menyuruh Reizo atau pun Hea, bukan?" jawab Elena dengan senyuman.


"Bukankah kami sudah di jodohkan? Lambat laun kami pun akan menjadi suami istri. Lalu apa salahnya aku memasuki kamar calon istiriku?"


"Bukankah kurang sopan kau seperti ini di rumah Zea?" ucap Elena, membuat Lino menatap Elena dengan sangat tajam.


"Haha... aku hanya tak ingin merepotkanmu, Lino. Mengapa kau sangat serius dengan calon mertuamu?"


"Aku tidak suka dengan tak serius, hanya membuang waktuku saja." Lino langsung meninggalkan Elena.


Elena terkejut tetapi masih memasang wajahnya dengan senyuman anggunnya. Lalu dia tutun ke bawah menemui Milan. Saat samapi di bawah, ternyata Alvano baru saja tiba.


Mereka bertiga melihat seluruh tubuh Tea, hampir seluruh tumbuh Tea terdapat gigitan dari Zea.


"Tubuhnya seperti di bekukan. Apakah ini akan berhasil?" tanya Alvano.


"Sepertinya. Mungkin ini efek karena Zea bukan sepenuhnya drakula," sahut Milan.


"Di mana, Zea?" tanya Elena.


Milan menunjuk Zea, yang sedang menatap langit dengan hujan deras dan petir yang tiada hentinya. Elena hendak menuju ke Zea, tetapi dihentikan oleh Milan.


"Biarkan saja dia, Elena. Hanya dengan hujan air matanya tak terlihat oleh kita mau pun saudarinya."


"ARRGGHHHH!!! AKKHHHH!!!" teriak Zea membuat petir tambah menjadi-jadi.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


JANGAN LUPA, LIKE, KOMEN DAN VOTENYA, AKAK

__ADS_1


MAAF KALO ADA KATA TYPO ATAU KURANG DIMENGERTI


JANGAN LUPA KLIK ❀️ JUGA YA, KAKAK-KAKAK πŸ˜ŠπŸ™


__ADS_2