
"Saya bisa mengantarkan ke tempat tujuan, Nona," ucap Lino tiba-tiba membuat keempat saudari tersebut terdiam.
"Zea, cepat masuk dalam mobil," suruh Tea.
"Rasanya kau tak sedekat ini dengan kami, Tuan. Terima kasih atas tawarannya, tetapi kami tak membutuhkannya," ketus Tea lalu masuk ke dalam mobil dan bergegas pergi.
Saat di perjalan ponsel Zea berdering. Zea hanya menatapnya sebentar lalu memasukkan kembali ke kantongnya.
"Mengapa tak di angkat?" tanya Nea.
"Hanya satu telepon yang tak pernah dia angkat," sahut Tea.
"Daddy Angkat," lanjut Hea.
"Di mana mereka tinggal sekarang? Jangan bilang di tengah danau itu lagi," tanya Zea dengan wajah cemberut.
"Hmm... seperti itulah. Sekarang mereka menetap di sana, tak akan pindah-pindah lagi," jawab Hea.
Beberapa saat mereka telah sampai di tepi danau yang di jaga oleh beberapa penjaga drakula. Nea dan Tea baru saja bangun tidur saat turun dari mobil, mereka berdua sedang jongkok dan melamun karena masih setengah sadar.
"Nea, Tea, aku mendapatkan kekuatan baru. Maukah kalian ikut mencobanya?" tanya Zea dengan nada pelan.
Karena masih setengah sadar disertai lamunan Tea dan Nea hanya menganggukkan saja. Zea sangat senang saat menjahili si kembar yang masih setengah sadar.
"Hea, apa kau mau ikut?" tanya Zea sembari mengelus kepalanya di lengan Hea.
__ADS_1
"Tidak, aku naik kapal saja." Hea spontan menolak tawaran Zea.
"Baiklah, kalau begitu sampai jumpai di kastil tua itu. Bye bye."
Zea langsung mengangkat saudari kembarnya dan berlari santai di atas danau tanpa terjebur dalam air. Kekuatan barunya adalah bisa berpijak di tempat yang tak bisa diinjak.
"Walaupun dia sangat kuat, tapi untuk bahan percobaan lagi aku...." Hea tak bisa melanjutkan perkataannya karena trauma saat menjadi bahan percobaan Zea.
Ketiga saudarinya sudah beberapa kali hendak kehilangan nyawa karena jadi bahan percobaan Zea. Tidak ada yang bisa menghentikan apa yang ingin di lakukan Zea, terlebih lagi mencoba kekuatan barunya.
Hanya hitungan detik saja Zea dan kedua saudari kembarnya telah sampai di depan kastil tua tersebut. Sudah 10 tahun Zea tak bertemu dengan orang tuanya.
"Wahh... tempat ini sudah banyak berubah. Penjaga rumah ini setengahnya manusia. Si Tua, itu mendapatkan di mana orang-orang ini?" gumam Zea melihat-lihat sekelilingnya, sembari menunggu Hea.
Orang tua Zea selalu mengadopsi anak jalanan yang tak memiliki orang tua maupun tempat tinggal. Bisa di bilang pengawal, penjaga mau pun pelayan yang ada di kastil itu adalah saudara angkatnya.
"Ternyata ingat rumah juga anak itu," sahut Milan Baccara Ayah Zea.
"Mommy, Daddy Angkat. Putri Zea dan ketiga saudarinya telah tiba," ucap kepala pelayan.
"Bisakah, kalian menyiapkan makanan yang banyak?" tanya Elena.
"Tentu saja, Mommy Angkat."
"Terima kasih," jawab Elena dengan senyuman ramah.
__ADS_1
Beberapa detik saja Zea sudah berada di samping Elena.
"Apakah, aku memiliki adik baru?" tanya Zea.
"Anak nakal!! Di mana sopan santumu?" seru Milan.
"Yakk!! Jika kau ingin aku memiliki sopan santun harusnya saat membuatku, kau memiliki sopan santun," ketus Zea. Elena hanya tersenyum melihat tingkah anak dan suaminya.
"Kau...."
"Daddy Angkat, tenangkan dirimu," ucap Hea dari kejauhan.
Milan tak bisa lagi melanjutkan ucapannya, dia hanya bisa terdiam memegang kepalanya karena pusing melihat tingkah Zea yang tak pernah dewasa.
"Putri Zea, gadis yang Putri kirim ada di bawah ruang bawah tanah," ucap kepala penjaga bawah tanah.
Zea langsung memancarkan aura tubuhnya membuat manusia dan drakula pemula merasa kesakitan seperti tercekik dan di tusuk seribu jarum.
"SUDAH AKU PERINGATKAN JANGAN PANGGIL AKU PUTRI!!" bentak Zea membuat kastil tua itu bergetar.
"APA KAU MAU MEROBOHKAN BANGUNAN INI, BODOH!!" hardik Hea sembari memukul kepala Zea.
"Aww kepalaku. Akhh... aku lupa ingatan," jawab Zea berpura-pura pingsan agar tak di marahi Hea.
"Anak ini sungguh kurang ajar. Daddynya marah tak di dengarnya, anak itu membuat kepalaku sangat sakit," ucap Milan memegang kepalanya yang sakit. Elena dan saudari kembar Zea tertawa melihat tingkah mereka.
__ADS_1
TINGGALKAN JEJAKNYA HYUNG, BUNDA DAN ABANG!! ๐๐