THE DEVIL PSYCHO

THE DEVIL PSYCHO
Maaf 1


__ADS_3

Tiga hari kemudian, Tea mengajari beberapa gerakan untuk menahan serangan kepada Lea. Nea memantau dari kejauhan dan meneliti kelebihan apa yang di miliki Lea. Sedangkan Hea dan Zea memilih beberapa surat untuk perkerjaan mereka.


Mereka berkerja hanya mengetahui dari surat, detil tempat dan lainnya akan di cari oleh Hea. Mereka sengaja seperti itu untuk mengasah kemampuan masing-masing.


"Kenapa kau tidak memberitahukan yang sebenarnya?" tanya Hea dengan mata yang yak lepas dari surat lalu ke laptopnya.


"Tentang?" sahut Zea kebingungan.


"Perkerjaan kita. Kemarin aku mendengar perbincanganmu dengan dia, sebelum kita pulang...."


"Tidak perlu." Zea langsung memotong pembicaraan Hea dengan sangat dingin.


"Akhh... aku lelah. Aku tidak bisa menemukan kelebihan dalam dirinya!!" keluh Nea dari kejauhan menghampiri Hea dan Zea dengan lesu.


"Bukankah matamu saja yang berkerja? Lalu di mana letak lelahnya?" ketus Hea.


"Yaak!!"


"Apa, hah!!"


Hea dan Nea bertengkar seperti biasanya karena hal sepele.


"Ini perkerjaan yang kita lakukan."


Zea melemparkan surat ke depan laptop Hea, lalu pergi meninggalkan kedua saudarinya yang sedang berjambak-jambakan.


Zea menuju ke arah tempat latihan Lea. Dia menghampiri Lea, membuat Lea dan Tea terdiam menatap Zea. Mereka menunggu Zea mengatakan sesuatu, tetapi tiba-tiba saja Zea menampar Lea.


Hal tersebut membuat Tea sangat terkejut. Wajah Lea langsung memar dan mengeluarkan sedikit darah segar dari mulut dan hidungnya.


"Zea!! Apa yang telah kau lakukan?" tanya Tea sembari menjauhkan Zea.


"Wah... apakah ini kekuatan, Kak Zea?" tanya Lea dengan wajah sangat gembira.

__ADS_1


"Heh?" Tea kaget melihat ekspresi tersebut.


"Serang aku," suruh Zea sembari melemparkan pisau Lea.


"Heh? Apa-apaan kalian ini?" Tea masih kebingungan dengan situasi yang ada di depannya tersebut.


"Sejak awal dia sudah memiliki kelebihan. Anak kecil ini pintar dalam menggunakan pisau. Dia sudah tahu cara pertahanan. Dia hanya perlu kita ajarkan kekebalan dan kecepatan."


Jelas Zea sembari menghindar serangan Lea dengan santai dan menampar atau memukul Lea jika sekali serangannya tidak mengenai dirinya.


"Lalu mengapa dia tidak memberitahukanku?"


"Maaf... uhukk... haa...."


Lea terduduk dan tidak bisa bangkit lagi. Tubuhnya penuh memar yang disertai darah. Napasnya tersengal-sengal hingga dirinya muntah darah, akibat serangan Zea.


"Zea!! Apa ini tidak berlebihan?" Tea mengambil handuk dan mengelap beberapa memar Lea yang berdarah.


"Apakah itu betul? Akhh...," tanya Lea.


"Maaf... hmm... bisa dikatakan iya. Aku mengalami patah rusuk dan kaki, lalu di operasi dan di sembuhkan oleh mommy." Tea tak sengaja menekan memar Lea.


"Apa!! Patah tulang? Lalu kakak yang lainnya?" Lea sangat terkejut mendengar hal tersebut, hingga dirinya spontan berdiri tanpa merasa sakit lagi.


"Sama saja. Nea pernah patah tangan dan matanya hampir buta. Sedangkan Hea, karena dari kecil dia sudah terlatih dalam bidang hacker, dia hanya mempelajari kecepatan dan kakinya hanya keseleo saja," jelas Tea sembari membawa Lea masuk dan mengobatinya.


"Kalian masih hidup dan bisa bergerak leluasa seperti ini. Kalian seperti tak pernah mengalami hal tersebut."


"Kau akan mengerti apa yang kami rasakan."


"Maksudnya?"


"Tunggu saja nanti malam," sahut Tea dengan senyuman ramah.

__ADS_1


Malam pun tiba. Meja makan sudah terisi penuh dengan makanan yang telah dipesan oleh Hea dan Nea. Mereka tidak pernah memasak, bahkan kompor saja tidak ada di dalam rumah tersebut.


"Di mana Lea?" tanya Zea belum melihat Lea di meja makan.


"Aku datang," sahut Lea dari kejauhan dengan seluruh perban di tubuhnya.


"Pfftt... hahah... siapa yang melakukan itu padamu?" tanya Nea tidak bisa menahan tertawanya.


"Kau seperti mumi," sahut Hea masih bisa menahan tawanya.


Zea menatap Nea, Nea menundukkan kepalanya. Lea terbungkus dengan perban, membuat dirinya tidak bisa bergerak dengan leluasa. Zea mengambil pisau dan membuka perban tersebut.


"Tapi ini...."


"Diamlah... kau sangat bodoh!!" tangkas Zea, lalu membawa Lea ke meja makan.


"Makanlah dan segera beristirahat. Sebelum tidur minumlah pil ini." Zea memberikan sebuah pil berwarna ungu.


"Baiklah."


Lea terkejut melihat makanan yang ada di hadapannya, semua makanan yang tidak sehat. Bahkan minuman saja mereka beli di luar. Lea melihat sekeliling dapur hanya ada piring dan sendok.


"Dapurnya benar-benar kosong. Terus apa yang ada di rumah ini?" gumam Lea pasrah sembari menyuap makanan.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTENYA YAA😊


MAAF KALO ADA KATA TYPO ATAU KURANG DIMENGERTIπŸ‘Œ


JANGAN LUPA KLIK ❀️ NYA JUGA πŸ˜ŠπŸ‘Œ


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚

__ADS_1


__ADS_2