
"Jangan pernah berdiri, sebelum aku suruh!!" ucap Zea kesal. Zea menghukum Lino dengan bersujud menghadap tembok, serta kedua tangannya di angkat ke atas.
"Bukankah, itu hal biasa. Aku ini akan menjadi suamimu nantinya, lalu apa salahnya...."
"Sudah salah masih ingin membela diri. Itu nanti bukan sekarang, atas ijin siapa kau melihat dalamanku?" seru Zea.
"Aku merasa aneh di dalam tubuhku...."
GEDUBRAKK... Zea terjatuh ke lantai, Lino sangat terkejut dan langsung mengangkat Zea ke kasur.
"Tubuhnya sangat panas, apakah dia demam? Apa yang harus aku lakukan?" Lino bingung karena panik.
Tok... tok... tok.... Seseorang mengetuk pintu kamar Zea, dengan sangat sigap Lino langsung membukakan pintu dan menarik orang itu tanpa dia tahu siapa itu.
"Lino apa kau baik-baik saja, Nak?" tanya Elena.
"NY. ELENA... MAAFKAN AKU," hardik Lino yang terkejut melihat Elena ada di belakangnya.
"Tidak apa-apa, ada apa, Nak? Kau terlihat sangat panik," ucap Elena membuat Lino menjadi sedikit tenang.
"Zea, badannya sangat panas. Apakah dia baik-baik saja?"
"Hehee... kau membuatku sangat takut, Lino. Aku kira kau panik karena apa. Itu tandanya dia demam, kau bisa mengompresnya dengan handuk dan air hangat suam-suam kuku," ucap Elena sembari mempraktikkan hal yang di beritahukan kepada Lino.
"Kau bisa melanjutkannya, Nak. Aku hanya khawatir dengan kalian tadi, jadi istirahatlah lebih awal, biarkan kami yang menjaga Tea," sambung Elena sembari berjalan keluar kamar.
"Terima kasih, Ny. Elena." Lino mempraktekkan hal yang di di beritahukan Elena dengan sangat teliti.
"Lino, bukankah kau memanggilku secara formal lagi," tegur Elena stop di depan pintu.
"Apakah ini berkerja?" gumam Lino, tidak mendengar ucapan Elena. Elena tertawa pelan lalu pergi keluar.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Zea pun bangun dengan pengelihatan yang masih samar-samar. Dia memegang kepalanya yang masih merasa pusing.
"Kau sudah bangun? Apa masih merasa pusing?" tanya Lino baru keluar dari kamar mandi.
"Sepertinya. Apakah ini yang di rasakan orang-orang yang sedang sakit?"
"Kau belum pernah sakit sebelumnya?"
"Hmm...."
"Omong-omong, kau akan tidur di kamarku malam ini?" tanya Zea dengan suara pelan.
"Tentu saja. Semua kamar telah di pakai, kau bisa tidur di kasur aku akan tidur di sofa."
"Kau bisa tidur denganku kasur ini sangat luas."
"Apakah tidak masalah?" Lino melepaskan handuknya membuat Zea terkejut dan wajahnya memerah.
"Sudahku kenakan."
"Kau sungguh...."
"Akhh... ini sangat nyaman." Lino merebahkan dirinya di samping Zea dengan sebelah tangannya di perut Zea.
"Apa yang kau lakukan? Menjauhlah!!" Zea tak memiliki tenaga untuk menggerakkan tubuhnya lagi.
"Diamlah dan tidur. Kau sangat harum, bau tubuhmu membuatku nyaman. Aku tidak pernah bertemu wanita seperti dirimu, ahh... aku sangat beruntung."
"Lino, apa kau sudah pernah melakukan itu?" Zea tiba-tiba bertanya acak.
"Itu? Itu apa?" Lino kebingungan lalu menatap Zea dengan wajah polosnya.
__ADS_1
"Itu... kau tahu maksudku. Seorang wanita dan wanita sekamar lalu melakukan itu." Wajah Zea menjadi sangat merah.
"Mengapa wajahmu sangat merah? Apakah demammu tinggi lagi?" Lino memegang wajah Zea untuk memeriksa.
"Lino!!"
"Ahh... iya-iya. Aku sudah pernah melakukannya, lalu mengapa? Kau sedang sakit jangan memikirkan sesuatu yang tidak-tidak, tidurlah!!" seru Lino langsung memalingkan wajahnya.
"Linoo!! Aku baik-baik saja, oke."
"Tidak."
"Lino...."
Zea mengelus rambut dan tubuh Lino yang tak mengenakan baju, lalu memainkan telinga Lino. Tetapi Lino sama sekali tidak merespon.
"Ahh... tidurlah di sofa dan jangan pernah memasuki kamarku lagi!!" ketus Zea lalu menutup matanya dan memindahkan tangan Lino yang ada di perutnya.
"Akh... Zea kau membuat kesabaranku habis. Apa kau tahu seberapa besarnya diriku menahan ini semua!!"
Ucap Lino membalikkan badannya, ke atas tubuh Zea. Zea membuka matanya dan terkejut, Lino tidak bisa lagi menahan hasratnya, tanpa ragu dia langsung menjelajahi leher hingga ke bibir Zea dengan bibirnya yang lembut tersebut.
"Ahh...." Suara tersebut tekeluar tiba-tiba dari mulut Zea.
"Rasanya sangat aneh, tapi tubuh ini bergerak dengan sendirinya" gumam Zea dalam hati.
Dengan perlahan Lino membuka baju Zea berserta branya dengan tak henti menjelajahi tubuh Zea dengan bibirnya tersebut. Lino banyak memberikan tanda kepemilikan kepada tuh Zea. Suara lirihan Zea membuat Lino tambah menjadi, hingga seluruh tubuh Zea tidak mengenakan sehelai benang.
"Aku akan memasukkannya secara perlahan," bisik Lino di telinga Zea.
๐๐๐๐๐
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTENYA๐