
Mereka bergegas kembali ke ruangan gadis itu. Nea membuat teh untuk mereka berempat sembari membahas sebuah kontrak.
"Aku tidak akan memaksamu untuk kontrak tersebut. Jika kau tak menginginkannya, aku akan mengirimmu kembali," ucap Zea dengan meminum teh yang baru saja tiba.
"Kau akan mengirimku kembali ke pria gila itu? Lebih baik kau bunuh saja aku," jawab gadis tersebut memberontak.
"Mengapa kau tidak memilih kontrak ini saja. Kau tidak akan menyesal, hanya orang-orang bodoh saja yang mengkhianati kami," sahut Tea.
"Bagaimana aku bisa menerima kontrak tersebut, kalian saja tidak menjelaskan dengan benar," lanjut gadis tersebut.
"Sepertinya sopan santun anak ini juga kurang setengah sendok," sahut Nea sembari menuangkan gula di dalam tehnya.
"Siapa namamu? Apakah aku harus memanggilmu bodoh?" tanya Zea mulai kehilangan sopan santunnya juga.
"Yaakk!! Aku tidak bodoh!!" emosi gadis itu.
"Jika kau tidak bodoh, maka kau tidak akan tertangkap!!" ketus Zea.
"Kau yang bodoh. Dasar tua!!"
"Kau yang bodoh!! Bocil!!"
"Lebih baik bocil daripada tua!!"
"Haha... bocil!! bocil!! Haha...."
__ADS_1
Zea dan gadis tersebut bertengkar tidak ada habis-habisnya. Kesabaran Nea sudah habis mendengar ocehan mereka yang sangat berisik.
"Ups... maaf," ucap Nea sengaja menyiram Zea dan gadis tersebut dengan tehnya. Zea dan gadis tersebut langsung terdiam.
"NEAA!!" hardik Zea sembari membuka topengnya.
"Kβkβkau, kau gadis yang menyelamatkanku oleh pria gila itu," ucap gadis tersebut terbata karena terkejut.
"Ahh... kau membuatku basah, Nea. Apakah tau aku baru saja keramas dan kau membuat rambutku kotor lagi. Nea... aku membencimu!!" omelan Zea dengan drama terlalu di hayatinya.
"Dia sudah gila," sahut Nea dengan wajah datar.
"Bukannya dia keramas tiga hari yang lalu," sahut Tea menjauh dari Zea.
"Yakk!! Zea, kau belum memberitahukan ini kepada kami!!" seru Tea.
"Ahh... sepertinya aku amnesia lagi," sahut Zea mengalihkan pembicaraan sembari mengelilingi ruangan tersebut dengan bersiul.
"Siapa namamu?" tanya lembut Nea.
"Namaku Taleatha Yakuza," jawab gadis itu dengan nada rendah sembari menundukkan kepalanya.
"Wah dia anak mafia. Mengapa tidak ada melindungimu? Bukannya klan Yakuza sangat agresif saat di sentuh keluarganya sedikit saja?" ocehan Zea membuat Taleatha menjadi murung.
"Zea hentikan omong kosongmu itu!!" tegur Tea.
__ADS_1
"Aβaku... Aku tak di inginkan di keluarga itu. Aku terlahir dari wanita *******. Aku tidak pernah di anggap oleh soudara-saudariku. Hiks... aku tidak punya tempat tujuan lagi. Aku akan terima kontrak ini hikss... tetapi tolong jangan kembalikan aku ke sana hikss... aku mohon," jelas Taleathe sembari memohon dengan bersujud di bawah kaki Tea.
"Hikk... ngaahhh...." Zea malah ikut menangis mendengar penjelasan Taleatha.
"Kami tidak bisa menerimamu begitu saja. Sebelum kau masuk ke keluarga ini kau harus di periksa terlebih dahulu," sahut Nea menahan air matanya agar tetap tegar.
"Aku akan menerima semua pemeriksaan, walaupun kalian membelah tubuhku." Taleatha berdiri dan bersikap tegas.
"Tapi kami tidak sekejam itu sampai ingin membelah tubuhmu," sahut Zea dengan wajah datar namun imut.
"Itu hanya umpama, bodoh!!" ucap si kembar dan Taleatha bersamaan.
"Yak!! Telingaku sakit mendengar suara kalian!! Kalian bisa tekanan tinggi jika marah-marah terus tau. Apa kalian ingin mati muda, hah?" ketus Zea dengan wajah mengejek.
"Sabar... untung saja dia bukan manusia," ucap Tea. Nea mengelus pundak Tea agar tenang.
"Apa dia bukan manusia?" tanya Taleatha dengan wajah polos.
ππππ
**JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAKNYA HYUNGπ
MAAF KALO ADA TYPONYA YAA...π
ππππ**
__ADS_1