
"Haha... bagaimana jika memperkenalkan anak-anak kami," ucap Elena agar suasana tidak menambah menegangkan.
"Haha... iya, kami sampai melupakan hal tersebut," sambung Milan.
"Aku sudah menunggu hal ini sedari tadi, haha...." Alvano juga langsung menyahut perkataan Milan.
"Baiklah. Kami memiliki lima anak perempuan. Anak pertama, Anuhea Sheetel," jelas Elena.
"Panggil saja, Hea," sahut dingin Hea.
"Lalu anak kedua dan ketiga, mereka kembar beda 15 menit," Lanjut Elena.
"Aku adalah kakaknya Protea Niera, panggil saja Tea, hehe...."
"Hanya beda 15 menit saja, hmmpp... lalu aku Niera Nalnea, panggil saja Nea. Hmmpp...," ketus Nea.
"Hehe... lalu dia anak kelima kami, namanya Taleatha Zea, kami baru mengadopsinya beberapa hari yang lalu," lanjut Elena sembari merangkul Lea.
"Hallo... panggil saja aku Lea." Lea menggetar saat melihat Lino yang berada di hadapannya. Dia sangat takut dan tidak bisa mengatakan sesuatu karena terlalu banyak orang.
"Lea kau tidak apa-apa, Nak? Kamu berkeringat, apa kau sakit?" bisik Elena.
"Tidak apa-apa, Mom. Aku hanya sedikit lelah saja," jawab Lea tidak berani mengangkat kepalanya.
"Lalu di mana anak keempat kalian? Dan anak terakhirmu itu, aku mengenalinya," ketus Lino, membuat Lea tambah panik dan semakin menggetar.
"Ahahah... dia sedikit tidak enak badan, mungkin...."
"Zea Baccara!! Itu nama adik kami. Kau ada urusan dengannya?" ketus Hea, membuat ucapan Elena terhenti.
"Zea? Mengapa kalian semua, seperti orang yang kukenali?" sahut Lino. Reizo terbangun dari pingsannya, lalu melihat ponselnya karena ada yang mengirim pesan.
Ternyata pesan tersebut dari Bella. Bella mengirimkan foto berserta informasi tentang hacker yang mereka cari.
__ADS_1
"Liโlino. Diโdia... dia hacker itu," ucap Reizo terbata-bata sembari menunjuk Hea.
"Ahh... aku benci dengan semua ini!!" sahut Hea sembari melepaskan gaunnya dan menghapus riasannya.
"Yakk!! Aku sudah tau kalau kalian datang ke sini bukannya kunjungan saja. Kalian mencariku, lalu apa, hah!! Jika kalian menemui dan mendapatkanku, belum tentu aku ingin berkerja dengan kalian!!" Hea mulai emosi.
Hea sudah curiga dengan kedatangan keluarga Alvano yang begitu tiba-tiba. Karena merasa ada keganjalan tersebut, Hea tidak berniat menemui keluarga Alvano.
"Hei... hei.. heeii.... Apa yang kalian ributkan, hehe...," ucap Zea dari lantai dua, lalu turun dengan berseluncur di railing tangga.
"ZEA!!" hardik Tea, Nea, Hea dan Lea bersamaan.
"Apa aku ketinggalan berita lagi? Ohh... siapa pria buruk rupa ini?" Zea mendekati Lino dan menatapnya dengan tajam.
"Zea, mengapa kau menggunakan topengmu?" tanya Milan.
"Milan!!" tegur Elena. Milan langsung menundukkan kepalanya.
"Lalu kau." Menunjuk Alvano. "Untuk apa kau datang kemari? Bukankah semua yang kau inginkan sudah kau dapatkan?" sambung Zea.
"Kau!! Hmm... kau...." Tiba-tiba kepala Zea terasa sakit setelah bertatapan dengan Elena.
"Haha... tentu saja aku mengingatmu, Mommy," lanjut Zea melanjutkan berkeliling.
"hmmpp... kukira lupa ingatannya kambuh lagi," gumam Hea dalam hati sembari menghela napasnya.
Zea memiliki lupa ingatan ringan, saat pingsan terlalu lama lalu sadarkan diri dia langsung memakai topengnya dan bertingkah bukan seperti dirinya.
"Zea, lepaskan topengmu, kumohon," pinta Hea.
"Oh... tentu, jika kau yang meminta."
Perlahan Zea melepaskan topengnya, Lino memperhatikan Zea karena penasaran siapa yang berada di balik topeng tersebut.
__ADS_1
"Tapi bohong, haha...." Topengnya hanya terbuka hingga bibirnya saja, lalu dia kembali menutup wajahnya lagi.
"Bukankah, sebelum ke sini kalian sudah mencari informasi tentang kami?" tanya Zea mendekati Reizo.
Reizo terkaget dan menggetar, Lalu berkata, "Iโiโiya." Reizo terbata-bata lalu menatap Alvano. Alvano hanya bisa menghela napasnya dan menundukkan kepalanya karena malu.
"Angkat kepalamu kakek tua, itu bukan kesalahanmu. Aku tahu walaupun kau melarang mereka, mereka tetap akan mencari tahu, bukan!!"
"Lalu kau pria buruk rupa." Zea menghampiri Lino.
"Mengapa kau ingin sekali melihat wajahku? Dan mengapa kau menginginkan kakakku? Lalu mengapa kau selalu saja...."
Zea langsung berhenti berbicara karena menyadari hampir saja dia mengatakan hal yang tidak boleh membuat dirinya terbongkar.
"Selalu saja? Mengapa tidak kau lanjutkan, Nona Zea. Siapa yang tidak inging melihat wajah seorang yang sangat profesional dalam hal mencuri atau membunuh. Lalu kau bertanya mengapa aku menginginkan dia (Hea), bukankah sudah jelas. Bahkan seluruh negara di dunia ini menginginkan dia," jelas Lino sangat dingin sembari meminum teh.
"Ouh... ternyata kita sangat terkenal," sahut Zea menghampiri Hea.
"Kami juga ingin terkenal, huaa!!" ucap Tea dan Nea bersamaan.
"Kalian sangat menyedihkan, huuaa...." Zea memeluk saudari kembarnya dan ikut dalam drama tangisan.
"Dengan sikap kalian ini, sudah kupastikan. Kau pencuri kecil dataku bukan, Zea!!" ucap Lino tiba-tiba dengan senyuman tipis. Membuat Zea dan saudarinya diam terbeku.
"Bukan hanya dataku saja kau juga mencuri tahananku!!" sambung dingin Lino menatap tajam Lea.
Lea langsung bersembunyi di belakang Zea dengan tubuh yang tidak berhenti menggetar.
๐๐๐๐
JANGAN LUPA LIKENYA, HYUNG๐
MAAF KALAU ADA TYPO DAN PERKATAAN YANG KURANG DI MENGERTI๐
__ADS_1
JANGAN LUPA JUGA KLIK โค๏ธ, ๐๐
๐๐๐๐