THE DEVIL PSYCHO

THE DEVIL PSYCHO
Pertemuan yang tak terduga


__ADS_3

Setalah pulang kerja, Lino bergegas mengenakan baju dinas mafianya yaitu, setelan dari ujung kepala hingga kaki berwarna hitam pekat.


Mereka, segera menuju tempat yang akan mereka jajah malam ini yaitu, rumah Menteri Keamanan. Hari ini dia akan keluar rumah untuk mengantarkan sebuah data tentang keamanan dan kemiliteran di negara K.


Karena, data tersebut sangatlah penting. jadi, beberapa mafia dan kemiliteran menjaga keamanan Menteri, tersebut.


Karena, kekuasaan dan juga keahlian Lino, menerobos dan mengambil data tersebut hanya semudah dia melangkahkan kakinya.


Setelah berhasil mengambil data tersebut, Lino, segera pergi sebelum pihak CIA mulai berdatangan. Tetapi, saat di gerbang Lino, melihat seseorang yang mencurigakan.


"Stop!! Kau siapa?" tanya Lino dan Bodyguardnya sudah menodongkan pistol kearah orang tersebut.


Ternyata orang itu adalah Zea, Zea menurunkan tudung hoodienya dengan perlahan, sembari menguyah permen karet.


"Apakah, dia nenek-nenek? Seluruh rambutnya sudah berwarna putih," tanya Reizo.


"Pfftt...." Hea, Nea dan Tea, tak kuasa mendengar pertanyaan tersebut, yang mereka dengar dari alat komunikasi yang di buat oleh, Hea.


Zea, cukup kesal mendengarkan hal tersebut. Lalu, Zea, membalikkan badannya dan mengeluarkan jurus andalannya yang membuat ketiga saudarinya merasa jengkel.


"Aku masih muda," sahut Zea, dengan suara yang diimut-imutin dan tingkah seperti anak kecil.


Seluruh Bodyguard Lino terkejut ternyata hanya seorang gadis kecil. Tetapi, berbeda dengan Lino dan Reizo, mereka sangat terkejut hingga membeku dan tidak bisa berkata-kata.


"Ada apa dengan kedua pria tersebut, apakah jurusku ini tidak mempan, kepada mereka berdua?" gumam Zea.


Lino, langsung berlari dan memeluk Zea. Zea, hanya bisa terdiam terpaku karena sangat terkejut.


"Yakk!! Apa, kau sudah gila, bodoh," ketus Zea, sembari mendorong, Lino.


"Nona Lyra, apakah itu, Anda?" tanya Reizo, sembari menghampiri, Zea.


Zea melihat sekeliling, tetapi tidak ada orang selain dirinya. Berarti orang itu memanggil Zea, dengan dengan sebutan, Lyra.


"Lyra? Siapa Lyra?" Zea, kebingungan.


"Hah!! Lyra? Siapa itu?" tanya Hea.


"Aku sudah sampai di tempat, Zea. Wah, orang itu membawa lebih dari 200 orang pengawal," sahut Tea, yang baru saja melihat keadaan di sekitar, Zea.


"Tidak hanya itu, mereka juga membawa sniper sekitar 10 orang. Hati-hati, Tea," peringatan dari Nea, mengintai dari atas gedung.


Zea, mendengar perkataan saudarinya tersebut. Dia pikir, ini bukan saatnya untuk melawan. Zea, berpikir harus segera pergi dari tempat itu, sebelum hal yang tak diinginkan terjadi.

__ADS_1


"Haha... Aku, tidak mengerti kalian mengatakan apa. Kalau begitu, aku pergi dulu." Zea, bergegas melangkahkan kakinya.


Tetapi, Lino, menahannya dan menyeretnya ke dalam mobilnya.


"Akh!! Lepaskan aku. Mau kalian bawa kemana aku? Tolong!! Aku di culik om-om," teriak Zea.


Lino, langsung melepaskan genggamannya. "Apa aku terlihat seperti om-om, bagimu?" tanya Lino, kesal.


"Kau, lebih tua dariku. Tentu saja kau om-om bagiku," jawab Zea.


"Pfftt... Haha...." Reizo, tak tahan mendengar perkataan yang menggelikan tersebut.


"Zea, apakah kita harus membunuh mereka semua?" tanya Nea.


"Tidak perlu, aku akan ikut dengannya dan mengambil data tersebut saat dia lengah," bisik Zea.


"Bicara dengan siapa, kau?" tanya Lino.


"Om, kau sudah berumur, jadi imajinasimu dan pendengaranmu sudah memburuk," jawab Zea dengan santai.


Perkataan Zea, menambah Reizo, tertawa terbahak-bahak. Lalu, terlihat jelas wajah para Bodyguardnya tersebut menahan tawa mereka.


"Apakah dia, Bos, kalian?" tanya Zea, menunjuk, Lino. Para pengawalnya tersebut hanya terdiam tunduk.


"Haha... Dia memang tak pernah makan. Haha... Bagaimana kau mengetahuinya? Haha... Aku sampai mengeluarkan air mata karena tertawa," jawab Reizo.


"Kau pasti, orang terpercayanya. Makanya kau berani mengejeknya, haha...." Zea, ikut tertawa dalam candaan, Reizo.


"Sepertinya kita tak perlu mengkhawatirkannya. Ayo, kita pulang," ucap Hea, yang mendengar Zea, sudah becanda dengan musuhnya.


"Baiklah," sahut Tea dan Nea, bersamaan. Lalu, segera meninggalkan lokasi mereka.


"Cukup omong kosong kalian, segera tinggalkan tempat ini," ucap Lino, sembari menarik dan mendorong Zea, dengan kasar saat memasuki mobil.


"Akh!! Bisakah, kau pelan sedikit kepada seorang gadis imut sepertiku?" ucap Zea dengan wajah kesal.


"Walaupun sebenarnya tak menyakitkan sama sekali," gumam Zea, dalam hati dengan senyuman tipis.


Lino, hanya diam dan memperhatikan kalung yang di kenakan, Zea.


"Ahh... Ini pemberian ibuku, bagus bukan," ucap Zea, yang sadar atas mata Lino, yang sedari tadi melirik kalung tersebut. Padahal, kalung tersebut adalah alat komunikasi yang di buat khusus oleh Hea.


Beberapa saat kemudian, setelah perjalanan panjang melewati hutan dan jalanan yang sepi, tibalah di rumah utama, Lino. Rumahnya sangatlah besar bak istana raja, bahkan gedung Presiden pun kalah besarnya.

__ADS_1


"Ahh... ternyata kau berdarah biru (kaya raya)," ucap Zea, melihat sekeliling dari jendela mobil.


"Bawa dia ke kamarnya," perintah dingin, Lino.


"Bos, apakah, dia tidak kita selidiki dahulu?" tanya kepala pengawal. Hanya dengan tatapan tajam, dia langsung mengerti.


"Hei... Hei... tunggu dulu. Kau bilang kamarku! Ini baru pertama kalinya aku ke sini. Bagaimana, aku bisa memiliki kamar di sini?" tanya Zea.


"Diamlah dan cepatlah jalan!!" gertak pengawal yang membawa, Zea.


"Ahh... Kau berani menggertakku!!" gumam Zea, dalam hati.


"Ahkk!! Kau menyakitiku!!" ucap Zea, dengan nada lumayan keras.


Lino, langsung meninju bawahannya tersebut hingga terduduk. Zea, hanya tersenyum tipis, dia sudah tahu bahwa dirinya sangat berharga.


Zea, menggenggam erat tangannya sendiri agar terlihat merah.


"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Lino.


"Lino!!" panggi Reizo dengan tepukkan di pundak, Lino.


Lino, langsung menjauh dari Zea, lalu berkata, "Bawa dia segera ke kamarnya, tanpa menyakitinya!" perintah dingin, Lino.


"Ada apa dengan pria ini? Apa dia memiliki dua kepribadian?" gumam Zea,dalam hati yang tak ada habis-habisnya.


Reizo, segera membawa Lino, ke kamarnya. Tubuh Lino, mulai menggetar. Tak di sangka selama 10 tahun dia mencari kekasihnya dan malam ini tiba-tiba muncul di hadapannya. Hal yang tak terduga gadis yang dianggapnya kekasihnya itu, tidak mengenalnya lagi, bahkan sikapnya sangat berbeda.


"Reizo, apakah dia, Lyra? Mengapa, dia tak mengenaliku? Apakah, dia sudah melupakanku?" tanya Lino, bertubi-tubi.


"Aku, akan segera mencari tahu. Kau, istirahatlah dulu dan tenang saja serahkan semuanya padaku," jawab Reizo, menahan air matanya. Sudah lama dia tak melihat titik terlemah, Lino.


Reizo, segera pun bergegas menemui, Zea. Lalu, mengantarkan, Zea, ke kamarnya. Saat masuk, Zea, sangat terkejut melihat sekeliling kamar itu dipenuhi fotonya dengan, Lino.


"Apakah, namamu, Lyra Aneira?" tanya Reizo.


"Haa... Aku tidak mengenal nama tersebut. Apa maksud dari semua foto ini? Ini adalah wajahku tetapi, bukanlah diriku," jelas Zea, sembari melihat dan menyentuh foto-foto tersebut.


"Jika, itu bukan, Nona, lalu siapa itu?"


"Apa kau, bodoh. Aku, bilang itu bukan diriku," ketus Zea.


"Umurku, masih 20 tahun, jika kau tidak percaya kau bisa mengeceknya." Zea, melemparkan kartu tanda pengenalnya tanpa melepaskan tatapannya dari foto-foto tersebut.

__ADS_1


"Siapa wanita ini? Mengapa wajahnya sangat mirip dengan diriku?" gumam Zea, dalam hati sembari menatap dan menyentuh foto-foto tersebut.


__ADS_2