THE DEVIL PSYCHO

THE DEVIL PSYCHO
Rumah Zea 1


__ADS_3

Dua hari telah berlalu, dari hari itu hujan petir tidak kunjung berhenti. Semua orang di negara K, menjadi gelisah karena fenomena tersebut. Lalu di rumah Zea menjadi rumah yang sangat menakutkan, Nea dan Lea selalu berada di sisi Tea.


Zea mengurung dirinya di kamar, rambut dan matanya tak pernah berubah sejak hari itu. Emosi, kemarahan, sedih dan kebingungan, menyelimuti seluruh tubuhnya.


Sedangkan Hea hampir putus asa karena menahan semua kesedihannya seorang diri. Dia selalu memancarkan senyumannya untuk adik-adiknya untuk menghibur, tetapi semuanya sia-sia. Akhirnya dia menelepon Milan dan mengeluarkan semua yang ada di pikirannya.


Milan pun akhirnya mengerti dengan berita yang menggemparkan di seluruh negeri. Akhirnya dia dan Elena segera ke negara K.


Disisi lain, Lino dan Reizo selalu ada di perusahaan, karena cuaca tersebut jalur ke rumahnya pun di tutup. Terlebih lagi tiba-tiba saja perkerjaannya terus berdatangan.


Telepon Reizo terus berdering saat mereka sedang rapat, Reizo pun segera keluar dan mengangkat telepon tersebut. Ternyata yang menghubunginya adalah Alvano, dia menanyakan kabar mereka saat ini, lalu dia memberitahukan hal yang terjadi kepada Zea.


Reizo langsung memberitahukan hal tersebut setelah Alvano menutup telepon tersebut. Reizo membisikan hal tersebut dan membuat semua orang yang berada di ruangan menjadi terdiam.


"Baiklah, kita akan ke sana, setelah rapat ini," ucap dingin Lino.


"Lanjutkan," sambung Lino menyuruh melanjutkan rapat tersebut.


Tetapi setelah Reizo memberitahukan tentang Zea tersebut, Lino menjadi benyak melamun hingga rapat selesai. Beberapa saat kemudian rapat pun selesai, Lino langsung ke ruangannya dan memilih baju ganti.


"Apa yang harus aku kenakan?" gumam Lino sembari memilih baju.


"Apa kau ke rumahnya menggunakan pakaian formal seperti itu?" tanya Reizo.


"Lalu aku harus mengenakan apa? Di kantor hanya ada pakaian ini saja."


"Kau mandi saja terlebih dahulu, nanti saat di jalan kita akan membeli beberapa baju."


"Beberapa baju? Bukankah satu baju saja cukup?"

__ADS_1


"Kita tak tahu hal apa yang akan terjadi nantinya."


"Apa lagi yang kau rencanakan?" gumam Lino, lalu segera masuk ke kamar mandi.


Beberapa saat kemudian Lino dan Reizo telah sampai di depan Zea. Saat itu kedua orang tua Zea belum sampai , rumahnya begitu sunyi dan menyeramkan.


Tangisan Nea terdengar hingga keluar terpadu dengan petir yang menyambar dan angin begitu kencang. Mereka berdua langsung saja masuk karena pagar rumah Zea tak di kunci.


Suara bel berbunyi membuat Hea bergegas membukakan pintu. Wajahnya yang begitu semangat berubah menjadi dingin, karena orang yang di balik pintu tersebut bukanlah orang yang dia tunggu.


"Ahh wajahnya...."


"Silahkan masuk. Duduklah sesuka kalian," ketus Hea, langsung memotong ucapan Reizo.


Reizo sangat terkejut saat masuk ke dalam, karena melihat mayat Tea masih segar. Akan tetapi seluruh badannya sangat pucat.


"Tea, bawa aku bersamamu. Tea, jawab aku. TEAA!! Ahh...."


"Tolong bawakan dia ke kamarnya, sekalian mengantarkan ke kamar kalian," ucap Hea.


Reizo pun menggendong Nea, sedangkan Lino hanya menatap Tea tanpa mengatakan sepatah kata.


"Sebenarnya apa yang sedang terjadi?" tanya Lino.


"Perlukah aku menjawab pertanyaanmu itu?" sahut ketus Zea dari balik tiang.


"Apa yang sedang kau lakukan kepadanya?" Melihat Zea menggigit Tea tanpa henti.


"Bukan urusanmu!! Harusnya aku yang bertanya kepadamu, ada urusan apa kau ke sini? Aku tidak pernah mengundangmu ke rumahku."

__ADS_1


"Bukankah wajar calon suamimu datang melihatmu?"


"Leluconmu sungguh tak lucu."


"Aku tidak bergurau, itulah kenyataannya."


"LINO!!" bentak Zea bersamaan dengan suara petir.


"Tenangkan dirimu, Zea." sahut dingin Lino.


"Apakah aku bisa terlihat tenang dengan keadaan ini? Aku bukan manusia mau pun drakula, tapi aku masih memiliki hati dan a–aku...."


"Menangislah."


Ucap Lino membuat Zea terkejut dan menatap Lino dengan tatapan seperti anak anjing yamg kehilangan ibunya.


"Menangislah, sekarang tidak ada yang mendengarkanmu."


Sambung Lino bersamaan dengan turunnya hujan yang sangat deras dengan petir yang tiada henti.


"Kau... kau sangat bodoh!!" Zea langsung meninggalkan Lino ke halaman depan rumahnya.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTENYA KAK


MOHON MAAF KALO ADA KATA TYPO ATAU KURANG DI MENGERTI


JANGAN LUPA KLIK ❀️ YAA 😊

__ADS_1


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


__ADS_2