THE DEVIL PSYCHO

THE DEVIL PSYCHO
Sebuah Drama


__ADS_3

Saudari kembar Zea berserta Lino dan sekretarisnya pun kembali ke tempat duduk mereka. Terlihat jelas wajah Lino sangat di penuhi dengan pertanyaan.


"Berhentilah menatapku seperti itu. Kau bisa jatuh cinta denganku nantinya," goda Zea yang sadar sedang ditatap Lino.


"Kalau begitu aku akan melihatmu terus," sahut Lino menambah tatapannya tersebut.


"Bisakah aku bunuh dia, Hea?" bisik Zea.


"Kalau bisa aku yang membunuhmu!!" seru Hea.


"Apa yang sudah kau lakukan tadi, Zea. Membuat dirinya semarah itu?" tanya Tea.


Setengah jam yang lalu. Saat Zea mencekik leher Kapila.


"ZEA!! HENTIKAN ITU!!" hardik Hea.


"Ouh... sorry. Apakah sakit?" tanya Zea, setelah melepaskan tangannya dari leher Kapila. Karena hardiknya Hea.


"Sorry Sister," sambung Zea tersenyum dan kembali ke tempat duduknya.


"Wah... Nona Zea. Apakah, Nona, itu titik lemahmu?" tanya Kapila dengan suara masih serak-serak.


"Kau salah, Tuan. Jika kau membunuhku, belum tentu dia membunuhmu juga. Zea kami tidak memiliki titik lemah," jawab Hea membuat Anna dan Miren, terkejut.

__ADS_1


"Betulkah?"


GEDUBRUG.... Kapila mencekik Hea seperti yang di lakukan Zea tadi. Tapi kali ini Kapila mencekiknya hingga pingsan.


Tetapi Zea tak berbuat apa-apa, dia hanya melihat Kapila melakukan hal itu dengan wajah datar dengan beberapakali menguap.


"Ini sangat membosankan," ucap Zea sembari menyuap makanannya.


"Ohh iya. Walaupun kau membunuhnya, dia tak akan mati. Pergilah sebelum aku memulai permainan ini," sambung Zea, sembari mengeluarkan seperempat kekuatannya. Kekuatannya tersebut membuat ketiga saudara itu tak bisa bernapas dengan benar.


"Arghh!! Aku benci dengan kekuatan ini. Hal yang lebih aku benci adalah tak bisa menggunakan kekuatanku kepadanya!!" gumam kesal Kapila.


"Silahkan pergi para tamu tak di udang," lanjut Zea sembari membukakan pintu keluar.


"Wah... kalau aku jadi kau, akan aku gulung-gulung dia sekarang," sahut Nea melahap makanan yang baru diganti, karena makanan yang tadi sudah dingin.


"LANJUTKAN SAJA MAKANAMU, BODOH!!" emosi Tea.


"KAU LEBIH BODOH DARIPADA AKU!!" sahut Nea.


" BISAKAH KALIAN TAK BERTERIAK SAAT BERTENGKAR!!" tegur Hea penuh emosi.


"Ahh... telingaku sakit mendengar teriakan kalian," ucap Zea sembari menutup telinganya dengan kapas.

__ADS_1


"AAKKHHH!!" Hea, Nea dan Tea, bersama-sama berteriak di telinga Zea.


"Sepertinya saat kita mendarat aku harus meriksa telingaku," ucap Reizo sudah tak tahan lagi dengan perdebatan keempat saudari tersebut.


Lino hanya tersenyum dan tak melepaskan tatapannya itu kepada Zea.


"Aku tak tahu sebenarnya siapa dirimu. Kau sangat misterius dan menyimpan banyak rahasia, Zea," gumam Lino dalam hati.


Setelah beberapa jam perjalan akhirnya mereka mendarat di bandara italia. Saat turun beberapa mobil sudah berderet di depan pesawat dengan banyak pengawal.


"Selamat datang, Tuan Lino," ucap serempak para penjaga tersebut.


"Wah... mengapa kita tak pernah di sambut seperti itu? Nanti saat kita kembali lagi kesini akan kusuruh Si Tua itu menyambut kita seperti ini. Ehh... tapi ini terakhir kalinya aku akan kesini. Aku tak mau bertemu dengan Si Tua itu lagi. Aku benci mer...." ocehan Zea tak ada hentinya.


"Berhentilah, OMONG KOSONGMU ITU!! BODOH!! PLAK!!" Hea memukul kepala Zea.


"Akkhh!! Tolong... aku disiksa. Aku akan mati, aakkhh!!" gurauan Zea.


"Tinggalkan dia. Biarkan dia pulang dengan berjalan kaki saja," sahut Nea sembari menarik Tea yang tak tega melihat Zea, dianiaya oleh kedua saudarinya.


"Zea!!"


"Tea!!"

__ADS_1


Sebuah drama yang mengharukan tersebut membuat beberapa pengawal Lino mengeluarkan air mata. Reizo terhening melihat kelakuan keempat saudari tersebut.


__ADS_2