THE DEVIL PSYCHO

THE DEVIL PSYCHO
Kedekatan dengan perkelahian


__ADS_3

Mentari telah datang bahkan sudah siang hari, Hea berkeliling rumah dengan wajah cemas. Semua orang bingung melihat Hea tak berhenti mondar mandir.


"Hea, apakah kau kehilangan sesuatu?" tanya Elena.


"APA KALIAN TIDAK KHAWATIR ZEA–ZEA TIDAK ADA DI KAMARNYA," hardik Hea sangat frustrasi mencari Zea entah ada di mana.


"Zea hilang? Bukankah dia ada...."


"Dia di kamarku," sahut dingin Lino membuat memotong perkataan Elena.


"Kau!! Kau apakan dia, hah!!" Hea melakukan peregangan tangan hendak menghantam Lino.


"Haha... Sayang, bukankah kau harus membangunkan Zea."


Ucap Elena membuat Hea langsung terhenti dan berlari ke kamar Lino. Lea menghampiri Lino dengan membawa sebuah pisau.


"Lea, bisakah kau membantu kepala pelayan membawakan makanan ke sini." Milan menarik pisau yang di genggam sangat kuat oleh Lea.


Lino hanya memasang wajah datar dan dinginnya tersebut. Lalu Nea dan Tea mendekatinya.


"Apakah kalian tadi malam? Hehehe...."


"Apakah, Zea sangat memuaskan? Hehe...."


Tanya Tea dan Nea, membuat pipi Lino memerah tetapi dia menahannya dengan wajah datarnya.


"Haha... Tea, Nea, kalian mengganggunya," ucap Elena dengan senyuman yang terpaksa.


Lino mengingat yang terjadi tadi malam. Tiba-tiba saja Zea berada di sampingan dengan tertidur pulas, tetapi saat Lino hendak bangun Zea menarik Lino dan menjadikannya sebuah guling.

__ADS_1


Lino merasa tubuhnya sangat panas dan menaikkan suhu ac, dia tidak bisa tidur hingga subuh. Saat subuh Zea melepaskan pelukannya dan menarik selimut yang di tindih Lino.


"Lino, mengapa wajahmu memerah? Lalu mengapa kau memiliki mata panda? Apakah kau begadang tadi malam?" tanya Reizo yang baru saja tiba dan baru bangun dari pingsannya.


"Bisakah kau tutup mulutmu itu!!" ketus Lino.


"Aw... mengapa kau marah denganku? Salahku apa?" gumam Reizo sembari menuangkan air ke gelasnya.


"Kau sangat lemah!!" bisik Tea melewati Reizo.


"Kau seperti bencong yang mangkal di lampu merah, hehe...," lanjut Nea membisikkan Reizo.


Reizo merasa harga dirinya telah hancur dan di injak-injak saat mengingat kejadian kemarin. Bahkan dirinya hampir buang air kecil di celananya.


Semua sudah ada di meja makan, mereka segera melahap makanan. Lino tak henti-henti menatap Zea sembari menyantap makanannya. Zea hanya memainkan makanannya dengan sendoknya.


Tatapannya yang kosong membuat Hea semakin khawatir, Hea menyenggol Tea dan memberikan kode mata. Kemudian Tea membisikkan Elena, lalu Elena memberitahukan Milan.


"Tidak. Aku hanya belum lapar. Kalian bisa melanjutkan makan tanpaku, aku ingin mencari angin dahulu." Zea menyantap sesuap makanannya lalu pergi meninggalkan meja makan.


Di sepanjang jalan Zea mencoba mengingat mimpinya yang samar-samar tersebut. Dia hanya melihat tangan yang penuh darah dan suara yang dia kenali. Zea juga memikirkan mengapa setelah bangun dari tidurnya di menghampiri Lino dan membuat dirinya tidur hingga siang.


Zea memasangkan keamanan ke seluruh kastil agar kejadian kemarin tidak terulang lagi. Setelah memasang segel keamanan Zea jongkok di tepi danau dan melihat bayangan wajahnya.


Zea melihat Lino datang dari bayangan yang ada di air. Lalu bertanya "Apa yang kau lakukan?"


"Tidak ada. Aku hanya di suruh menemui dengan membawakan buah dan juz ini. Makanlah dan berhenti membuat keluargamu khawatir," ketus Lino sangat dingin.


"Peduli apa kau denganku!!"

__ADS_1


"Bisakah kau tidak membuat masalah lagi!!' Lino menarik Zea yang hendak pergi hingga terduduk di kursi.


"Kau mau mati? Beraninya kau menyentuhku!!'


"Bukankah kita sudah tidur dua kali? Bukankah itu sudah cukup untuk mengatakan kita dekat."


"Berhentilah membicarakan itu!!"


"Dan berhentilah membuat orang mengkhawatirkan dirimu dan segera habiskan ini. Kau membuatku muak!!"


Setelah berkata kasar seperti itu Lino meninggalkan Zea. Tentu saja perkataan Lino tersebut membuat Zea emosi.


"Yaakk!! Berhentilah bersikap dingin seperti itu!! Ingatlah kejadian kemarin kau tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan berbicara pun kau tidak bisa. Yaakk!! Jangan mengabaikan, LINO!!"


"Kau lebih berisik dibandingkan dengan seekor anjing!!"


"Anjing? Apa dia mengatakan diriku seekor anjing."


Wajah Zea memerah, dia mengira Lino mengatakan dirinya imut seperti anak anjing. Tetapi sebaliknya Lino mengatakan seperti itu karena Zea berisik seperti anjing yang menggonggong tiada henti.


"Hehe... mereka pasangan yang serasi," ucap Elena melihat dari balik tirai dengan senyuman gembira.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAKNYA HYUNG. BERUPA LIKE, KOMEN DAN VOTENYA


MAAF KALO ADA KATA TYPO ATAU DIKURANG MENGERTI


JANGAN LUPA KLIK ❀️ NYA JUGA YAA β˜ΊοΈπŸ‘Œ

__ADS_1


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


__ADS_2