
"Tea! Tea... TEA...."
Teriak Nea terbangun dari tidurnya.
"Nea, apa kau baik-baik saja?" tanya Hea yang terkejut.
"Akhh... kepalaku sangat pusing." Menindih kepalanya dengan tangan satu.
"Itu karena kau kurang makan dan tidur. Istirahatlah dahulu, karena kau tidak ingin makan jadi aku infus."
"Makan apa kita hari ini? Tea mana? Tea? Akhh... Tea... aku harus menjaga Tea." Nea melepaskan infusnya dan mengamuk hendak turun ke bawah.
"Nea, tenanglah."
"Lepaskan aku, Hea...."
"Lepaskan aβaku."
Nea memberontak dan akhirnya terlepas dari dekapan Hea, lalu bergegas turun ke bawah. Di sisi lain, Zea terduduk karena sudah tak berdaya, air matanya terus mengalir dan dia menahan agar suara tangisannya tak keluar.
"Kenapa ini harus terjadi? Mengapa?" Zea menatap langit yang di penuhi kilatan petir.
"Masuklah," ucap Lino membawakan payung dan handuk.
"Pergilah!!"
"Bodoh!!" Lino pun memberikannya handuk dan memayunginya, serta mendekapnya.
"Lepaskan aku, Lino!!"
"Diamlah!! Sudah tidak memiliki tenaga untuk jalan sendiri, tapi masih saja tidak ingin pertolongan dari calon suamimu."
"Bisakah kau berhenti mengatakan hal itu?"
"Bukankah itu kenyataan? Kita tidak bisa membantahnya."
"Baiklah, tolong bawa aku ke kamar," ucap Zea dengan suara kecil.
"Aku tidak bisa mendengar perkataanmu, hujannya dangat deras," sahut Lino dengan senyum tipis.
Tetapi, Zea hanya menatapnya dengan tatapan sayu yang sudah tak berdaya. Lino tak sanggup melihat tatapannya tersebut.
__ADS_1
"Baiklah, Nyonya Zea."
Lino pun menggendong Zea dan menutup kepala.Zea menggunakan handuk. Kedua tangan Zea melingkar di leher Lino, mereka berdua pun menuju ke kamar Zea.
"Sangat harum." gumam Zea dalam hati, mengendus-endus dada Lino.
"Itu cukup menggelikan," ucap Lino membuat Zea terkejut dan terhenti.
Lino membuka sedikit handuk yang menutupi kepala Zea, lalu berkata, "Wajahmu sangat merah, apa kau malu?"
"Berhentilah menggodaku, Lino!!" gertak Zea dengan suara lemah lembut karena sudah tak memiliki tenaga.
"Kau sangat berbeda saat seperti ini, membuatku...."
"Berarti saat seperti biasa kau tidak menyukaiku?" tegas Zea membuat perkataan Lino terhenti.
"Aku menyukaimu bagaimana pun sifatmu."
"Berhentilah, menggodaku!! Lalu segera turunkan aku, apa kau ingin masuk ke kamar mandi juga?"
"Tentu saja, bukankah kau tidak memiliki tenaga? Aku bisa membantumu mandi." Lino tersenyum.
"Kau sudah gila. Cepat turunkan aku!!"
"Jangan di kunci pintunya!!" tegas Lino, tetapi Zea mengabaikan ucapan Lino dan tetap mengunci pintu.
Sembari menunggu Zea, Lino menyiapkan baju Zea yang cukup tertutup untuk menghangatkan tubuhnya. Lino cukup gelisah karena Zea yang tak kunjung keluar dari kamar mandi sedari tadi.
"Zea, apa masih lama?" tanya Lino di iringi ketukan pintu.
"Sedikit lagi," sahut Zea.
"Apa-apaan perkataanya itu," gumam Lino.
GEDUBRAKKK!!! Suara jatuh dari kamar mandi membuat Lino terkejut dan mendorong pintu dengan paksa hingga membuat engsel pintu terlepas.
"Zea!!" panggil Lino melihat Zea terbaring di lantai.
"Akhh!! Kepalaku," ucap Zea memegang kepalanya, lalu melihat tangannya ada darah.
"YAKK!!"
__ADS_1
Gertak Lino, membuat Zea sangat terkejut. Tetapi karena tak memiliki tenaga dia hanya bisa menatap Lino dengan tatapan sayu seperti anak anjing. Lino menutup matanya dan menghela napas sebentar, lalu membantu Zea berdiri dan membawanya ke kasur.
"Biar aku lihat lukanya," ucap Lino dengan lembut, sembari mencari lukanya dan mengelap darah yang ada di kepala Zea.
Zea tersipu dan membuat pipinya merona dengan sikap Lino yang sangat lembut, serta wajahnya yang terlalu dekat dengannya.
"Lino, apa kau tidak suka dengan wanita kasar?" tanya Zea tanpa dia sadari.
Lino sedikit terkejut, lalu menatap dan memegang wajah Zea yang mungil tersebut dengan kedua tangannya.
"Tanganmu sangat hangat," sambung Zea.
"Aku menyukai wanita yang lembut dan ramah," sahut Lino, membuat wajah Zea murung.
"Tetapi, jika wanita itu dirimu, walaupun kau pembunuh atau bukan takdirku, aku tetap menyukaimu," sambung Lino, lalu mengecup kening Zea.
Mendengar hal tersebut, membuat hati Zea tersentuh. Senang, malu dan terharu menyatu dari dirinya, tetapi semua buyar saat Zea melihat baju dan pakaian dalamnya sudah tersedia di sampingnya.
"Lino, apa kau yang menyiapkan bajuku?" tanya Zea dengan tatapan tajam.
"Tentu saja aku, kalau bukan aku lalu siapa? Bukankah hanya ada aku saja di sini?" jawab Lino dengan polos.
"Lino, kau belum pernah di pukul oleh manusia setengah drakula bukan?"
"Sepertinya sudah per...."
Ucapan Lino terhenti saat melihat wajah Zea yang sangat menakutkan.
"ZβZeβZea...."
BUUKK.... Zea meninju perut Lino.
"Akhhh...."
"Kau sudah melihat dalamanku, dasar cabul!! LINOO!!!"
ππππ
JANGAN LUPA, LIKE, KOMEN DAN VOTENYA, AKAK
MAAF KALO ADA KATA TYPO ATAU KURANG DIMENGERTI
__ADS_1
JANGAN LUPA KLIK β€οΈ JUGA YA, KAKAK-KAKAK ππ
ππππ