
"Selamat datang, Tuan Alvano. Terima kasih telah datang ke kastil tua ini," ucap Elena dengan anggun.
"Siapa itu? Sangat cantik walaupun terlihat lebih tua dari diriku," bisik Reizo. Lino hanya diam memasang wajah datarnya.
"Whahaha... kakek tua, berapa tahun sudah kita tidak bertemu, hahaha...." Milan langsung menghampiri kakek Lino dan memeluknya dengan erat.
"Wah... laki-laki itu sangat kekar. Dia seperti raja kerajaan jaman dulu," ucap Reizo asal, Lino hanya diam saja dengan tatapan dingin.
"Whaha... Tuan Baccara, Anda masih terlihat bugar dan sehat. Whaha... lama tidak berjumpa, kau semakin muda saja, haha...." Kakek Lino kembali memeluk Milan lalu segera duduk.
Reizo terkejut dan hampir pingsan mengetahui Tuan Baccara tidak setua Kakek Lino. Sedangkan Lino sedikit terkejut dia hanya kebingungan dengan semua hal yang ada di hadapannya.
"Silahkan duduk," ucap Elena dengan senyuman manis, menyuruh Reizo dan Lino.
"Yaakk!! Anak nakal, kau tidak punya pantat hingga di suruh duduk baru kau duduk!!" tegur Kakek Lino.
"Aku masih punya sopan santun, tidak sepertimu!!" ketus Lino sembari duduk dengan wajah datar dan dingin.
"Anak kurang ajar!!" Kakek Lino memukuli Lino.
"Haha... siapa dia, Alvano?" tanya Milan.
"Hah... anak kurang ajar ini, dia adalah cucuku, haha...," jawab Kakek Lino.
"Mengapa kau memanggilnya Alvano, Tuan Baccara?" tanya Lino.
"Bukankah itu memang namanya? Atau dia sudah menggantikan namanya? Hei... kakek tua mengapa kau tidak memberitahukanku, kalau kau menggantikan namamu!!" ketus Milan.
"Haha... aku tidak bisa menceritakan semuanya ke cucuku. Tetapi kau malah membongkar rahasiaku, haha... kau sangat bodoh Bacarra, haha...." Kakek Lino memukuli kepala Milan dengan tawaannya yang tak henti-henti.
__ADS_1
"Haha... aku tidak tahu kau merahasiakan itu, haha...." Milan membalas pukulan Kakek Lino di bagian dada belakangnya hingga dirinya batuk-batuk.
"Sudah-sudah, kalian terlalu berlebihan. Hal ini bisa kita bicarakan baik-baik dengan anak-anak," sahut Elena menghentikan gurauan Kakek Lino dan Milan.
"Ahh... membicarakan anak-anak, di mana anak kalian aku tidak melihatnya sama sekali?" tanya Kakek Lino melihat sekeliling.
"Ahh... aku hampir lupa dengan mereka. Akan aku panggilkan mereka, sebentar." Elena bergegas menuju lantai dua dan membawa keempat anak angkatnya.
"Maaf menunggu lama. Perkenalkan ini anak-anak kami," ucap Elena dengan senyuman yang sangat bahagia.
"Empat? Eh... bukannya anaknya hanya satu? Mengapa sekarang ada empat?" Reizo sangat kebingungan.
"Bukankah, kalian saudarinya, Zea?" tanya dingin Lino dengan tatapan yang mencurigakan.
"Jika kami saudarinya Zea, lalu mengapa? Apakah hal itu mengganggumu?" ketus Hea.
"Hea!! Nada bicaramu kasar sekali, Nak!!" tegur Elena. Hea langsung menundukkan kepalanya.
"Apakah kakek tua itu yang bernama, Alvano? Wahh dia sudah sangat tua," ucap Tea.
"Bukankah, umurnya sudah 200 tahun? Dia bisa di bilang cukup muda sekarang, haha...," sambung Nea.
Ucapan Tea dan Nea membuat emosi Lino menjadi-jadi, karena kebingungan yang selalu saja muncul secara bersamaan. Lino tidak bisa berpikir dengan semua perkataan yang masuk ke dalam otaknya.
"Whaha... Baccara anakmu banyak sekali, haha... reproduksimu sangat bagus, haha...." Kakek Lino membuat candaan agar suasana tidak menjadi tegang.
"Kami bukan anak mereka!!" sahut Hea, Tea, Nea bersamaan.
Ucapan tersebut membuat Kakek Lino langsung terdiam.
__ADS_1
"Haha... maafkan mereka. Mulut mereka semua tidak memiliki sopan santun, haha. Maafkan sikap kami, Tuan Alvano." Milan berdiri dan meminta maaf kepada Kakek Lino dengan sangat sopan.
"Wahh... kau tidak perlu seperti itu, duduklah... kau ini aku tahu keluarga kalian seperti apa, haha... lupakan semua itu," ucap Kakek Lino.
"Sepertinya semua perkataan kalian tidak bisa masuk ke dalam otakku. Hei, kakek tua, kau tidak ingin menjelaskan semua ini!!" ketus Lino.
"Hahaha... semangat anak muda memang sangat mengagumkan. Hei, kau anak muda, dengarkan perkataanku dengan seksama. Aku hanya akan menjelaskan intinya saja dan kau harus menyimpulkannya sendiri," ucap Milan sembari berjalan mendekati Lino.
"Kakekmu itu adalah lelehurmu, dia adalah Alvano yang sebenarnya. Kau tanya mengapa bisa seperti itu? Ya, semua itu karena kami membuatnya kembali muda. Jadi keluargamu dan keluargaku memiliki ikatan, Apakah kau sudah mengeri wahai anak muda?" jelas Milan lalu kembali ke tempat duduknya.
"Maafkan kakek, Lino. Kakek berbohong kepadamu," ucap Alvano dengan penuh penyesalan.
170 tahun yang lalu, saat Elena dan Milan datang ke italia, mereka tersesat dan tidak memiliki seseorang yang dikenal maupun sepersen uang. Saat itu kejayaan Alvano mulai melonjak, saat Alvano pulang dia melihat Milan dan Elena berteduh dari hujan di bawah reruntuhan bangun.
Alvano membantu mereka dan membawa mereka berdua pulang kerumahnya. Seiring berjalannya waktu kejayaan Alvano semakin besar karena di bantu oleh Milan dan Elena. Tetapi karena keserakahan orang-orang Alvano di culik dan di bunuh, untung saja Elena sudah mengetahui hal tersebut.
Dia dan Milan bergegas mencari Alvano, tetapi saat sampai Alvano sudah tidak sadarkan diri. Untungnya saja nyawanya masih ada dan Elena mengubahnya menjadi drakula untuk menyelamatkan Alvano.
Awalnya Alvano tidak bisa menerima dan tidak percaya akan adanya drakula, tetapi seiring jalannya waktu dan Elena membantu Alvano membiasakan dirinya hidup layaknya seperti manusia. Akhirnya Alvano menerima kenyataan dan hidup sampai sekarang. Walaupun dia tidak memiliki kekuatan yang besar, tetapi dia sangat bersyukur bisa hidup kembali.
Reizo yang mendengar penjelasan tersebut tidak bisa masuk di otaknya, dia sangat kebingungan hingga pingsan. Lino masih memikirkan perkataan itu dengan wajah tanpa eskpresi.
ππππ
JANGAN LUPA LIKENYA, HYUNGππ
JANGAN LUPA KLIK β€οΈπ
MAAF KALO ADA TYPO DAN KURANG MENARIKππ
__ADS_1
ππππ